Penulis: Singgih Bayu I H, S.Tr.Ak., M.Akun.

Source: fiverr
Environmental Management Accounting atau EMA adalah sebuah proses identifikasi, pengukuran, analisis dan pelaporan informasi biaya serta dampak lingkungan untuk mendukung pengambilan kepeutusan internal perusahaan. EMA memadukan informasi fisik (energi, air, limbah, emisi) dengan informasi moneter (biaya lingkungan dan efisiensi biaya).
Mengapa Environmental Management Accounting Penting untuk perusahaan?
- Tekanan regulasi lingkungan.
- Biaya energi dan sumber daya yang meningkat.
- Tuntutan investor terhadap pelaporan ESG.
- Konsumen semakin peduli lingkungan.
- Memberikan keunggulan kompetitif.
Komponen utama Environmental Management Accounting
- Material Flow Cost Accounting (MFCA) yaitu sebuah metode akuntansi lingkungan yang menganalisis material dan energi dalam proses produksi apakah ada yang tidak efisien atau terjadinya pemborosan dalam tahapannya.
- Environmental Cost Accounting yaitu sistem akuntansi yang berfokus pada identifikasi, mengukur, mencatat hingga melaporkan semua biaya yang terkait pada dampak lingkungan.
- Life Cycle Costing (LCC) yaitu sebuah perhitungan biaya total pada produk, proyek, teknologi dimulai dari perencanaan, produksi, penggunaan, perawatan hingga pembuangan.
- Environmental Performance Indicators (EPIs) yaitu indikator kuantitatif yang digunakan untuk mengukur kinerja lingkungan perusahaan.
Manfaat Environmental Management Accounting :
- Mengurangi biaya operasional. EMA membantu perusahaan menemukan pemborosan energi, air, dan material yang menambah biaya produksi tanpa disadari. Contoh : Pabrik tekstil menemukan bahwa 18% bahan pewarna terbuang sebagai limbah. Dengan MFCA, perusahaan memperbaiki proses pencelupan dan menghemat Rp 1,2 miliar per tahun.
- Mengurangi biaya operasional. EMA membantu perusahaan menemukan pemborosan energi, air, dan material yang menambah biaya produksi tanpa disadari. Contoh: Pabrik tekstil menemukan bahwa 18% bahan pewarna terbuang sebagai limbah. Dengan MFCA, perusahaan memperbaiki proses pencelupan dan menghemat Rp 1,2 miliar per tahun.
- Memperkuat kepatuhan lingkungan. EMA membantu perusahaan memahami biaya lingkungan dan dampak setiap aktivitas sehingga lebih mudah memenuhi regulasi. Contoh: Perusahaan minyak sawit menggunakan EMA untuk memonitor emisi boiler sehingga memenuhi baku mutu emisi Kementerian Lingkungan Hidup.
- Mendukung inovasi produk hijau (green product). Dengan memahami biaya lingkungan pada setiap proses, perusahaan dapat mendesain produk yang lebih ramah lingkungan. Contoh: Produsen elektronik menggunakan Life Cycle Costing (LCC) untuk mengembangkan lemari es hemat energi.
- Meningkatkan citra perusahaan (green branding). Perusahaan yang menunjukkan transparansi biaya dan dampak lingkungan mendapat kepercayaan lebih besar dari pelanggan, investor, dan masyarakat. Contohnya: Perusahaan kosmetik menerapkan EMA untuk memproduksi kemasan ramah lingkungan yang kemudian dipromosikan sebagai keunggulan merek (eco-friendly packaging).
Kesimpulan
EMA adalah alat strategis untuk membantu perusahaan mencapai efisiensi, kepatuhan, dan keberlanjutan jangka panjang di era ekonomi hijau.
Editor: Erizal Wibisono, S.Ak., M.Acc.


