Pemanfaatan Bahan Ramah Lingkungan dalam Konstruksi Hijau di Era Pembangunan Modern

Penulis: Rizki Andreansyah (2511036)

Pembangunan konvesional ialah pembanguna yang hanya berfokus pada hasil yang cepat tanpa memperhatikan dampak jangka panjang terhadap lingkungan, cara” seperti ini banyak dilakukan dalam pembangunan jalan, gedung, dan sebagainya. Hal ini dapat berdampak kepada lingkungan, seperti pohon – pohon yang di tebang untuk membuka lahan dapat mengakibatkan banjir akibat kurangnya resapan air. Selain itu, pembangunan konvensial juga dapat mencemari udara, air, dan tanah akibat limbah – limbah kontruksi yang dihasilkan.

A collage of different materials Description automatically generated

Gambar 1. (Sumber: manpro.id)

Pembangunan konvensial juga menyebabkan penggunaan sumber daya alam yang berlebihan seperti penggunaan pasir, batu, air dan tanah. Jika hal tersebut terus dilakukan, sumber daya alam akan rusak dan habis. Salah satu contoh nyatan yang dapat diambil adalah banjir yang terjadi di kawasan Dadok Tunggul Hitam, Padang, Sumatera Barat, 25 November 2025. Hal ini terjadi karena adanya alih fungsi lahan yang merubah daerah resapan air menjadi kawasan pemukiman ataupun kawasan usaha. Kasus ini menunjukkan dampak buruk yang terjadi ketika pembangunan fisik tanpa mempertimbangkan keberlangsungan lingkungan. Bencana ini jelas merugikan banyak pihak terutama masyarakat setempat, mulai dari kerusakan rumah hingga kematian.

Sebagai solusi atas permasalahan di atas, konsep konstruksi hijau memainkan peran penting dalam meminimalkan insiden tersebut. Konsep ini dapat meminimalkan dampak negatif pembangunan infrastruktur terhadap lingkungan. Konsep ini mencakup pemilihan material yang tepat dan pengelolaan limbah.

Material ramah lingkungan dapat didefinisikan sebagai gaya hidup yang meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan. Konsep ini mencerminkan kesadaran akan pentingnya melestarikan alam untuk generasi mendatang, sebagai berikut:

  1. Material yang dapat didaur ulang atau digunakan kembali
  2. Material dengan konsumsi energi rendah dalam proses produksinya
  3. Material lokal yang mengurangi emisi dari transportasi
  4. Material yang tidak beracun dan aman bagi kesehatan manusia

Konstruksi hijau adalah metode pembangunan yang meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan dengan melestarikan alam, menghemat energi, dan menciptakan bangunan yang aman dan nyaman bagi manusia.

Prinsip-prinsip konstruksi hijau adalah sebagai berikut:

  1. Efisiensi energi dengan mengurangi penggunaan listrik, seperti dengan menggunakan ventilasi alami di rumah.
  2. Penggunaan material ramah lingkungan, seperti yang berasal dari sumber berkelanjutan dan penggunaan material yang dapat didaur ulang.
  3. Pengelolaan air yang baik, seperti menggunakan air hujan.
  4. Pengurangan limbah: Pengelolaan sisa material yang tepat dapat meminimalkan limbah.

Meskipun banyak proyek besar di Indonesia yang tidak dikerjakan berdasarkan konsep konstruksi hijau, terdapat beberapa proyek yang telah menerapkan prinsip tersebut, sebagai berikut

  1. Bambu dalam Struktur Sekolah di Bali (Green School Bali, Badung)

Digunakan untuk komponen struktural utama Green School Bali, termasuk rangka, atap, dan pilar dipilih karena kekuatannya, bobotnya yang ringan, dan pertumbuhannya yang cepat. Dengan menggunakan bambu sebagai pengganti beton dan baja, dampak lingkungan dari proses konstruksi dapat dikurangi.

A building with a roof Description automatically generated

Gambar 2. (Sumber: magazine.urth.co)

2. Beton Hijau pada Gedung Kementerian PUPR, Jakarta

Gedung Kementerian PUPR menerapkan konsep bangunan hijau dengan penggunaan beton yang dicampur fly ash sebagai pengganti sebagian semen. Inovasi ini menurunkan emisi karbon karena produksi semen merupakan salah satu penyumbang emisi terbesar dalam konstruksi.

A building with a flag pole and trees Description automatically generated

Gambar 3. (Sumber: travel.detik.com)

3. Material Daur Ulang pada Gedung Kampus Universitas Indonesia, Depok

Beberapa bangunan di Universitas Indonesia menggunakan material daur ulang dan desain ramah lingkungan, seperti pemanfaatan kembali material bangunan lama serta penggunaan kaca untuk pencahayaan alami. Hal ini membantu mengurangi limbah konstruksi dan konsumsi energi listrik.

A diagram of a factory Description automatically generated

Gambar 4. (Sumber: eng.ui.ac.id)

4. Atap Hijau (Green Roof) di Gedung Perkantoran Jakarta Selatan Gedung perkantoran modern di kawasan Jakarta Selatan menerapkan atap hijau, yaitu atap yang ditanami vegetasi. Atap hijau berfungsi menurunkan suhu bangunan, mengurangi limpasan air hujan, dan meningkatkan kualitas udara di sekitar gedung.

Dibandingkan dengan konstruksi konvensional, penerapan bahan ramah lingkungan pada proyek-proyek tersebut terbukti mampu mengurangi emisi karbon secara signifikan, menghemat penggunaan energi dan air selama siklus bangunan, serta lebih sesuai dengan karakteristik iklim tropis. Selain itu, penggunaan material ini juga berkontribusi dalam menekan jumlah limbah konstruksi yang dihasilkan, sehingga menjadikannya pilihan yang lebih berkelanjutan dan bertanggung jawab terhadap lingkungan dalam jangka panjang

Terlepas dari berbagai kelebihannya, penerapan konstruksi hijau masih menghadapi sejumlah tantangan dan kendala, antara lain biaya awal yang relatif lebih mahal pada tahap awal pelaksanaan proyek, kurangnya pengetahuan dan kompetensi tenaga ahli terkait prinsip serta teknologi konstruksi hijau, serta ketersediaan bahan ramah lingkungan yang masih terbatas di pasaran.

Konstruksi hijau masih punya peluang besar untuk berkembang. Teknologi semakin maju dan pemerintah mulai mendorong bangunan ramah lingkungan. Di Indonesia, kebutuhan bangunan terus meningkat. Oleh karena itu, konstruksi hijau bisa jadi solusi pembangunan yang lebih berkelanjutan.

Konstruksi hijau bukan sekadar tren sesaat, melainkan sebuah kebutuhan nyata dalam menghadapi tantangan pembangunan di masa depan. Melalui penerapan prinsip-prinsip yang tepat dan konsisten, proses pembangunan tetap dapat berjalan untuk memenuhi kebutuhan manusia tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan, sehingga tercipta keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, keberlanjutan sumber daya alam, dan kualitas hidup generasi mendatang.

Editor: Hadijah Aulia Putri (2411075)

Baloi-Sei Ladi, Jl. Gajah Mada, Tiban Indah, Kec. Sekupang, Kota Batam, Kepulauan Riau 29426
(0778) 7437111
Temukan kami

Telusuri