Penulis : Haeruddin, S.Kom. MMSI
[Batam, 05 Maret 2025] – Alan Turing merupakan salah satu tokoh paling berpengaruh dari Inggris pada abad ke-20. Pada tahun 1936, ia mengembangkan konsep dasar komputer sebagai bagian dari upayanya untuk menyelesaikan permasalahan matematis yang dikenal sebagai Entscheidungsproblem.
Sumber: https://pesawaran.pikiran-rakyat.com/sains-pengetahuan/pr-3587321497/
Pada masa itu, para matematikawan berusaha menentukan apakah suatu pernyataan matematika dapat dibuktikan benar atau salah menggunakan langkah-langkah sistematis, yang kini kita kenal sebagai algoritma. Turing mengatasi tantangan ini dengan merancang sebuah model teoritis berupa mesin dengan pita tanpa batas, yang dipenuhi simbol sebagai instruksi bagi mesin tersebut untuk melakukan manipulasi simbol lainnya. Konsep ini, yang dikenal sebagai Mesin Turing Universal, menjadi dasar bagi komputer modern saat ini.
Melalui model tersebut, Turing membuktikan bahwa ada sejumlah masalah matematika yang tidak dapat diselesaikan menggunakan algoritma, sehingga menetapkan batas fundamental dalam komputasi. Ide ini dikenal sebagai Tesis Church-Turing, yang juga dipengaruhi oleh karya matematikawan Amerika, Alonzo Church. Turing kemudian melanjutkan studi doktoralnya di Universitas Princeton di bawah bimbingan Church.
Sumber: https://www.nationalgeographic.com/science/article/
Kontribusi Turing tidak hanya bersifat teoritis. Selama Perang Dunia II, ia bekerja sebagai pemecah kode untuk pemerintah Inggris, berusaha membongkar sandi dari mesin enkripsi Enigma yang digunakan oleh militer Jerman. Mesin ini berfungsi seperti mesin ketik yang menyandikan pesan dengan cara mengacak huruf dalam alfabet, menciptakan kombinasi enkripsi yang mencapai 159 miliar kemungkinan. Hal ini membuat upaya untuk memecahkan kode tersebut tampak mustahil.
Berdasarkan penelitian matematikawan Polandia, Turing dan timnya di pusat pemecahan kode Bletchley Park mengembangkan mesin bernama Bombe yang mampu menelusuri kemungkinan sandi dengan lebih cepat. Keberhasilan ini memberikan keuntungan strategis bagi Inggris dan sekutunya, mempercepat kemenangan perang dan menyelamatkan jutaan nyawa. Beberapa analisis memperkirakan bahwa tanpa kontribusi Turing, perang bisa berlangsung bertahun-tahun lebih lama.
Pasca perang, Turing terus memperdalam risetnya di bidang ilmu komputer. Ia turut serta dalam pembangunan komputer pertama yang benar-benar dapat digunakan. Namun, karyanya yang paling terkenal muncul pada tahun 1950, ketika ia menulis makalah berjudul “Apakah Mesin Dapat Berpikir?” Dalam makalah tersebut, ia mengusulkan prosedur yang kini dikenal sebagai Tes Turing, yaitu metode untuk menilai apakah sebuah mesin dapat meniru interaksi manusia secara meyakinkan. Konsep ini menjadi dasar bagi penelitian kecerdasan buatan, meskipun kini masih menjadi perdebatan di kalangan ilmuwan.
Dikenal sebagai bapak ilmu komputer modern, Alan Turing memberikan kontribusi luar biasa dalam berbagai bidang. Ia tidak hanya merancang fondasi komputer modern, tetapi juga memainkan peran kunci dalam pemecahan kode Enigma selama Perang Dunia II serta merintis konsep pengujian kecerdasan buatan melalui Tes Turing.
Editor: Gilang Ananda, S.Kom
Referensi :
Church, A. (1936). An unsolvable problem of elementary number theory. American Journal of Mathematics, 58(2), 345–363. https://doi.org/10.2307/2371045
Hodges, A. (2014). Alan Turing: The enigma. Princeton University Press.
Petzold, C. (2008). The annotated Turing: A guided tour through Alan Turing’s historic paper on computability and the Turing machine. Wiley.
Turing, A. M. (1950). Computing machinery and intelligence. Mind, 59(236), 433–460. https://doi.org/10.1093/mind/LIX.236.433