Language :

LIGHTS SCHOLARSHIP 2017



LIGHTS SCHOLARSHIP 2017

LIGHTS (29 Juli – 12 Agustus 2017)

Living the Human Rights !

Oleh: Tiffany

“BECAUSE EVERY HUMAN MATTERS”

Salam sejahtera untuk kita semua, nama saya Tiffany. Saya mahasiswi di Universitas Internasional Batam, fakultas S1 Ilmu Hukum. Pengalaman saya dari awal sampai saya berhasil terpilih menjadi salah satu mahasiswa yang mendaftar dalam beasiswa penuh program LIGHTS 2017 di Jakarta, akan saya ceritakan berikut ini.

Saat pertama kali saya mengetahui mengenai program LIGHTS 2017, saya sangat tertarik karena hal itu menginspirasi saya untuk mengetahui lebih banyak tentang Hak Asasi Manusia lebih dalam. Tentunya, dalam mendapatkan beasiswa penuh harus memenuhi persyaratan-persyaratan, yaitu mengumpulkan 2 essai dengan tema yang berbeda. Essai pertama saya berjudul “Pemutusan Hubungan Kerja di Kota Batam – Hak Asasi Manusia: Rechtfictie?” yang berisi dan mengangkat isu-isu yang berkembang di Kota Batam. Dan essay kedua saya berjudul “LIGHTS 2017: Lingkunganmu itu Penting!” yang berisi hal-hal yang akan saya lakukan apabila saya berhasil mendapatkan beasiswa penuh tersebut. Adapun, tentunya essay yang saya kirimkan juga dibantu untuk direview oleh salah satu co-coach yaitu Bu Putri Andini dan Bu Winsherly Tan. Sampai akhirnya sehari sebelum Pengumuman Peserta Terpilih LIGHTS 2017 – LBH Masyarakat, saya pun merasa tidak mungkin terpilih karena pendaftaran ini dapat dilakukan oleh semua jurusan, fakultas, tingkatan, dan di seluruh daerah di Indonesia. Namun, saya percaya dengan attitude yang positive apabila saya tidak terpilih maka ini menjadi sebuah pembelajaran sudah melakukan yang terbaik.

Pengunguman pun disiarkan melalui website www.lbhmasyarakat.org pada tanggal 17 Juli 2017. Saya juga telah dihubungi melalui seorang narahubung karena terpilih pada program ini. Perasaan yang bergejolak itu sangat bercampur, mengenai rasa bahagia, rasa tanggung jawab moral yang dipercayakan kepada saya untuk diemban, bagaimana saya akan mengikuti kegiatan LIGHTS 2017, menyerap ilmu, dan pengalaman yang akan saya peroleh selama mengikuti kegiatan LIGHTS 2017. Hal-hal diatas membuat saya lebih berkomitmen dalam menjalankan kegiatan, acara, dan tugas yang diberikan kepada saya saat mengikuti kegiatan LIGHTS 2017.

Selama saya mengikuti kegiatan sekolah HAM dalam LIGHTS 2017 ini, saya mendapatkan pengalaman yang sangat beragam. Bertemu dengan teman-teman baru dari lintas daerah dan jurusan, yaitu Alfhatin Pratama, Alinna Izmi Riyanto, Muhammad Al Ayyubi, Muhammad Rifqi Darmawan, Muhammad Hida L., Nadiah Agustin, dan Sonia Chandra; teman-teman dari Jember, yaitu Trisna Dwi Yuni Aresta (ketua kelas), Vikriyah, Yocki, dan Haikal Al Farizi; dan teman-teman dari Luar P. Jawa, yaitu Adi Rahmad – Pontianak, Aris Rinaldi – Aceh, Raniansyah Rahman – Makassar. Kami juga memiliki penanggung jawab, yaitu Yosua Octavian (kepala sekolah) dan Gilbert Lianto (wakil kepala sekolah-Alumni UIB 2015).

