Apakah Quantum Computing Akan Menggantikan Komputasi Konvensional?

Penulis: Zaynulia Afifa (2331033)

Quantum Computing and Its Impact on Data Analytics

Sumber: Linkedin

Teknologi komputasi kuantum semakin sering menjadi sorotan dalam diskusi ilmiah maupun industri teknologi. Banyak yang menganggapnya sebagai tonggak revolusi komputasi berikutnya karena kemampuan pemrosesan yang sangat berbeda dibandingkan dengan komputer klasik yang digunakan saat ini. Sejumlah perusahaan besar, universitas dunia, hingga lembaga riset internasional terus berlomba mengembangkan komputer kuantum yang lebih stabil dan lebih kuat. Hal ini memunculkan pertanyaan besar: apakah kemunculan quantum computing berarti akhir dari komputasi tradisional?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita perlu memahami apa yang membuat komputer kuantum begitu istimewa, bagaimana perbedaannya dari komputer klasik, serta tantangan nyata yang masih menghambat adopsi luas teknologi ini. Hanya dengan melihat perkembangan dari berbagai perspektif, kita bisa mengetahui apakah komputer kuantum benar-benar akan menggantikan komputer konvensional atau hanya menjadi teknologi pelengkap.

Komputer klasik yang kita gunakan sehari-hari bekerja menggunakan bit, yaitu unit informasi yang hanya bisa bernilai 0 atau 1. Semua operasi matematika, logika, dan instruksi program dilakukan berdasarkan kombinasi bit tersebut. Arsitektur komputer klasik sudah terbukti sangat efektif, efisien, dan serbaguna sehingga digunakan dalam hampir seluruh aspek kehidupan digital modern. Namun, arsitektur ini memiliki batasan matematika tertentu karena hanya dapat memproses satu keadaan dalam satu waktu.

Quantum computing memperkenalkan konsep qubit, yang dapat berada dalam keadaan 0, 1, atau keduanya pada saat yang sama melalui fenomena superposisi. Qubit juga dapat saling terhubung melalui entanglement, sebuah fenomena fisika kuantum yang memungkinkan dua qubit mempengaruhi satu sama lain secara instan. Karena dua sifat tersebut, komputer kuantum mampu melakukan perhitungan dalam pola yang sangat berbeda dari komputer klasik. Alih-alih memeriksa kemungkinan satu per satu, komputer kuantum dapat memproses banyak kemungkinan sekaligus.

Kemampuan unik inilah yang membuat komputer kuantum sangat unggul pada jenis masalah tertentu. Komputasi kuantum sangat efektif digunakan untuk simulasi molekul dan reaksi kimia, optimasi berskala besar, pencarian dalam ruang data yang kompleks, analisis probabilistik, hingga pemecahan algoritma enkripsi modern. Banyak ilmuwan percaya bahwa komputer kuantum dapat mempercepat penemuan obat, mengembangkan material baru, memperbaiki model iklim, serta membantu AI bekerja jauh lebih cepat dan lebih akurat.

Namun kehebatan tersebut tidak berarti komputer kuantum akan menggantikan komputer klasik secara keseluruhan. Salah satu alasan terbesar adalah stabilitas qubit yang masih sangat rentan. Qubit mudah terpengaruh oleh gangguan fisik, getaran, radiasi, bahkan fluktuasi suhu yang sangat kecil. Ini menyebabkan qubit kehilangan informasi, sehingga perhitungan menjadi tidak akurat. Komputer kuantum membutuhkan kondisi ekstrem untuk bekerja, misalnya suhu hampir mendekati nol absolut, perangkat superkonduktor, dan ruang isolasi khusus yang sangat mahal untuk dibangun dan dipelihara.

Selain tantangan stabilitas, komputer kuantum juga tidak dirancang untuk melakukan semua jenis pekerjaan komputasi. Sebagian besar tugas harian, seperti menjalankan aplikasi, mengolah dokumen, menyimpan file, mengoperasikan sistem operasi, atau bahkan menjalankan aplikasi web biasa, jauh lebih efisien dilakukan oleh komputer klasik. Quantum computing hanya unggul pada kategori masalah matematis tertentu, bukan untuk perhitungan umum yang dilakukan komputer sehari-hari.

Quantum computing bahkan memiliki kategori algoritma khusus, seperti algoritma Shor dan Grover, yang memang diciptakan untuk memanfaatkan kemampuan kuantum. Sebaliknya, sebagian besar algoritma yang digunakan komputer klasik tidak dapat berjalan langsung pada komputer kuantum karena perbedaan arsitektur dan logika informasi. Hal ini membuat komputasi kuantum cenderung menjadi teknologi spesialis yang digunakan hanya pada bidang tertentu yang benar-benar membutuhkan kekuatan komputasi ekstrem.

