Penulis: Nafa Indah Sasmi, S.Pd. | Editor: Ambarwulan, S.T.

Batam, 10 Oktober 2025 — Untuk menjawab kebutuhan pembelajaran lintas budaya di era global, Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris bersama International Relation Office (IRO) UIB sukses menyelenggarakan kegiatan Cross-Cultural Encounters: Exploring Communication Across Borders. Acara yang berlangsung pada pukul 14.00–16.00 WIB di Aula Fakultas Kedokteran Lantai 2 UIB ini mempertemukan 22 mahasiswa PBI UIB dengan 20 mahasiswa dari Universiti Teknologi Mara (UiTM) Malaysia dalam sebuah forum pembelajaran kolaboratif yang interaktif dan inspiratif.

Kegiatan ini dipandu oleh Duke Paopathon Pardede-2461001 dan Shakira Farah Diba-2561008 dan dirancang sebagai wadah bagi mahasiswa untuk mengenal, memahami, dan mendiskusikan keberagaman budaya dari berbagai negara secara langsung. Setelah sesi pembukaan, para peserta disuguhkan dengan rangkaian presentasi budaya dari perwakilan Indonesia yaitu Mutiah Hasim-2561014 dan Aloysia Aura Balina-2561009, perwakilan dari Ghana yang disampaikan oleh UIB International Student yaitu Arko Martin, perwakilan dari Thailand yang disampaikan oleh ELE International Students yaitu Suchada Sookjaidee-2161021 dan Wayamin Chidaua-2161026, dan perwakilan dari Malaysia yang disampaikan oleh Nur Aleyah. Setiap presenter membawakan ciri khas negaranya melalui penjelasan mengenai bahasa, pakaian tradisional, kuliner, kebiasaan sosial, hingga nilai-nilai budaya yang dianut masyarakatnya.

Suasana semakin hidup ketika para peserta dibagi ke dalam kelompok lintas negara untuk berdiskusi lebih mendalam terkait perbandingan tradisi, etika komunikasi, hingga pengalaman lintas budaya masing-masing. Aktivitas ini tidak hanya membuka wawasan para mahasiswa, tetapi juga membangun empati, rasa saling menghargai, dan kemampuan komunikasi antarbudaya secara langsung.

Sebagai bentuk apresiasi terhadap antusiasme peserta, panitia menghadirkan dua kategori penghargaan yaitu The Best Presenter yang diberikan kepada perwakilan Negara yang Melakukan presentasi terbaik menurut pilihan para peserta dan The One Who Knows The Most People untuk peserta paling mengenal kelompok diskusinya dari perwakilan masing-masing Universitas.

Kegiatan ditutup dengan dokumentasi bersama dan pesan motivasi agar kolaborasi ini tidak hanya berhenti pada satu pertemuan, melainkan menjadi pemicu kerja sama lanjutan di masa mendatang.
Sebagai kesimpulan, Cross-Cultural Encounters menjadi bukti bahwa pembelajaran tidak selalu harus berada di dalam ruang kelas. Ketika mahasiswa diberi ruang untuk berbicara, mendengar, dan memahami satu sama lain lintas negara, maka pendidikan benar-benar menjadi pengalaman yang hidup.
Program Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris
Universitas Internasional Batam


