Penulis: Yulias Hidayah, S.Ak. | Editor: Ambarwulan, S.T.

Kegiatan International Workshop on Historic Urban Landscape (HUL): Mapping Intangible Heritage resmi dimulai pada Minggu, 30 November 2025, bertempat di Gedung Satu Gurindam, Ismeth Abdullah, UMRAH. Lathifa Nursyamsu, S.Ars., M.Arch, perwakilan dari Program Studi Arsitektur Universitas Internasional Batam (UIB) turut hadir sebagai peserta pada rangkaian sesi pembukaan hingga kunjungan lapangan yang menjadi agenda utama pada hari pertama.

(Dokumentasi Kata Sambutan oleh Ibu Anastasia, Pak Ridwan dan Pak Agung)
Rangkaian kegiatan dibuka dengan sambutan dari panitia dan para tokoh akademik. Sambutan pertama disampaikan oleh Ibu Anastasia Wiwik Swastiwi, selaku Chair of UMRAH Organising Committee. Acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Prof. Kemas Ridwan Kurniawan, S.T., M.Sc., Ph.D., yang hadir sebagai perwakilan kolaborator sekaligus Dekan Fakultas Teknik Universitas Indonesia. Sesi sambutan ditutup oleh Prof. Dr. Agung Dhamar Syakti, S.Pi, DEA, Rektor UMRAH, yang menekankan pentingnya kolaborasi akademik dalam penguatan strategi pelestarian warisan budaya kota bersejarah.

(Dokumentasi Public Lecture oleh Pak Aswandi, Pak Hendri dan Pak Peter)
Setelah pembukaan, kegiatan berlanjut pada sesi public lecture yang menghadirkan tiga narasumber dari bidang sejarah dan kebudayaan. Aswandi Syahri dari Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Kepulauan Riau memberikan pemahaman mengenai konteks historis Tanjungpinang. Materi berikutnya disampaikan oleh Hendri Purnomo, Pamong Budaya BPK Wilayah IV, yang mengulas dinamika pelestarian budaya di kawasan pesisir. Sesi ditutup oleh Peter Timmer dari Cultural Heritage Agency of the Netherlands (RCE), yang memaparkan perspektif internasional terkait pendekatan Historic Urban Landscape. Agenda berikutnya adalah pre-assignment presentation, di mana peserta mempresentasikan hasil studi awal terkait dua lokasi kajian utama: Pulau Penyengat dan Kota Lama (Pecinan). Sesi ini menjadi landasan penting untuk memahami gambaran awal kondisi warisan budaya berwujud maupun takbenda yang akan dipetakan selama workshop berlangsung.

(Dokumentasi Field Trip di Pulau Penyengat)
Menjelang siang hingga sore hari, seluruh peserta mengikuti field trip untuk melakukan observasi lapangan langsung di Pulau Penyengat dan kawasan Kota Lama Tanjungpinang. Kegiatan ini difokuskan pada urban landscape scan, yaitu pemetaan elemen-elemen lanskap kota seperti infrastruktur, ruang publik, kawasan religius dan budaya, hingga karakteristik lingkungan yang membentuk identitas kawasan bersejarah. Observasi ini menjadi tahap awal yang penting sebelum memasuki analisis lanjutan pada hari berikutnya.

(Dokumentasi Field Trip di Pulau Penyengat)
Dengan terselenggaranya seluruh rangkaian kegiatan hari pertama ini, peserta termasuk perwakilan Arsitektur UIB mendapatkan pemahaman menyeluruh mengenai konteks historis, budaya, serta tantangan pelestarian kawasan bersejarah di Tanjungpinang. Workshop kemudian berlanjut pada hari kedua dengan agenda pendalaman materi serta kerja lapangan terkait warisan budaya takbenda.

(Foto Bersama di Depan Gedung UMRAH)
Program Sarjana Arsitektur
Universitas Internasional Batam


