Usia Muda Bukan Jaminan Aman: Kenali Risiko dan Hindari Mitos tentang Kanker

Penulis: dr. Aries Maulana, Sp.PA, M.H., AIFO-K

Usia muda sering dianggap sebagai masa paling sehat dalam kehidupan. Energi masih penuh, aktivitas padat, dan jarang merasa sakit.

Selama ini, banyak orang menganggap kanker sebagai penyakit yang identik dengan usia lanjut. Namun, perkembangan ilmu kesehatan menunjukkan kenyataan yang perlu menjadi perhatian: kanker tidak lagi hanya menyerang usia lanjut. Dalam beberapa tahun terakhir, terjadi peningkatan kasus kanker pada kelompok usia produktif, termasuk di bawah 50 tahun.

Menurut studi global terbaru, diperkirakan ada sekitar 18,5 juta kasus baru kanker di seluruh dunia pada tahun 2023, dan lebih dari 10,4 juta orang meninggal akibat penyakit ini, menjadikannya salah satu penyebab kematian utama di berbagai negara[1].

Angka ini menunjukkan bahwa hampir 1 dari setiap 5 orang akan didiagnosis kanker dalam hidupnya, dan hampir separuh dari mereka meninggal karena penyakit ini. Data terbaru ini menggambarkan beban kanker global yang masih sangat tinggi, sekaligus menjadi peringatan bahwa pencegahan dan deteksi dini harus menjadi prioritas kesehatan masyarakat[2].

Di Indonesia, tren beban kanker juga menunjukkan angka yang signifikan. Data epidemiologi nasional yang dirilis pemerintah mencatat bahwa pada tahun 2022 terdapat lebih dari 408.000 kasus baru kanker dengan hampir 242.000 kematian terkait kanker. Jenis kanker yang banyak ditemukan termasuk kanker payudara, kanker leher rahim, kanker paru, kolorektal, dan hati[3]. Jumlah kasus dan kematian kanker ini bukan sekadar angka statistik mereka mencerminkan realitas bahwa kanker dapat memengaruhi siapa saja, termasuk generasi yang masih produktif dan muda. Kondisi ini menjadi sangat krusial karena kanker yang terdiagnosis lebih dini umumnya memiliki peluang pengobatan yang lebih baik dan angka kelangsungan hidup yang lebih tinggi[4].

Artinya, usia muda bukan lagi jaminan bebas risiko.

Fakta ini bukan untuk menimbulkan ketakutan, melainkan untuk meningkatkan kewaspadaan. Semakin dini masyarakat memahami risiko dan tanda awal kanker, semakin besar peluang untuk mencegah keterlambatan diagnosis dan meningkatkan keberhasilan pengobatan.

Momentum Hari Kanker Anak Sedunia menjadi pengingat bahwa pencegahan dan deteksi dini harus dimulai sedini mungkin, bahkan ketika seseorang merasa sehat dan aktif.

Mengapa Kanker Bisa Terjadi di Usia Muda?

Selama puluhan tahun kanker dipandang sebagai penyakit yang lebih sering terjadi di usia lanjut. Namun data epidemiologi terbaru menunjukkan pergeseran penting: beberapa jenis kanker justru meningkat di usia muda, termasuk payudara, kolorektal (usus besar), tiroid, dan beberapa lainnya. Tren ini telah diamati di berbagai negara dan menjadi fokus penelitian dunia[5].

Mengapa Tren Ini Semakin Terlihat?

Para peneliti menyebut fenomena ini sebagai early-onset cancer, yaitu kanker yang muncul sebelum usia 50 tahun. Peningkatan ini tidak disebabkan oleh satu faktor tunggal, melainkan kombinasi beberapa perubahan besar dalam pola hidup dan lingkungan selama 20–30 tahun terakhir.

1️⃣ Paparan Faktor Risiko Dimulai Lebih Dini dan Berlangsung Lebih Lama

Generasi sekarang terpapar pola makan tinggi gula, lemak jenuh, dan makanan ultra-proses sejak usia anak-anak. Jika paparan ini dimulai pada usia 10–15 tahun dan berlangsung terus hingga dewasa, maka akumulasi kerusakan sel terjadi lebih cepat dibanding generasi sebelumnya.

Penelitian epidemiologi menunjukkan bahwa obesitas pada usia remaja dan dewasa muda berhubungan dengan peningkatan risiko kanker kolorektal, payudara, pankreas, dan ginjal di kemudian hari. Artinya, proses biologis menuju kanker bisa dimulai jauh sebelum gejala muncul.

