Desain Pencahayaan yang Berpusat pada Manusia: Mengoptimalkan Kenyamanan Visual dengan Cahaya Alami dan Buatan

Penulis: Gendari Aryandini (2512052)

Abstrak

Pencahayaan memiliki peran penting dalam menciptakan kenyamanan visual, baik dalam mendukung kesehatan serta kegiatan manusia di suatu ruang. Pembahasan utama dalam artikel ini adalah konsep desain pencahayaan yang berpusat pada manusia, agar sesuai dengan kebutuhan tubuh dan perasaan sebagai prioritas utama. Kajian ini menekankan pentingnya penggabungan cahaya alami dan buatan secara seimbang, dengan menyesuaikan jam produktivitas manusia. Penelitian dilakukan melalui studi pustaka dan analisis beberapa contoh penerapan desain pencahayaan di ruang interior. Kajian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih mengenai perancangan sistem pencahayaan yang sesuai kebutuhan dan kenyamanan manusia.

Kata Kunci: Pencahayaan yang berpusat pada manusia, Kenyamanan visual, Cahaya alami dan Cahaya buatan, dan Desain Interior

Pendahuluan

Pencahayaan merupakan salah satu hal penting dalam perancangan ruang untuk menentukan kualitas lingkungan interior. Cahaya tak hanya berfungsi sebagai penerang, tetapi juga menjadi hal yang mempengaruhi persepsi visual, suasana ruang, serta kondisi kebutuhan tubuh dan perasaan. Dalam kehidupan sehari-hari manusia menghabiskan waktunya di dalam ruangan, baik dalam belajar, bekerja, maupun beristirahat. Pencahayaan yang terlalu redup dapat membuat mata cepat lelah, sementara pencahayaan yang berlebihan dapat membuat silau dan tidak nyaman. Oleh sebab itu, desain pencahayaan di suatu ruangan sangat penting dirancang dengan cermat agar memenuhi kebutuhan visual pengguna ruang.

Dalam perkembangan ilmu arsitektur dan desain interior, muncul suatu konsep yang dikenal sebagai Human centered lighting design atau desain pencahayaan yang berpusat pada manusia. Konsep ini muncul dari pemahaman manusia tentang kebutuhan cahaya tidak hanya digunakan untuk melihat, tetapi juga menjaga kestabilan tubuh. Cahaya memiliki pengaruh terhadap suasana hati, energi, dan pola tidur. Pencahayaan yang tidak seimbang dapat berdampak pada kesehatan dan produktivitas. Penerapan desain pencahayaan yang mempertimbangkan kebutuhan tubuh, emosi, dan perilaku menjadi sangat penting.

Penggabungan antara cahaya alami dan buatan menjadi fokus utama dalam desain pencahayaan yang berpusat pada manusia. Cahaya alami sendiri berasal dari matahari dan cahaya buatan berasal dari lampu yang berperan sebagai pelengkap ketika cahaya alami tidak mencukupi. Keduanya harus diatur dengan seimbang agar menciptakan kenyamanan visual sepanjang hari. Dalam aktualisasinya, pencahayaan alami dapat dimaksimalkan melalui tata letak bukaan, material reflektif dan posisi bangunan terhadap matahari. Sedangkan pencahayaan buatan dapat diatur melalui warna cahaya, intensitas, dan sistem kendali otomatis. Dengan memadukan kedua sumber cahaya ini secara tepat, suatu ruang dapat memberikan suasana alami, efisien energi, dan mendukung kesehatan pengguna.

Metode

Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode studi pustaka. Pendekatan ini dipilih karena penelitian berfokus pada analisis konsep dan teori tentang Human centered lighting design tanpa melakukan eksperimen langsung di lapangan. Penelitian ini mengumpulkan data dadri berbagai sumber, seperti artikel, jurnal ilmiah dan laporan. Dengan tujuan untuk memahami bagaimana penggabungan antara cahaya alami dengan cahaya buatan dapat mengoptimalkan kenyamanan visual.

