Bagaimana NLP dapat membantu Analisis Sentimen

Penulis: Muhammad Ilham Ashiddiq Tresnawan, S.T., B.Sc., M.Sc.

Gambar Story PIN

Sumber: Pinterest

Di tengah derasnya arus informasi digital, opini publik tersebar dalam skala yang luar biasa besar dan dalam bentuk yang sangat beragam. Setiap hari, jutaan komentar, ulasan produk, tweet, caption Instagram, diskusi forum, hingga percakapan dalam platform layanan pelanggan dihasilkan oleh pengguna internet. Di balik setiap teks tersebut, tersimpan emosi, persepsi, dan pengalaman yang sebenarnya memuat nilai strategis bagi organisasi. Untuk memahami pola emosi secara menyeluruh, perusahaan dan peneliti membutuhkan teknologi yang mampu membaca bahasa manusia dalam volume besar secara otomatis. Di sinilah Natural Language Processing (NLP), sebuah cabang penting dari kecerdasan buatan, memberikan kontribusi yang sangat signifikan dalam melahirkan analisis sentimen modern.

Analisis sentimen mencoba mengekstrak opini dari teks dan mengklasifikasikannya ke dalam kategori emosional seperti positif, negatif, atau netral. Dalam perkembangannya, analisis sentimen tidak hanya berhenti pada tiga kategori dasar, tetapi juga mampu menangkap emosi yang lebih kompleks seperti marah, kecewa, bahagia, terkejut, atau takut. NLP menjadi jembatan yang memungkinkan komputer memahami bahasa manusia yang penuh variasi, konteks, dan nuansa.

Kemampuan NLP dimulai dari proses pemahaman teks mentah, di mana sistem membersihkan data dari elemen-elemen tidak relevan seperti tanda baca berlebih, emotikon, singkatan informal, hingga struktur kalimat tidak baku. Proses ini bukan sekadar menjaga kebersihan data, tetapi juga memastikan makna inti dari teks dapat ditangkap dengan lebih akurat. Setelah teks siap, NLP memecahnya menjadi unit linguistik seperti kata atau frasa dan mengenali bagian-bagian kalimat seperti subjek, kata sifat yang menunjukkan emosi, kata kerja yang mencerminkan tindakan, dan objek yang menjadi fokus keluhan atau pujian.

Ketika sebuah teks dianalisis, NLP tidak hanya melihat kata secara terpisah, tetapi berusaha memahami hubungan antar kata dalam satu kalimat. Bahasa manusia memiliki struktur makna yang tidak selalu linear. Contohnya, kalimat seperti “pelayanannya lambat, tetapi makanannya luar biasa” menunjukkan adanya dua emosi berbeda dalam satu pernyataan. Dalam konteks seperti ini, analisis sentimen modern akan mengidentifikasi bahwa aspek makanan memiliki sentimen positif, sedangkan aspek pelayanan bersentimen negatif. Kemampuan analisis berbasis aspek semacam ini menjadi sangat berharga bagi perusahaan yang ingin mengetahui area mana yang perlu diperbaiki.

Model NLP yang digunakan dalam analisis sentimen telah berkembang dari metode sederhana menjadi sistem yang sangat kompleks. Pendekatan machine learning klasik seperti Naive Bayes atau Support Vector Machines dulunya menjadi standar, namun kini model deep learning seperti LSTM atau GRU mampu memahami konteks yang lebih panjang dan hubungan antar kata dalam teks. Kemunculan model transformer seperti BERT, RoBERTa, dan GPT membawa perubahan besar dengan kemampuan memahami bahasa dalam dua arah (bidirectional), sehingga sebuah kata dianalisis berdasarkan konteks seluruh kalimat, bukan hanya kata di sekitarnya. Dengan teknologi ini, sistem mampu menangkap sarkasme, gaya bahasa halus, dan variasi emosi yang sulit didefinisikan secara eksplisit.

Analisis sentimen juga mengandalkan NLP dalam menangani volume data yang besar. Proses yang dulunya memakan waktu berminggu-minggu ketika dilakukan secara manual, kini dapat dilakukan dalam hitungan menit. Perusahaan dapat menganalisis jutaan komentar media sosial untuk memahami persepsi masyarakat terhadap kampanye tertentu. Layanan pelanggan dapat mendeteksi secara otomatis jika ada lonjakan ketidakpuasan pelanggan melalui email atau chat, bahkan sebelum masalah itu berkembang menjadi isu besar. Analisis sentimen berbasis NLP memungkinkan respons yang jauh lebih cepat dan keputusan bisnis yang lebih matang.