Selain itu, teknologi komputer kuantum saat ini masih berada pada tahap “Noisy Intermediate Scale Quantum (NISQ) era”, yaitu periode di mana komputer kuantum mampu melakukan beberapa perhitungan namun masih terlalu berisik (noise) dan terlalu rentan error untuk melakukan komputasi skala besar yang benar-benar stabil. Penelitian untuk mengatasi kesalahan ini masih berlangsung intensif, terutama pada sistem koreksi error kuantum yang sangat kompleks dan masih sulit diimplementasikan secara praktis.

Melihat kondisi tersebut, para peneliti dan perusahaan teknologi mulai bergerak menuju konsep quantum-classical hybrid computing, yaitu sistem gabungan antara komputer klasik dan komputer kuantum. Dalam pendekatan ini, komputer klasik menangani pekerjaan umum dan proses logika tradisional, sementara unit kuantum menangani bagian tugas yang memerlukan kekuatan pemrosesan tingkat tinggi. Pendekatan hybrid ini jauh lebih realistis dan menjadi arah utama perkembangan industri dalam beberapa tahun ke depan.

Dengan perkembangan teknologi yang ada, sangat kecil kemungkinan komputer kuantum akan menggantikan komputer konvensional sepenuhnya. Komputer klasik sudah terintegrasi dalam berbagai aspek kehidupan dan memiliki ribuan jenis aplikasi yang tidak memerlukan kekuatan kuantum. Komputer kuantum justru lebih mirip dengan mesin super-spesialis yang digunakan untuk kebutuhan riset dan industri tertentu. Seperti halnya supercomputer tidak menggantikan PC atau laptop, komputer kuantum pun akan menjadi alat lain yang memperluas kemampuan teknologi, bukan menggantikan seluruhnya.

Kesimpulannya, quantum computing tidak akan menggantikan komputasi konvensional, tetapi akan berdampingan dengannya. Komputer klasik akan tetap digunakan untuk hampir semua aktivitas komputasi sehari-hari, sementara komputer kuantum akan mengambil peran penting dalam penyelesaian masalah besar yang melampaui batas kemampuan komputasi tradisional. Perpaduan antara kedua jenis sistem tersebut kemungkinan besar akan menjadi masa depan teknologi, di mana kekuatan kuantum digunakan hanya ketika benar-benar diperlukan.

🔍 Tertarik mendalami Teknologi Informasi? Cek Program Studi Teknologi Informasi  Universitas Internasional Batam dan pilih peminatanmu: Cloud Engineering, Smart Systems, atau Cyber Intelligence. Segera daftarkan dirimu di Pendaftran Program Sarjana Teknologi Informasi.

Editor: Ambarwulan, S.T.

Referensi

  • IBM Research (2023). Publikasi mengenai perkembangan hybrid quantum computing dan aplikasi praktis.
  • Google Quantum AI (2022). Laporan penelitian tentang supremasi kuantum dan eksperimen pemrosesan kuantum skala besar.
  • Nielsen, M., & Chuang, I. (2020). Quantum Computation and Quantum Information, buku fundamental tentang komputasi kuantum. Cambridge University Press.
  • Microsoft Quantum Team (2023). Dokumentasi teknis mengenai qubit, logika kuantum, dan model komputasi kuantum.
  • MIT Technology Review (2023). Analisis industri mengenai tantangan hardware qubit dan material superkonduktor.
  • Harvard Quantum Initiative (2023). Penerbitan ilmiah mengenai noise, error correction, dan stabilitas qubit.
  • D-Wave Systems (2023). Studi terkait pengunaan quantum annealing untuk optimasi industri.
  • NIST (2022). Laporan tentang ancaman komputasi kuantum terhadap enkripsi modern dan pengembangan post-quantum cryptography.
  • Nature Physics (2021). Artikel penelitian mengenai kemajuan material dan arsitektur qubit terbaru.
  • Yale Quantum Institute (2023). Bahasan mendalam tentang karakteristik qubit superkonduktor dan batas fisiknya.
  • McKinsey Digital (2023). Analisis pasar internasional tentang investasi teknologi kuantum.
  • European Quantum Flagship (2022). Publikasi terkait kesiapan industri dan roadmap riset komputasi kuantum.

Baloi-Sei Ladi, Jl. Gajah Mada, Tiban Indah, Kec. Sekupang, Kota Batam, Kepulauan Riau 29426
(0778) 7437111
Temukan kami

Telusuri