Kajian Teori

1. Kenyamanan visual

Kenyamanan visual adalah kondisi subjektif yang memuaskan, di mana sistem visual berfungsi secara optimal tanpa menyebabkan kelelahan atau ketidaknyamanan (Boyce, 2003). Kenyamanan visual dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk tingkat pencahayaan, distribusi cahaya, silau, kontras, dan suhu warna (Veitch, 2001).

Faktor-faktor yang mempengaruhi kenyamanan visual:

  1. Tingkat pencahayaan : Tingkat pencahayaan yang cukup diperlukan untuk memungkinkan penglihatan yang jelas dan efisien. Tingkat pencahayaan yang terlalu rendah dapat menyebabkan kelelahan mata, sementara tingkat pencahayaan yang terlalu tinggi dapat menyebabkan silau (IESNA, 2011).
  2. Distribusi cahaya : Distribusi cahaya yang merata penting untuk menghindari bayang yang tajam dan kontras yang berlebihan. Distribusi cahaya yang tidak merata dapat menyebabkan ketidaknyamanan visual dan mengurangi kemampuan untuk melihat detail (Reinhart & Wienold, 2011).
  3. Silau : Silau adalah kondisi dimana cahaya berlebihan masuk ke mata dan menyebabkan ketidaknyamanan atau gangguan penglihatan. Silau dapat dikurangi dedngan menggunaka shading devices, mengatur posisi sumber, dan memilih material dengan reflektansi yang rendah (Muneer, 2008).
  4. Kontras : Kontras adalah perbedaan kecerahan antara objek dan latar belakangnya. Kontras yang tinggi dapat meningkatkan kemampuan untuk melihat detail, tetapi kontras yang berlebihan dapat mennyebabkan kelelahan mata (Wyszecki & Stiles, 1982).
  5. Suhu warna : Suhu warna adalah karakteristik cahaya yang terkait dengan warna yang dirasakan. Suhu warna yang hangat (rendah) cenderung menciptakan suasana yang nyaman dan santai, sementara suhu warna yang dingin (tinggi) cenderung menciptakan suasana yang energik dan fokus (Figuero & Rea, 2010).

Arsitektur yang Berpusat pada Manusia | illustrarch

2. Pencahayaan Alami

Pencahayaan alami adalah penggunaan cahaya matahari sebagai sumber penerangan utama dalam bangunan (Edwards & Torcellini, 2002). Pencahayaan alami memiliki banyak manfaat, termasuk mengurangi konsumsi energi, meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan penghuni, dan menciptakan suasana yang lebih alami dan menyenangkan (Ulrich,1984).

Desain pencahayaan alami :

  1. Orientasi bangunan : Orientasi bangunan yang tepat dapat memaksimalkan pemanfaatan cahaya matahari dan mengurangi panas berlebih (Iskandar, 2018).
  2. Ukuran dan posisi jendela : Ukuran dan posisi jendela yang tepat dapat memastikan bahwa cahaya alami didistribusikan secara merata ke seluruh ruangan (Santoso, 2018).
  3. Shading devices : Shading devices seperti overhangs, fins, dan louvers dapat digunakan untuk mengurangi silau dan panas berlebih (Wijaya, 2020).
  4. Material reflektif : Penggunaan material reflektif pada permukaan interior dapat membantu memantulkan cahaya alami ke bagian dalam ruangan (Susanti, 2014).

Peran Pencahayaan Buatan dalam Desain Arsitektur - BUCK

3. Pencahayaan buatan

Pencahayaan buatan adalah penggunaan sumber cahaya buatan seperti lampu untuk menerangi bangunan (Mills et al., 2007). Pencahayaan buatan diperlukan untuk melengkapi cahaya alami pada malam hari atau pada kondisi cuaca yang buruk.