2️⃣ Epidemi Obesitas Global (Perubahan Gaya Hidup Modern)

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO, 2023–2024 update) melaporkan peningkatan signifikan prevalensi obesitas di seluruh dunia, termasuk pada kelompok usia muda. Obesitas bukan sekadar masalah berat badan jaringan lemak berlebih menghasilkan zat inflamasi dan memengaruhi hormon seperti estrogen dan insulin.

Perubahan hormonal dan peradangan kronis inilah yang menciptakan lingkungan biologis yang mendukung pertumbuhan sel abnormal. Selain itu, Perubahan pola hidup yang terjadi dalam beberapa dekade terakhir menjadi salah satu faktor kuat yang memengaruhi risiko kanker sejak usia muda:

a. Pola makan tidak sehat

Diet tinggi makanan ultra-proses, tinggi gula, tinggi lemak jenuh, dan rendah serat telah dikaitkan dengan risiko kanker tertentu seperti kolorektal dan payudara. Perubahan pola makan seperti ini merupakan ciri gaya hidup modern di banyak kota besar.

b. Obesitas dan berat badan berlebih

Kelebihan berat badan meningkatkan risiko berbagai jenis kanker karena meningkatkan peradangan kronis, perubahan hormon, dan gangguan metabolik. Obesitas semakin umum di semua kelompok usia, termasuk di kalangan muda. Salah satu penelitian epidemiologi menunjukkan korelasi kuat antara obesitas dan meningkatnya kanker payudara pada usia produktif.

c. Aktivitas fisik yang menurun

Gaya hidup modern yang cenderung kurang bergerak meningkatkan risiko gangguan metabolik dan obesitas, yang pada akhirnya berkaitan dengan risiko kanker yang lebih tinggi.

3️⃣ Faktor Lingkungan dan Biologi

Penelitian dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa komposisi bakteri di usus (mikrobioma) mengalami perubahan akibat pola makan modern, penggunaan antibiotik berulang, dan gaya hidup sedentari. Ketidakseimbangan mikrobioma dapat memicu peradangan kronis pada saluran cerna dan berperan dalam meningkatnya kanker kolorektal usia muda. Beberapa studi molekuler bahkan menemukan pola mutasi DNA tertentu yang berkaitan dengan paparan bakteri tertentu sejak usia dini.

Selain gaya hidup, faktor lingkungan dan biologis juga diduga memainkan peran:

a. Paparan mikroorganisme tertentu

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa paparan bakteri tertentu sejak masa kecil bisa memengaruhi risiko kanker di kemudian hari. Misalnya, racun bakteri colibactin dari strain tertentu E. coli telah dikaitkan dengan mutasi DNA yang dapat memicu kanker usus besar sebelum usia 50 tahun.

b. Disrupsi mikrobioma usus

Komposisi mikrobioma komunitas bakteri di usus juga menjadi area penelitian penting. Ketidakseimbangan mikrobioma dapat memicu peradangan dan gangguan metabolik yang menaikkan risiko kanker.

4️⃣ Faktor Reproduksi dan Hormonal

Pada perempuan, perubahan pola reproduksi juga berpengaruh. Usia menarche yang lebih dini, kehamilan pertama yang lebih lambat, serta paparan hormon dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko kanker payudara tertentu pada usia lebih muda.

5️⃣ Deteksi Lebih Baik, Tetapi Bukan Satu-satunya Penyebab

Sebagian peningkatan kejadian kanker pada usia muda juga dipengaruhi oleh peningkatan deteksi dan diagnosis melalui teknologi medis yang lebih baik, pemeriksaan yang lebih awal, dan kesadaran klinis yang meningkat. Artinya beberapa kanker mungkin teridentifikasi lebih awal sekarang dibandingkan dekade sebelumnya. Namun tren peningkatan ini masih tetap nyata bahkan setelah koreksi deteksi dini.

Memang benar bahwa teknologi medis sekarang lebih canggih dan akses skrining lebih luas. Namun berbagai analisis menunjukkan bahwa peningkatan kasus bukan hanya karena deteksi lebih baik, karena kenaikan insidensi juga terlihat pada kanker yang sebelumnya jarang diskrining pada usia muda.

Kenali Gejala Kanker pada Anak dan Usia Muda yang Tidak Boleh Diabaikan

Berbeda dengan orang dewasa, kanker pada anak sering kali tidak memiliki faktor risiko gaya hidup yang jelas. Sebagian besar kanker anak terjadi karena perubahan sel yang belum sepenuhnya dipahami penyebabnya.

Sumber: Generate AI

Yang menjadi tantangan adalah: gejalanya sering menyerupai penyakit umum pada anak, sehingga mudah terlewat.

