Penulis: Miftahul Jannah, S.Gz., M.Gz. dan Kaila Najira Putri (2432051)

Foto oleh Engin Akyurt: pexels.com
Di tengah gaya hidup modern yang serba cepat, makanan praktis dan siap saji menjadi pilihan banyak orang. Rasanya enak, mudah didapat, dan tidak membutuhkan waktu lama untuk disiapkan. Namun, di balik kepraktisan tersebut, terdapat jenis makanan yang perlu mendapat perhatian khusus, yaitu ultra-processed foods atau makanan ultra-olahan.
Ultra-processed foods (UPF) merupakan makanan yang mengalami proses pengolahan sangat tinggi dan kompleks. Makanan ini biasanya dibuat dari berbagai bahan hasil ekstraksi, modifikasi kimia, serta penambahan zat aditif yang jarang digunakan dalam proses memasak rumahan. Contoh ultra-processed foods yang sering dikonsumsi antara lain minuman bersoda, makanan ringan kemasan, mi instan, nugget, sosis, pizza siap saji, serta makanan beku siap santap.
Untuk memahami tingkat pengolahan makanan, sistem klasifikasi NOVA membagi makanan menjadi empat kelompok. Kelompok pertama adalah makanan segar atau minim olahan seperti buah, sayur, daging, ikan, dan telur. Kelompok kedua mencakup bahan masak seperti minyak, gula, dan garam. Kelompok ketiga adalah makanan olahan seperti roti dan makanan kaleng sederhana. Sementara itu, ultra-processed foods termasuk dalam kelompok keempat, yaitu makanan hasil formulasi industri dengan banyak tahapan pengolahan dan tambahan bahan kimia.

Foto oleh Igor Ovsyannykov: pexels.com
Ciri utama ultra-processed foods adalah kandungan kalorinya yang tinggi, serta tingginya gula, garam, dan lemak tidak sehat. Sebaliknya, makanan ini umumnya rendah serat, vitamin, dan mineral yang penting bagi tubuh. Selain itu, ultra-processed foods sering mengandung bahan tambahan pangan seperti pewarna, pengawet, pemanis buatan, dan penguat rasa untuk meningkatkan cita rasa dan daya simpan.
Konsumsi ultra-processed foods yang berlebihan dapat berdampak negatif bagi kesehatan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa tingginya konsumsi UPF berkaitan dengan peningkatan risiko berbagai penyakit tidak menular. Individu dengan konsumsi UPF tertinggi diketahui memiliki risiko kematian lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang jarang mengonsumsinya. Selain itu, konsumsi UPF juga dikaitkan dengan meningkatnya risiko penyakit kardiovaskular, stroke, obesitas, diabetes, hingga gangguan kesehatan mental seperti depresi.
Di Indonesia sendiri, tingginya konsumsi makanan ultra-processed turut berkontribusi terhadap masalah gizi yang dikenal sebagai double burden dan triple burden malnutrition. Kondisi ini ditandai dengan masih adanya masalah kekurangan gizi di satu sisi, sementara di sisi lain terjadi peningkatan kasus kelebihan berat badan, obesitas, serta kekurangan zat gizi mikro.

Foto oleh Gera Cejas: pexels.com
Meskipun praktis, konsumsi ultra-processed foods sebaiknya dibatasi. Masyarakat dianjurkan untuk lebih sering memilih makanan segar dan minim olahan, memperbanyak konsumsi buah dan sayur, serta membiasakan membaca label pangan sebelum membeli produk kemasan. Selain itu, menerapkan pola makan seimbang dan gaya hidup aktif juga menjadi langkah penting dalam menjaga kesehatan.
Ultra-processed foods memang sulit dihindari di era modern. Namun, dengan meningkatkan kesadaran terhadap pilihan makanan dan membatasi konsumsinya, risiko gangguan kesehatan dapat dikurangi. Memilih makanan yang lebih alami dan bergizi merupakan investasi penting bagi kesehatan jangka panjang.
Editor: Ambarwulan, S.T.
Referensi
Monteiro, C. A., Cannon, G., Lawrence, M., Laura Da Costa Louzada, M., & Machado, P. P. (2010). Ultra-processed foods, diet quality, and health using the NOVA classification system Prepared by. In Cadernos de Saúde Pública (Vol. 26, Issue 11). http://www.wipo.int/amc/en/mediation/rules
Pagliai, G., Dinu, M., Madarena, M. P., Bonaccio, M., Iacoviello, L., & Sofi, F. (2021). Consumption of ultra-processed foods and health status: A systematic review and meta-Analysis. British Journal of Nutrition, 125(3), 308–318. https://doi.org/10.1017/S0007114520002688
Santos L. The impact of nutrition and lifestyle modification on health. Eur J Intern Med. 2022
Mar;97:18-25. doi: 10.1016/j.ejim.2021.09.020. Epub 2021 Oct 17. PMID: 34670680.