Jenis-jenis lampu :

  1. Lampu pijar : Lampu pijar menghasilkan cahaya dengan memanaskan filamen hingga menyala. Lampu pijar tidak efisien dan memiliki umur yang pendek (Boyce, 2003).
  2. Lampu fluoresen : Lampu fluoresen menghasilkan cahaya dengan melewatkan arus listrik melalui gas. Lampu fluoresen lebih efisien daripada lampu pijar dan memiliki umur yang lebih panjang (Veitch, 2001).
  3. Lampu LED : Lampu LED (Light Emitting Diode) menghasilkan cahaya dengan menggunakan semikonduktor. Lampu LED sangat efisien, memiliki umur yang sangat panjang, dan dapat menghasilkan berbagai warna cahaya (Riyanto, 2019).
  4. Sistem kontrol pencahayaan : Sistem kontrol pencahayaan dapat digunakan untuk mengatur tingkat pencahayaan sesuai dengan kebutuhan dan preferensi pengguna. Sistem kontrol pencahayaan dapat membantu mengurangi konsumsi energi dan meningkatkan kenyamanan visual (Manav, 2007).

Penjelasan Tentang General Lighting, Fungsi Beserta Contohnya !!!

4. Desain pencahayaan yang berpusat pada manusia

Desain pencahayaan yang berpusat pada manusia adalah pendekatan desain yang mempertimbangkan kebutuhan dan preferensi pengguna dalam merancang sistem pencahayaan (Heerwagen, 2000). Desain pencahayaan yang berpusat pada manusia bertujuan untuk menciptakan lingkungan pencahayaan yang nyaman, sehat, dan produktif (Dewi, 2020).

Prinsip-prinsip desain pencahayaan yang berpusat pada manusia :

  1. Memahami Kebutuhan Pengguna : Desainer perlu memahami kebutuhan dan preferensi pengguna, serta jenis kegiatan yang dilakukan di ruang tersebut (Kusumawati, 2017).
  2. Menyediakan Fleksibilitas : Sistem pencahayaan harus fleksibel dan memungkinkan pengguna untuk menyesuaikan tingkat dan suhu warna cahaya sesuai dengan preferensi mereka (Yuliani, 2017).
  3. Meningkatkan Kesejahteraan : Desain pencahayaan harus mempertimbangkan dampak pencahayaan terhadap kesehatan dan kesejahteraan penghuni, termasuk ritme sirkadian, suasana hati, dan tingkat stres (Nugroho, 2016).

Hasil dan pembahasan

Berdasarkan hasil kajian pustaka mengenai konsep Human-Centered Lighting Design (HCL), ditemukan bahwa penerapan pencahayaan yang berpusat pada manusia memberikan pengaruh signifikan terhadap kualitas interior, kenyamanan visual, dan kesejahteraan pengguna ruang. Kenyamanan visual tercapai ketika sistem penglihatan manusia dapat berfungsi secara optimal tanpa menyebabkan kelelahan atau ketidaknyamanan (Boyce, 2003). Beberapa faktor utama yang memengaruhi kenyamanan visual antara lain tingkat pencahayaan, distribusi cahaya, silau, kontras, dan suhu warna (Veitch, 2001). Tingkat pencahayaan yang berlebihan dapat menimbulkan silau. Distribusi cahaya yang merata dan pengaturan kontras yang tepat dapat membantu pengguna melihat objek dengan jelas tanpa kelelahan visual.

Penelitian juga menunjukkan bahwa pencahayaan alami memiliki peran besar terhadap kesehatan visual dan psikologis manusia. Cahaya matahari menyediakan spektrum cahaya berupa sinar alami yang dibutuhkan tubuh untuk mengatur ritme sirkadian. Desain pencahayaan alami yang tepat bisa melalui orientasi bangunan, ukuran jendela, penggunaan shading devices, dan material reflektif, hal tersebut dapat meningkatkan efisiensi energi dan suasana ruang yang lebih nyaman (Iskandar, 2018; Susanti, 2014).

Sementara itu, pencahayaan buatan digunakan sebagai pelengkap untuk menjaga tingkat penerangan optimal terutama pada malam hari atau saat cahaya alami tidak mencukupi. Penggunaan lampu LED menjadi pilihan utama karena efisiensi energi, umur panjang, dan kemampuan menyesuaikan suhu warna (Riyanto, 2019). Penerapan sistem kontrol pencahayaan otomatis juga berkontribusi terhadap peningkatan efisiensi dan kenyamanan visual pengguna (Manav, 2007).

