Language :

KAPAL PEMUDA KEPRI 2017 Perjalanan Menggapai Negeri Bahari



KAPAL PEMUDA KEPRI 2017  Perjalanan Menggapai Negeri Bahari

KAPAL PEMUDA KEPRI 2017

Perjalanan Menggapai Negeri Bahari

(Oleh. Muhammad Ari Fahza)

_MG_3839Berawal dari sebuah direct message dari instagram, disitulah petualangan ku di mulai. Ternyata DM tersebut adalah feedback dari pendaftaran diriku mengikuti program tersebut. Sebuah kesempatan yang diberikan dan pasti tidak akan kusia-siakan. Menaiki KRI Kapal Republik Indonesia merupakan hal yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Sebuah kapal dengan nilai sejarah yang tinggi.

Pukul  7.00 pagi aku sudah bersiap berangkat menuju punggur yang merupakan pelabuhan yang akan membawa kami ke tg. Uban, tempat dimana kami semua kontingen dari seluruh kota di Provinsi Kepri dikumpulkan untuk di data kembali dan cek kesehatan sebelum kami berlayar. Disana kami bertemu teman baru, baik yang sebaya, adik kelas bahkan yang lebih tua sekalipun. Dari latar belakang yang berbeda dan kondisi yang berbeda juga. Terlihat jelas memang untuk teman-teman yang lolos melalui program seleksi PPAN (Pertukaran Pemuda Antar Negara) dan KPN (Kapal Pemuda Nusantara) dan mana yang jalur lain. Ada beberapa jalur seperti, mahasiswa umum, paskibraka, pramuka, organisasi pemuda, bahkan melalui jalur kreatif. Oh iya, aku sendiri melalui jalur kreatif.

Hari kedua kami sudah menaiki kapal, namun sebelumnya kami dapat wejangan dari Bapak Gubernur dan dilepas langsung oleh beliau beserta jajarannya. Satu kalimat yang beliau ucapkan berulang-ulang yaitu “kami ingin pemuda di provinsi kepri dapat lebih tangguh dari kami, menjadi presiden atau apalah yang membanggakan negeri ini, dan salah satunya harus alumni KPK ini”. Sungguh motivasi yang sangat mengharukan sekaligus pecutan bagi kami. Awal pertama kali kami dikapal kami dikenalkan tentang alat-alat yang ada di kapal dan juga ruangan-ruangan yang ada. Sangat terlihat sekali kapal ini memang sangat tua, KRI Teluk Ende 517 merupakan kapal buatan Korea dan mulai beroperasi pada tahun 1981.

Hari ketiga, materi di atas kapal adalah pengalaman yang tidak akan dilupakan. Ombak seakan-akan menyatu dengan kami. Bagaimana naik turunnya gelombang membuat suasana materi agak sedikit terganggu karena ada beberapa teman kami yang mulai mual dan sakit. Namun kami tetap bersemangat dengan materi, materi kali ini yaitu tentang ketahanan bangsa dan juga radikalisme. Kami banyak belajar dari TNI AL dimana mereka tetap mempertaruhkan nyawa di lautan luas melindungi kita sebagai rakyat Indonesia. Namun terkadang kita tidak peduli sedikitpun tentang negeri ini. Aku belajar bahwa untuk mempertahankan suatu bang sa terkadang kita harus berkorban, para bapak-bapak TNI harus meninggalkan anak dan istrinya demi panggilan negeri tercinta melindungi bangsa ini dari ancaman-ancaman yang ada.

S__6422575Pagi yang cerah kami sudah berpakaian rapi dengan seragam khas biru bermotif batik orange. Kami sudah akan berlabuh di pulau anambas yaitu di terempa. Kami disambut dengan sangat baik dan meriah oleh Bapak Bupati Anambas dengan diiringi oleh drum band dan juga sorak sorai warga sekitar dan jajaran pemerintahan di sana. kehidupan disana sangat harmonis dan juga ceria. Mereka saling bergotong royong. Semua agama ada disana dan berdampingan dengan baik. Sungguh sangat Indonesia sekali. Kami disana mengikuti seminar bahari dan juga bakti sosial dibeberapa titik. Malam harinya kami tamah ramah dengan bapak bupati dan juga makan malam bersama. Tidak akan ada habisnya jika kita berbicara tentang Anambas. Kami melewati pulau bawah Kabupaten Anambas yaitu pulau paling tropis se-Asia Pasifik. Mesikipun kami tidak berlabuh namun kapten kapal menginstruksikan kepada nahkoda untuk mengelilingi pulau tersebut. Hati ini tidak bisa berkata-kata hanya ucapan takbir dan tasbih yang ada. Sungguh nikmat Tuhan mana lagi yang engkau dustakan? Suasana semakin ceria dan hangat dengan adanya sunset di sore itu.

Hari ke lima, hari Kebangkitan Nasional ke 107 yang jatuh pada tanggal 20 Mei 2017 tidak disia-siakan. Kami melakukan upacara bendera di tengah-tengah Laut China Selatan atau perairan Natuna sungguh hal yang tidak akan pernah saya lupakan di dalam hidup saya. Upacara hari itu seakan-akan merupakan momen paling bersejarah dalam hidup kami.

Hal yang paling tidak aku sukai yaitu perpisahan. Ya, jika ada pertemuan pasti ada perpisahan. Moment sedih ketika berpisah dengan teman-teman se-group dan juga berpisah dengan monster besar KRI teluk ende 517. Meskipun hanya 6 hari tapi ikatan kami sangat kuat. Makanan kapal khas ala TNI seolah sudah menyatu dengan perut kami. Air payau yang untuk mandi setiap harinya seolah sudah merindukan kami dan kantin kapal tempat yang paling sering kami kunjungi seakan akan memanggil kami untuk datang. Namun perpisahan ini bukanlah akhir tetapi awal dari sebuah perjalanan. Amanah yang dititipkan kepada kami akan kami tanggung sehingga provinsi Kepri yang merupakan provinsi maritim ini akan menjadi tonggak kebangkitan negeri.