Written By Jodi Jodi

On Juli 8, 2021
  1. Venessa / 1941313 / Manajemen (MN)
  2. Reky Martin / 1941371 / Manajemen (MN)
  3. Hendro             / 1941371 / Manajemen (MN)
  4. Lydia Fangestu / 1941167 / Manajemen (MN)

Dosen Pembimbing : Dr. Johny Budiman,SE., SH., MM., M.Ak.

Adanya konotasi negatif di Indonesia yang menstigmatisasi pasien sakit jiwa. Akibatnya orang yang menderita penyakit jiwa menjadi enggan mencari bantuan karena takut dihakimi. Dengan kemudahan dan kenyamanan aplikasi telepon, orang- orang dapat didorong lebih jauh untuk mencari bantuan dengan kepastian bahwa data dan detail konsultasi mereka akan dirahasiakan, dan semuanya hanya di dalam telepon mereka daripada harus pergi ke klinik. Kedua, perawatan di klinik medis yang sebenarnya (dengan kantor fisik) relatif mahal, karena memperhitungkan biaya operasional; serta fakta bahwa mereka pada umumnya hanya memiliki 1 sumber pendapatan yaitu dari pasien itu sendiri. Karena PsyGo memiliki biaya operasional yang lebih sedikit, dan juga memiliki sumber pendapatan lebih dari 1 (plus pendapatan pendapatan iklan), maka harga setiap terapi dapat dipangkas agar lebih terjangkau. Hal ini semakin mendorong masyarakat untuk mencari pertolongan karena mereka tidak perlu lagi terlalu khawatir tentang mahalnya harga mencari pertolongan dari klinik medis konvensional.

Secara nasional, PsyGo juga menangani kekurangan terapis berlisensi. Seperti disebutkan di atas, rata-rata Indonesia hanya memiliki 1 psikolog berlisensi untuk setiap 300.000 hingga 400.000 pasien. Dengan aplikasi praktis yang membantu bertemu dengan psikolog dan pasien, pasien dari daerah terpencil sekarang dapat mencari bantuan dari psikolog berlisensi, dan psikolog juga dapat merawat lebih banyak pasien karena pasar mereka sekarang meluas ke seluruh Indonesia; bukan hanya pasien yang tinggal di daerah mereka. Sebagai seorang sociopreneur, setiap bisnis yang dibuat pasti ada latar belakang masalah sosial yang mendasarinya. Tidak terkecuali untuk PsyGo.

Masalah kesehatan jiwa merupakan masalah serius di Indonesia, termasuk di Jawa Timur, salah satu provinsi di Pulau Jawa. Berdasarkan survei nasional atau Riset Kesehatan Dasar, 1 prevalensi penyakit jiwa berat seperti skizofrenia dan gangguan psikotik lainnya di Jawa Timur adalah 2,2 per juta. Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan prevalensi nasional di Indonesia yang sebesar 1,7 per juta. Orang dengan gangguan mental berjuang untuk sembuh dari penyakit; Namun, mereka menghadapi stigmatisasi oleh masyarakat. Stigma adalah pelabelan negatif terhadap sekelompok orang tertentu, 3 yang dapat berdampak buruk bagi para penderita gangguan jiwa. Pertama, stigma membentuk citra buruk pada gangguan jiwa. Kedua, stigma juga membuat penderita gangguan jiwa kehilangan harga diri dan efikasi diri, serta mencegah mereka mencari pertolongan medis untuk kondisi klinisnya. Stigma dapat mengakibatkan diskriminasi terhadap penyandang gangguan jiwa dan mencegah mereka memperoleh dua peluang penting untuk mengejar tujuan hidup mereka: peluang kerja dan kesempatan untuk hidup mandiri dan aman. Sayangnya, stigma terhadap penderita gangguan jiwa ditemukan tidak hanya terbatas untuk populasi awam tetapi juga terjadi di kalangan profesional kesehatan seperti psikiater, psikolog, dan perawat yang bekerja dengan orang dengan gangguan mental.