Dalam sektor politik, NLP memungkinkan pembacaan opini masyarakat secara real-time terhadap kandidat atau kebijakan tertentu. Media sosial sering menjadi indikator awal perubahan sentimen publik sebelum munculnya survei resmi. Analisis semacam ini sangat berguna untuk memprediksi dinamika sosial. Di bidang media dan keamanan, NLP membantu mengidentifikasi percakapan yang berpotensi memuat ujaran kebencian, ancaman, atau sentimen toksik yang dapat membahayakan komunitas online.

Analisis sentimen berbasis NLP juga menyumbang berbagai kemajuan dalam riset akademik dan ilmu sosial. Para peneliti menggunakan teknologi ini untuk memetakan pola emosional masyarakat berdasarkan teks historis, artikel berita, hingga transkrip wawancara. Dalam bidang kesehatan mental, analisis sentimen pada postingan media sosial dapat menjadi indikator awal munculnya kesedihan ekstrim atau tekanan emosional pada individu, membuka peluang intervensi dini yang lebih baik.

Meskipun sangat kuat, analisis sentimen masih menghadapi sejumlah tantangan. Bahasa manusia tidak selalu mudah dipahami secara literal. Sarkasme, idiom, metafora, permainan kata, atau konteks budaya dapat memengaruhi interpretasi sentimen. Misalnya, kalimat seperti “terima kasih ya atas pelayanan super lambatnya” mengandung makna yang bertolak belakang dengan kata-kata yang digunakan. Sistem berbasis NLP terus dikembangkan untuk memahami pola-pola semacam ini dengan lebih baik, terutama melalui model transformer yang belajar dari data dalam jumlah masif.

Selain itu, variasi bahasa, dialek, dan gaya penulisan dapat menjadi hambatan bagi akurasi analisis. Namun dengan bertambahnya dataset pelatihan yang lebih representatif dan model yang semakin canggih, kemampuan NLP untuk mengatasi tantangan ini semakin meningkat.

Pada akhirnya, NLP telah mengubah analisis sentimen menjadi alat strategis yang tidak hanya cepat dan otomatis, tetapi juga kaya akan konteks dan makna emosional. Dengan membantu komputer “memahami” emosi manusia, NLP memungkinkan berbagai sektor membuat keputusan berdasarkan data opini publik yang lebih akurat dan realistik. Dalam dunia yang semakin berpusat pada data, kemampuan memahami sentimen melalui bahasa manusia menjadi keunggulan kompetitif yang sangat penting.

🔍 Tertarik mendalami Teknologi Informasi? Cek Program Studi Teknologi Informasi  Universitas Internasional Batam dan pilih peminatanmu: Cloud Engineering, Smart Systems, atau Cyber Intelligence. Segera daftarkan dirimu di Pendaftran Program Sarjana Teknologi Informasi.

Editor: Ambarwulan, S.T.

Referensi

  • Liu, B. (2020). Sentiment Analysis: Mining Opinions, Sentiments and Emotions. Cambridge University Press.
  • Pang, B., & Lee, L. (2008). Opinion Mining and Sentiment Analysis. Foundations and Trends in Information Retrieval.
  • Devlin, J., Chang, M.-W., Lee, K., & Toutanova, K. (2019). BERT: Pre-training of Deep Bidirectional Transformers for Language Understanding. NAACL.
  • Yang, L., & Chen, Y. (2021). Advances in Deep Learning for Sentiment Analysis. Journal of Big Data.
  • Zhang, L., Wang, S., & Liu, B. (2018). Deep Learning for Sentiment Analysis: A Survey. Wiley Data Mining and Knowledge Discovery.
  • Mohammad, S., & Turney, P. (2013). Crowdsourcing a Word–Emotion Association Lexicon. Computational Intelligence.
  • IBM Watson. (2022). How NLP Enhances Automated Sentiment Understanding. IBM Research Report.
  • Google AI. (2023). Modern Approaches to Contextual Sentiment Modeling. Google Research Papers.
  • Ribeiro, M. T., Singh, S., & Guestrin, C. (2016). Why Should I Trust You? Explaining the Predictions of Sentiment Models. KDD.
  • Liu, Y. et al. (2019). RoBERTa: A Robustly Optimized BERT Pretraining Approach. Facebook AI Research.

Baloi-Sei Ladi, Jl. Gajah Mada, Tiban Indah, Kec. Sekupang, Kota Batam, Kepulauan Riau 29426
(0778) 7437111
Temukan kami

Telusuri