Saya merasa beruntung, dipercayakan menjadi satu satunya peserta wanita pertama yang menerima beasiswa penuh dari Luar P. Jawa di LIGHTS 2017. Saya dibukakan pula wawasan mengenai “Tantangan Perlindungan HAM di Indonesia”, dimana ketepatan waktu menjadi salah satu hal kecil yang menjadi acuan untuk para WNI lebih maju di Indonesia. Saya juga mempelajari mengenai “Hak atas Kesehatan” dimana itu merupakan salah satu tanggung jawab pemerintah. Pada suatu kesempatan saya juga bersama teman-teman penerima beasiswa LIGHTS 2017 mengunjungi KPSI (Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia), dimana saya juga dijabarkan mengenai berbagai macam gangguan jiwa dalam diri manusia. ODGJ (Orang dengan Gangguan Jiwa) sebagai korban diskriminasi dan pelanggaran HAM ini terkadang terluput dari perhatian kita, saya juga melihat film dokumenter tentang “Heaven for Insanity” dan saya dijelaskan pula, dimana prespektif untuk para ODGJ ini juga kurang benar karena para ODGJ diperlakukan kurang manusiawi. Seharusnya para ODGJ dapat diberdayakan, diberi pengobatan yang tepat, dan diberi pengetahuan-pengetahuan untuk menunjang kesadaran berpikir para ODGJ.

Pada kesempatan lain saya juga dipertemukan dengan para ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) di kantor KOMNAS Perempuan. Pemateri memaparkan mengenai HAM, Jender, dan Sesi Sharing Perempuan dengan ODHA. Salah seorang role model ODHA juga menceritakan bagaimana perlakuan orang-orang terhadap ODHA, diperlakukan secara tidak adil, ada perlakuan dengan kekerasan fisik, dan kekerasan psikis yang menyebabkan ODHA tidak percaya diri dan membungkam diri mereka. Namun, Komnas Perempuan ada dan menjamin hak-hak mereka karena bagaimanapun juga mereka memiliki derajat yang sama dalam pemenuhan hak sebagai manusia.

Perjalanan saya pada sesi pengenalan Komunitas dan Paralegal Kaliadem, dimana daerah tempat mereka tinggal yang akan di reklamasi sebenarnya memang melanggar hukum dan para masyarakat di Kali Adem menyadari hal tersebut. Namun, yang mereka sayangkan adalah tindakan pemerintah terhadap mereka. Mereka berharap agar suatu saat pemerintah selain memberikan mereka tempat tinggal yang baru yaitu Rumah Susun Sederhana Sewa (RUSUNAWA), pemerintah juga dapat memfasilitasi dan memberi mereka pelatihan keterampilan lain, selain membuat jaring, dan memancing ikan untuk menyesuaikan diri di lingkungan sekitar. Karena di Kaliadem adalah tempat mereka mencari nafkah turun-temurun. Maka mereka berharap ada kompensasi yang terbaik untuk kedua pihak.

Perlindungan HAM juga harus ada bagi anak, apalagi anak yang berhadapan dengan hukum. Disesi ini, pembelajarannya dilakukan secara atraktif dan mengupas sedikit mengenai Undang-Undang Sistem Peradilan Pidana Anak. Dimana, salah satu perlindungannya itu anak berhak mendapatkan pendampingan jika berhadapan dengan hukum. Selanjutnya, kami mengunjungi  Arus Pelangi, kami dipaparkan juga mengenai LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) rights yang patut diperjuangkan. Para LGBT juga menjadi kaum minoritas, namun mereka tidak meminta untuk diperlakukan secara khusus. Yang para kaum LGBT inginkan hanyalah mereka tidak mendapatkan diskriminasi. Karena terkadang dalam beberapa aspek mereka diperlakukan secara tidak adil dan terkadang dekriminalisasi. Karena hal tersebut, perlu dilakukan penerimaan dalam hukum bagi kaum LGBT agar mereka mendapat pemenuhan hak-hak mereka sebagai WNI.

Setelah berkutat dengan minggu pertama dan pelajaran-pelajaran pada hidup dalam HAM yang dibagikan oleh para pemateri dalam diskusi yang telah dilaksanakan, saya mengikuti kembali dalam kegiatan LIGHTS 2017. Materi yang dibagikan yaitu mengenai “Kampanye HAM”, dimana sebagai seorang mahasiswi yang tentunya harus dapat berpikiran luas dan merangkul segenap aspirasi dari kalangan mayoritas maupun minoritas, Kampanye HAM dapat menjadi salah satu sarana untuk menyuarakan aspirasi.

Selanjutnya, saya dan teman-teman dari LIGHTS 2017 mengunjungi The Wahid Institute, dimana pemateri membagikan mengenai “Toleransi pada Perspektif Hukum dan HAM”. Djelaskan oleh pemateri, mengenai Indonesia adalah bangsa yang meganut ideologi Pancasila sebagai dasar negara. Pluralisme sangat dibutuhkan dalam wilayah NKRI yang mana terdiri dari berbagai macam suku, ras, dan agama; dari Sabang sampai Merauke; dari Miangas sampai Rote. Tentunya, toleransi menjadi ujung tombak persatuan di Indonesia.