Salah satu bentuk diskriminasi akibat stigma terhadap penyandang gangguan jiwa adalah praktik pasung. Pasung adalah praktik mengurung dan menahan yang sakit jiwa. Di Indonesia, pasung cukup umum. Riset Kesehatan Dasar Nasional1 mencatat 1.655 kasus pasung terhadap penderita gangguan jiwa di Indonesia. Selain itu berdasarkan data e-pasung tercatat 9 2.369 kasus pasung di Jawa Timur. Pasung lebih banyak ditemukan di pedesaan dan sering dilakukan oleh anggota keluarga dengan status sosial ekonomi rendah. Durasi pasung bisa berkisar dari beberapa hari sampai beberapa tahun. Alasan paling umum dibalik praktik pasung oleh keluarga penderita gangguan jiwa adalah keamanan, baik bagi pasien maupun masyarakat. Tetapi metode ini telah terbukti sebagai tidak efektif, karena kepopulerannya metode ini mendorong masyarakat untuk menjadi semakin takut untuk mencari bantuan untuk penyakit mental yang mereka alami.

Selain daripada itu, dari 9 juta kasus yang dilaporkan, lebih dari setengahnya adalah kasus dari anak di bawah umur, atau dewasa muda dengan rentang usia 17-24 tahun. Ini sekarang dianggap sebagai masalah serius yang mempengaruhi generasi baru bangsa kita; pemuda yang diharapkan mengambil alih bangsa kita; karena mereka dianggap sebagai pikiran yang lebih cemerlang dari bangsa kita. Membiarkan masalah ini tidak terpecahkan akan mempengaruhi bangsa kita secara keseluruhan karena generasi penerus bangsa kita akan kehilangan pemuda yang seharusnya mengambil alih bangsa kita. Oleh karena ketidakefektifan metode-metode penanggulangan penyakit mental di Indonesia, maka perlu adanya sebuah inisiatif untuk membangun metode baru. Sebagai seorang sociopreneur, yang dilakukan disini adalah membangun sebuah platform dimana semua masyarakat dari seluruh Indonesia dapat menikmati fasilitas konsultasi dari seorang psikolog yang berlisensi. Sebuah aplikasi dimana semua orang dapat menuangkan isi pikiran berat mereka pada psikolog berlisensi yang dapat menolong mereka sebelum mereka menjuru kepada tingkat penyakit mental. Ataupun bagi yang sudah memiliki tanda-tanda penyakit mental, juga sudah tersedia psikolog untuk mendeteksinya dan memberikan konsultasi yang dibutuhkan tanpa ketakutan untuk dihakimi ataupun diperlakukan secara tidak adil seperti metode pasung.

Tujuan dari dibangunnya PsyGo adalah menyelesaikan masalah sosial terkait jumlahnya penyakit mental yang ada di Indonesia. Di Indonesia, penderita gangguan jiwa sering mengalami stigma, sehingga mereka semakin takut untuk meminta bantuan dari tenaga kesehatan yang sebenarnya. Oleh karena itu, ada kebutuhan untuk membangun platform di mana orang dapat melampiaskan masalah pribadi mereka, dan mencari bantuan dari profesional kesehatan tanpa takut stigmatisasi atau dihakimi. Dengan kemudahan dan kenyamanan aplikasi telepon, orang-orang dapat didorong lebih jauh untuk mencari bantuan dengan kepastian bahwa data dan detail konsultasi mereka akan dirahasiakan, dan semuanya hanya di dalam telepon mereka daripada harus pergi ke klinik. Kedua, perawatan di klinik medis yang sebenarnya (dengan kantor fisik) relatif mahal, karena memperhitungkan biaya operasional; serta fakta bahwa mereka pada umumnya hanya memiliki 1 sumber pendapatan yaitu dari pasien itu sendiri.