Pendekatan desain pencahayaan yang berpusat pada manusia menekankan pentingnya pencahayaan yang disesuaikan dengan kebutuhan dan preferensi pengguna. Penelitian oleh Dewi (2020) dan Kusumawati (2017) menunjukkan bahwa sistem pencahayaan yang fleksibel dan adaptif terhadap kegiatan serta suasana hati dapat meningkatkan kesejahteraan, produktivitas, dan kesehatan penghuni. Dengan demikian, integrasi antara pencahayaan alami dan buatan yang diatur secara ergonomis dan responsif terhadap pengguna merupakan kunci dalam menciptakan lingkungan interior yang nyaman, sehat, dan produktif.

Kesimpulan

Pencahayaan bukan sekedar sumber terang, pencahayaan menentukan bagaimana kita melihat, merasa, dan berkegiatan di dalam ruang. Ketepatan cahaya, baik alami maupun buatan, mampu menciptakan kenyamanan visual sekaligus menjaga ritme tubuh dan suasana hati. Cahaya matahari membawa energi alami yang menenangkan, sementara cahaya buatan, terutama lampu LED dengan pengaturan adapatif, memastikan ruang tetap nyaman meski malam atau cuaca mendung. Kombinasi keduanya, jika dirancang dengan tepat, menghasilkan lingkungan yang produktif, menyenangkan, dan sehat. Prinsip Human-Centered Lighting Design menekankan fleksibilitas dan perhatian terhadap kebutuhan pengguna. Dengan memadukan cahaya yang sesuai aktivitas, preferensi, dan psikologi manusia, desain pencahayaan dapat membuat sebuah ruang lebih hidup.

Editor: Ambarwulan, S.T.

Daftar Pustaka

Boyce, P. R. (2003). Human Factors in Lighting. Boca Raton: CRC Press.

Dewi, R. (2020). Studi Kualitatif tentang Pengaruh Pencahayaan terhadap Kenyamanan Pengguna Ruang Publik. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

Edwards, L., & Torcellini, P. (2002). A Literature Review of the Effects of Natural Light on Building Occupants. Golden, Colorado: National Renewable Energy Laboratory.

Figueiro, M. G., & Rea, M. S. (2010). Light isn’t just for vision anymore. Trends in Neurosciences.

Heerwagen, H. J. (2000). Green buildings, organizational success and occupant productivity. Building Research & Information.

Illuminating Engineering Society of North America. (2011). The Lighting Handbook (Edisi ke-10). New York: Illuminating Engineering Society of North America.

Iskandar, F. (2018). Penerapan Prinsip Desain Pasif pada Bangunan Tropis. Jurnal Arsitektur.

Kusumawati, A. (2017). Pengaruh Pencahayaan Alami terhadap Konsentrasi Belajar Siswa. International Conference on Science and Technology.

Manav, B. (2007). Building and Environment. Building and Environment.

Mills, P. R. (2007). Journal of Circadian Rhythms. Journal of Circadian Rhythms.

Muneer, T. (2008). Solar Radiation and Daylight Models (Edisi ke-2). Oxford: Butterworth-Heinemann.

Nugroho, L. (2016). Hubungan antara Pencahayaan dan Kesejahteraan Penghuni Rumah. Jurnal Psikologi.

Reinhart, C. F., & Wienold, J. (2011). The Daylight Factor Revisited: New Insights from Field Measurements. Building and Environment.

Sangadji, A. N. (2025). Peran Pencahayaan dalam Menciptakan Suasana dan Meningkatkan Produktifitas di Co-Working Space. Jurnal Ilmiah Rachana Interior.

Baloi-Sei Ladi, Jl. Gajah Mada, Tiban Indah, Kec. Sekupang, Kota Batam, Kepulauan Riau 29426
(0778) 7437111
Temukan kami

Telusuri