Penulis: Akmal Muzakki (2411039)
Teknologi baru ini membuat peluang besar bagi infrastruktur lebih tahan lama sekaligus ramah lingkungan
Beton sudah menjadi tulang punggung infrastruktur modern, mulai dari gedung pencakar langit hingga jembatan antar kota. Namun, material ini memili kelemahan yang signifikat: rentan terhadap retakan. Celah kecil yang terbentuk dapat menjadi jalur masuk air, memicu korosi baja tulangan, dan berakhir pada kerusakan serius. Untuk menjawab persoalan ini, para peneliti mengembangkan self-healing concrete, beton yang mampu memperbaiki kerusakan secara mandiri melalui proses biologis maupun kimia.

Gambar 2. Ilustrasi retakan pada beton (Sumber: Aquaproof, 2023).
Bagaimana Proses Self-Healing Terjadi?
Secara alami, beton memiliki fenomena autogenous healing, yakni kemampuan menutup retakan mikro melalui pengendapan kalsium hidroksida. Namun, kemampuan ini terbatas. Inovasi terbaru memperluas mekanisme tersebut dengan menambahkan bakteri khusus seperti bacillus subtilis dan Bacillus pseudofirmus.
Bakteri tersebut ditempatkan dalam kalpsusl nutrisi yang terdistribusi di dalam campuran beton. Ketika retakan terbentuk dan air meresap, kapsul pecah, bakteri aktif, lalu menghasilkan kalsium karbonat (CaCO₃). Mineral ini kemudian mengisi celah, sehingga retakan tertutup secara alami. Riset dari Delft University of Technology menunjukkan proses ini efektif untuk menutup retakan hingga selebar 0,8 mm, ukuran yang jika dibiarkan dapat dimasuki air dan merusak struktur. Selain pendekatan biologis, terdapat metode lain yang menggunakan mikrokapsul polimer berisi resin, Saat kapsul pecah akibat retakan, resin keluar, mengeras, dan menutup celah dengan cepat.

Gambar 2. Proses penutupan retakan pada self-healing concrete dari minggu ke minggu (Sumber: Technology in Architecture, 2017).
Keunggulan Iilmiah dan Praktis
Self-Healing Concrete menghadirkan kombinasi keunggulan ilmiah dan praktis. Dari sisi ilmiah, material ini memanfaatkan bioteknologi untuk menciptakan sistem konstruksi adaptif. Dari sisi praktis, teknologi ini memperpanjang umur infrastruktur (diperkirakan hingga 30% menurut studi Cardiff University) dan memangkas biaya perawatan hingga 50%. Keunggulan ini juga berdampak pada pengurangan kebutuhan produksi semen baru yang berkontribusi besar terhadap emisi karbon global.
Penerapan Global dan Potensi di Indonesia
Banyak penelitian dilakukan di Delft University of Technology, Belanda, yang menajdi pionir dalam riset bakteri pad beton. Uji coba juga berkembang di inggris dan jepang dengan hasil yang menjajikan, terutama pada jembatan, jalan raya, dan bangunan bertingkat. Di indoensia teknologi ini punya potensi besar untuk diterapkan, terutama pada proyek-proyek infrastruktur vital yang dirancang agar bertahan puluhan tahun.
Kesimpulan
Self-healing concrete jadi langkah maju penting di bidang konstruksi. Dengan bantuan bakteri dan mineral alami, beton bisa menutup retakan tanpa perlu campuran tangan manusia. Teknologi ini bukan Cuma bikin bangunan lebih awet, tapi juga mnengurangi biaya perawaran dan dampak lingkungan. Artinya, masa depan konstruksi bisa lebih kuat, efisien, dan berkelanjutan.
Editor: Hadijah Aulia Putri (2511075)
Daftar Pustaka
Wiktor, V., & Jonkers, H. M. (2011). Quantification of crack-healing in novel bacteria-based self-healing concrete. Cement and Concrete Composites, 33(7), 763-770.
Jonkers, H. M., Thijssen, A., Muyzer, G., & Schlangen, E. (2010). Application of bacteria as self-healing agent for the development of sustainable concrete. Ecological Engineering, 36(2), 230-235.
Davies, R., Gardner, D., & Jones, K. (2017, Juni). Whole-life cost modelling of self-healing concrete. Makalah dipresentasikan pada 6th International Conference on Self-Healing Materials (ICSHM 2017), Friedrichshafen, Jerman.
White, S. R., Sottos, N. R., Geubelle, P. H., Moore, J. S., Kessler, M. R., Sriram, S. R., … & Viswanathan, S. (2001). Autonomic healing of polymer composites. Nature, 409(6822), 794-797.
Aquaproof. (2023, 14 April). Penyebab Retak pada Beton dan Cara Efektif Mengatasinya. Diakses pada 17 November 2025, dari https://aquaproof.id/id/article/penyebab-retak-pada-beton-dan-cara-efektif-mengatasinya
Technology in Architecture. (2017, 23 Oktober). Self-healing concrete: The material that heals itself. Diakses pada 17 November 2025, dari https://www.technologyinarchitecture.com/self-healing-concrete-material-heals-itself/