Karena PsyGo memiliki biaya operasional yang lebih sedikit, dan juga memiliki sumber pendapatan lebih dari 1 (plus pendapatan pendapatan iklan), maka harga setiap terapi dapat dipangkas agar lebih terjangkau. Hal ini semakin mendorong masyarakat untuk mencari pertolongan karena mereka tidak perlu lagi terlalu khawatir tentang mahalnya harga mencari pertolongan dari klinik medis konvensional. Secara nasional, PsyGo juga menangani kekurangan terapis berlisensi. Seperti disebutkan di atas, rata- rata Indonesia hanya memiliki 1 psikolog berlisensi untuk setiap 300.000 hingga 400.000 pasien. Dengan aplikasi praktis yang membantu bertemu dengan psikolog dan pasien, pasien dari daerah terpencil sekarang dapat mencari bantuan dari psikolog berlisensi, dan psikolog juga dapat merawat lebih banyak pasien karena pasar mereka sekarang meluas ke seluruh Indonesia; bukan hanya pasien yang tinggal di daerah mereka.

Deskripsi Produk / Jasa

Psygo pada dasarnya adalah sebuah aplikasi yang menghubungkan antara pasien dan psikolog, sehingga pasien dari seluruh Indonesia, walaupun mereka berasal dari daerah yang terpencil, pasien tetap bisa konsultasi untuk mengatasi masalah yang sedang ada di hidup mereka. Secara singkat, ada 6 hal yang menjadi selling point PsyGo.

  1. Kenyamanan –

Semua kebutuhan pasien yang mengalami penyakit mental ringan ada di dalam sebuah aplikasi telepon. Yang memungkinkan pasien untuk mencari pertolongan kapanpun dan dimanapun mereka mau.

  1. Kemampuan

Aplikasi PsyGo untuk berkonsultasi secara virtual (melalui obrolan atau panggilan video) yang juga mendukung situasi pandemi saat ini.

  1. Konsultasi

Akan diberikan oleh psikolog sebenarnya yang memiliki izin atau yang sudah berlisensi untuk melakukannya.

  1. Pasien

Tidak diwajibkan untuk membagikan latar belakang pribadinya (foto, nama, dll.) Meskipun berbagi data ini dapat membantu terapi. Semua rincian dan data konsultasi mereka juga dirahasiakan secara pasti.

  1. Fitur Bawaan

Memungkinkan pasien membangun komunitas (obrolan grup) di dalam aplikasi. Dengan fitur ini, pasien dengan masalah yang sama dapat berbagi perjuangan mereka sebagai sebuah komunitas.

  1. Mengambil Keuntungan Dari Pendapatan Iklan,

Harga konsultasi bisa lebih terjangkau. Ini semakin mendorong pasien untuk mencari pertolongan

Artikel Lainnya…

Ri_Coffee

Steven Shui /1911006 / Teknik Sipil (TS) Kian Richardoegan / 1911010 / Teknik Sipil (TS) Melvin             / 1911019 / Teknik Sipil (TS) Rico Winardo / 1911028 / Teknik Sipil (TS) Wishly Wijaya / 1911001 / Teknik Sipil (TS) Dosen Pengampu : Dr. Antony S   Coffee...

KEBOEN HIJOPONIK

Muhammad Naufal Dzaky / 1941021 / Manajemen (MN) Julia Rahayu Putri / 1941053 / Manajemen (MN) Dhifira Annisa Widyasari / 1941200 / Manajemen (MN) Dosen Pengampu : Dr. Agustina Fitrianingrum   Keboen Hijoponik merupakan jenis usaha di bidang sayuran yang berbasis...

Story.ID

Eva Noorliana / 1941367/ Manajemen (MN) Estina Sativa / 1941347/ Manajemen (MN) Estefania / 1941256 / Manajemen (MN) Dosen Pembimbing : Erilia Kesumahati,S.Si., M.M., Apt.   Usaha yang akan kami jalankan bernama Story.ID, usaha ini bergerak dibidang pembuatan...