Menurut berbagai organisasi kanker anak internasional, orang tua perlu waspada jika gejala berikut muncul secara menetap atau semakin memburuk.

1. Demam Berulang Tanpa Penyebab Jelas

Demam yang datang dan pergi tanpa infeksi yang jelas, terutama bila berlangsung lebih dari dua minggu, perlu diperiksakan. Pada beberapa kasus leukemia (kanker darah), demam bisa menjadi tanda awal.

2. Pucat, Mudah Lelah, atau Mudah Memar

Anak terlihat sangat pucat, cepat lelah, atau muncul memar tanpa benturan yang jelas dapat menjadi tanda gangguan pada sel darah. Pada leukemia, sumsum tulang tidak memproduksi sel darah secara normal. Tanda lain yang menyertai bisa berupa mimisan berulang atau gusi mudah berdarah.

3. Benjolan atau Pembengkakan yang Tidak Nyeri

Benjolan di leher, perut, dada, atau anggota gerak yang tidak hilang dalam beberapa minggu perlu evaluasi. Pada anak, beberapa jenis kanker seperti limfoma atau tumor ginjal dapat muncul sebagai pembengkakan tanpa rasa sakit.

4. Nyeri Tulang atau Sendi yang Tidak Biasa

Anak sering mengeluh “nyeri tumbuh”. Namun jika nyeri:

  • Terjadi terus-menerus
  • Memburuk di malam hari
  • Disertai bengkak
  • Mengganggu aktivitas

Maka perlu pemeriksaan lebih lanjut untuk menyingkirkan kemungkinan kanker tulang atau leukemia.

5. Sakit Kepala Berat dan Muntah Berulang di Pagi Hari

Sakit kepala yang semakin sering dan berat, terutama jika disertai muntah tanpa mual atau gangguan penglihatan, bisa menjadi tanda peningkatan tekanan di dalam kepala. Pada beberapa kasus, ini berkaitan dengan tumor otak.

6. Perut Membesar atau Berat Badan Turun

Perut yang tampak membesar tanpa sebab jelas atau penurunan berat badan yang signifikan perlu diperhatikan. Beberapa kanker anak dapat berkembang di rongga perut tanpa disadari.

7. Perubahan Mata atau Penglihatan

Pupil yang tampak putih saat terkena cahaya (misalnya terlihat pada foto dengan flash), mata juling mendadak, atau gangguan penglihatan dapat menjadi tanda retinoblastoma, salah satu kanker mata pada anak.

Mengapa Gejala Ini Sering Terlambat Disadari?

Karena sebagian besar gejala tersebut menyerupai penyakit ringan sehari-hari:

  • Demam dianggap flu biasa
  • Nyeri tulang dianggap nyeri tumbuh
  • Pucat dianggap kurang makan
  • Benjolan dianggap infeksi biasa

Padahal pada kanker anak, kunci utama adalah deteksi dini. Semakin cepat terdiagnosis, semakin besar peluang keberhasilan terapi.

Mitos Berbahaya tentang Kanker Anak dan Remaja

Ini bagian penting. Banyak keterlambatan diagnosis terjadi karena kepercayaan yang salah.

Mitos 1: “Anak masih kecil, tidak mungkin kanker.

Fakta:
Kanker adalah salah satu penyebab kematian tertinggi pada anak secara global. Leukemia, tumor otak, limfoma, dan neuroblastoma justru lebih sering muncul di usia anak dibanding dewasa.

Usia muda bukan pelindung otomatis”.

Mitos 2: “Kalau tidak ada riwayat keluarga, pasti aman.”

Fakta:
Sebagian besar kanker anak tidak berhubungan dengan riwayat keluarga. Banyak kasus terjadi karena perubahan genetik spontan, bukan karena diturunkan.

Jadi jangan tunggu ada “faktor keturunan” dulu baru waspada

Mitos 3: “Anak cuma kurang darah atau kurang gizi.”

Memang anemia dan infeksi sering terjadi pada anak. Tapi bila ada:

  • Pucat berat yang tidak membaik
  • Demam berulang tanpa sebab jelas
  • Memar atau perdarahan mudah
  • Nyeri tulang menetap

Maka jangan hanya diberi vitamin atau obat penambah darah. Perlu pemeriksaan lebih lanjut.

Leukemia sering awalnya tampak seperti “anak kurang darah biasa.”

Mitos 4: “Nanti juga sembuh sendiri.”

Gejala kanker anak sering samar:

  • Sakit kepala berulang
  • Muntah pagi hari
  • Bengkak pada mata
  • Perut membesar
  • Benjolan di leher

Jika dibiarkan berbulan-bulan, stadium bisa menjadi lanjut. Waktu adalah faktor krusial.