Ingat kasus Fidelis Ari? Dimana ia nekat menggunakan dan menanam ganja sebagai salah satu cara pengobatan untuk istrinya yang mengidap penyakit syryngomyelia. Hal ini menjadi catatan penting dalam pembahasan materi “HAM dan Narkotika”. Dimana, seharusnya pemerintah lebih meluaskan wawasan dan kerangka berpikir untuk melegalkan penggunaan narkotika dalam hal medis. Adapula, dipaparkan oleh pemateri yang bernama Yohan Misero, mengenai pengguna narkotika di Indonesia yang tidak berkurang secara signifikan dengan adanya hukuman pidana penjara bagi para pengguna, yang malah berujung pada penjara yang over-kapasitas. Menurut data-data yang telah disampaikan, ada baiknya para pengguna dilakukan pendekatan-pendekatan yang dapat dilakukan oleh negara untuk bidang narkotika, yaitu :

  1. Supply Reduction.
  2. Demand Reduction.
  3. Judicial Intervention.
  4. Harm Reduction.

Dapat juga menerapkan rezim regulasi, contohnya regulated market (dimana pemerintah mengendalikan pasar, supply and demand, seperti siapa yang diizinkan memasuki pasar dan/atau berapa harga dapat dikenakan). Hal-hal diatas dapat diterapkan dengan edukasi penelitian ilmiah secara jujur, terbuka dan baik.

Over Criminalization yang mana, dibawakan oleh pemateri Anugerah Rizki Akbari (Dosen STIH Jentera) dengan judul Controlling the society through Criminalization: The Case of Indonesia. Dijelaskan pula, ada 563 Undang-Undang setelah reformasi mulai dari tahun 1998-2014. Dimana UU baru di Indonesia membuat lebih banyak bentuk pemidanaan yang lebih keras dibandingkan dengan sumber hukum buatan Belanda, yang dalam artian politik hukum pidana Indonesia: Over-kriminalisasi.

Keesokan harinya, kami dijelaskan mengenai Bantuan Hukum dan Pemberdayaan Hukum Masyarakat. Gerakan bantuan hukum yang mendasari pemberian bantuan hukum, seperti di Indonesia, yaitu legal opinion. Pengaturan bentuan hukum dapat melalui KUHAP, UU Bankum, UU Advokat, dan peraturan perUUan lainnya. Selanjutnya, kami dipaparkan materi tentang Transitional Justice, yang artinya Keadilan Transisional. Prinsip-prinsip yang dapat diterapkan dalam keadilan transisional, yaitu proporsional, kausalitas, upaya penggantian hak secara penuh, dan jaminan hal(pelanggaran HAM) tsb tidak terulang.

Pada keesokan harinya, kami dipaparkan materi mengenai Un-fair Trial, yang di paparkan oleh pemateri Raynov Tumorang (Research Fellow and Death Penalty Team at Reprieve), yang menjelaskan mengenai Right to a Fair Trial, hak-hak dalam tahapan sebelum dan sesudah persidangan.

Selanjutnya, kami para mahasiswa/i program LIGHTS 2017 mengikuti acara kamisan, yang digelar di Taman Aspirasi, didepan Istana Negara. Yang berisikan mengenai pembebasan terhadap impunitas oleh para pelanggar HAM yang dilindungi itu harus dihapuskan. Itu yang menjadi salah satu sorotan dalam setiap aksi kamisan. Saat kami mengikuti acara kamisan tersebut, itu adalah aksi kamisan yang ke-502. Pada harapan kedepannya, tidak perlu ada lagi aksi-aksi kamisan jika pemerintah mau bersikap tegas dan adil pada rakyatnya.

Kuliah penutupan LIGHTS 2017 “The Future of Human Rights Work in Indonesia”, yang dipaparkan oleh Asfinawati, Febriana Firdaus, dan Puri. Yang memaparkan mengenai begitu banyak ketidak-adilan pada aspek HAM yang terjadi di dunia, khususnya Indonsia. Dimana kita para generasi muda harus membuka mata dan melawan ketidak-adilan. Karena bisa saja yang terjadi pada mereka terdahulu, dapat terjadi pada kita dimasa yang akan datang.

Pastinya kegiatan LIGHTS 2017 di Jakarta sangat berarti, bermanfaat dan membuka wawasan saya lebih luas lagi di bidang Hak Asasi Manusia bagi saya.

Maaf jika dalam penyampaian ada kata-kata yang menyinggung, sekian dan terima kasih.

“Humanity is not mine and yours but ours. Because every human matters.”

-LBH Masyarakat