Apa yang Harus Dilakukan Orang Tua dan Lingkungan Sekitar?

Jangan hanya takut. Lakukan langkah nyata.

1️⃣ Kenali Perubahan yang Tidak Biasa

Orang tua paling tahu kondisi anaknya. Jika ada perubahan perilaku atau fisik yang tidak seperti biasanya dan menetap lebih dari 2–3 minggu, jangan abaikan.

Perubahan yang perlu perhatian:

  • Anak tiba-tiba lesu terus-menerus
  • Berat badan turun tanpa sebab
  • Nyeri tulang yang membuat anak terbangun malam hari
  • Muntah berulang terutama pagi hari
  • Gangguan keseimbangan atau penglihatan

2️⃣ Jangan Takut Periksa Darah atau Dirujuk

Kadang orang tua takut jika dokter menyarankan pemeriksaan lanjutan. Padahal, deteksi dini bisa menyelamatkan nyawa.

Semakin cepat terdiagnosis:

  • Semakin besar peluang sembuh
  • Pengobatan lebih terkontrol
  • Risiko komplikasi lebih rendah

Banyak kanker anak memiliki tingkat kesembuhan tinggi jika ditemukan dini, terutama leukemia.

3️⃣ Peran Sekolah dan Guru

Guru sering melihat perubahan pertama:

  • Anak yang biasanya aktif menjadi pendiam
  • Sering izin sakit
  • Prestasi menurun drastis
  • Kesulitan konsentrasi mendadak

Edukasi di sekolah sangat penting. Kesadaran kolektif mempercepat rujukan.

4️⃣ Jangan Panik, Tapi Jangan Menunda

Penting membedakan antara kewaspadaan dan ketakutan berlebihan.

Tidak semua demam adalah kanker.

Tidak semua benjolan adalah tumor.

Tapi gejala yang menetap dan progresif tidak boleh diabaikan.

Setiap Anak Berhak atas Kesempatan untuk Sembuh

Hari Kanker Anak Sedunia bukan hanya tentang statistik.

Ini tentang anak-anak yang masih ingin bermain, belajar, dan bermimpi.

Kanker pada anak sering datang tanpa tanda yang dramatis. Gejalanya samar. Kadang hanya pucat. Kadang hanya lelah. Kadang hanya sakit kepala yang dianggap biasa.

Yang membuat berbahaya bukan hanya penyakitnya, tetapi keterlambatan mengenalinya.

Banyak kasus datang dalam stadium lanjut bukan karena tidak bisa diobati, tetapi karena:

  • Gejalanya diabaikan
  • Dianggap penyakit biasa
  • Takut memeriksakan diri
  • Terlambat dirujuk

Padahal pada banyak jenis kanker anak, peluang sembuh bisa sangat tinggi jika ditemukan lebih dini.

Pesan Inti Hari Kanker Anak Sedunia (15 Februari 2026)

Anak-anak tidak selalu bisa menjelaskan apa yang mereka rasakan.

Tugas orang dewasa adalah peka.

Deteksi dini bukan soal ketakutan.

Deteksi dini adalah soal tanggung jawab.

Sumber: Generate AI

Editor: Ambarwulan, S.T.

Daftar Pustaka

  1. World Health Organization. Cancer in children [Internet]. Geneva: WHO; 2023 [cited 2026 Feb 12]. Available from: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/cancer-in-children
  2. International Agency for Research on Cancer. Childhood cancer [Internet]. Lyon: IARC; 2023 [cited 2026 Feb 12]. Available from: https://www.iarc.who.int/cancer-type/childhood-cancer/
  3. World Health Organization. Global Initiative for Childhood Cancer: An overview [Internet]. Geneva: WHO; 2023 [cited 2026 Feb 12]. Available from: https://www.who.int/activities/improving-childhood-cancer-cure-rate
  4. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Rencana Aksi Nasional Kanker Anak 2025–2029 [Internet]. Jakarta: Kemenkes RI; 2025 [cited 2026 Feb 12]. Available from: https://kemkes.go.id
  5. Sung H, Ferlay J, Siegel RL, et al. Global Cancer Statistics 2020: GLOBOCAN estimates of incidence and mortality worldwide for 36 cancers in 185 countries. CA Cancer J Clin. 2021;71(3):209–249.
Baloi-Sei Ladi, Jl. Gajah Mada, Tiban Indah, Kec. Sekupang, Kota Batam, Kepulauan Riau 29426
(0778) 7437111
Temukan kami

Telusuri