Kenapa Data Disebut Sebagai “The New Oil”?

Penulis: Muhammad Ilham Ashiddiq Tresnawan, S.T., B.Sc., M.Sc.

image blog

Sumber: Heylaw.id

Di era transformasi digital, istilah “Data is the New Oil” semakin sering terdengar dalam diskusi teknologi, bisnis, dan ekonomi global. Ungkapan ini menggambarkan betapa berharganya data di zaman sekarang, bahkan disamakan dengan minyak bumi yang menjadi sumber daya paling berpengaruh dalam revolusi industri. Namun, mengapa data dianalogikan dengan minyak? Apa yang membuat data begitu bernilai hingga disebut sebagai “emas hitam” versi digital?

Secara historis, minyak menjadi komoditas strategis karena mampu menggerakkan industri, transportasi, dan perekonomian dunia. Negara atau perusahaan yang menguasai minyak memiliki kekuatan ekonomi yang besar. Hal yang serupa kini terjadi pada data. Perusahaan-perusahaan teknologi raksasa membangun model bisnisnya berdasarkan pengumpulan, pengolahan, dan analisis data pengguna. Data menjadi bahan bakar utama bagi inovasi digital.

Namun, analogi ini bukan berarti data dan minyak sepenuhnya sama. Minyak mentah tidak langsung berguna sebelum diolah menjadi bahan bakar atau produk turunan lainnya. Begitu pula data. Data mentah tidak memiliki nilai signifikan jika tidak dianalisis. Setelah diproses melalui sistem analitik, kecerdasan buatan (AI), dan machine learning, barulah data menghasilkan wawasan (insight) yang dapat digunakan untuk pengambilan keputusan strategis.

Sebagai contoh, platform e-commerce mengumpulkan data riwayat pencarian dan pembelian pengguna. Dari data tersebut, sistem dapat merekomendasikan produk yang relevan, meningkatkan peluang penjualan, serta memahami tren pasar. Contoh lain adalah layanan streaming yang menganalisis kebiasaan menonton pengguna untuk menentukan konten apa yang perlu diproduksi. Dalam sektor kesehatan, data pasien dapat dianalisis untuk mendeteksi pola penyakit dan meningkatkan kualitas layanan medis.

Ada beberapa alasan utama mengapa data disebut sebagai “The New Oil”:

Bernilai ekonomi tinggi

Data menjadi aset penting bagi perusahaan modern karena dapat meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan inovasi.

Mendorong inovasi teknologi

Kecerdasan buatan, sistem rekomendasi, dan otomatisasi bergantung pada data dalam jumlah besar.

Menjadi dasar pengambilan Keputusan

Organisasi kini menggunakan pendekatan berbasis data (data-driven decision making) untuk mengurangi risiko dan meningkatkan akurasi strategi.

Menciptakan keunggulan kompetitif

Perusahaan yang mampu mengelola dan menganalisis data dengan baik akan memiliki posisi lebih kuat di pasar.

Membentuk ekonomi digital

Banyak model bisnis modern seperti periklanan digital, fintech, dan marketplace bertumpu pada pemanfaatan data pengguna.

Meski demikian, perbandingan antara data dan minyak juga memiliki sisi kritis. Berbeda dengan minyak yang jumlahnya terbatas, data justru terus bertambah setiap detik seiring aktivitas manusia di dunia digital. Setiap klik, pencarian, transaksi, dan interaksi di media sosial menghasilkan data baru. Selain itu, penggunaan data juga menimbulkan tantangan serius terkait privasi, keamanan, dan etika.

Isu kebocoran data, penyalahgunaan informasi pribadi, serta pengawasan digital menjadi perhatian global. Jika minyak dapat mencemari lingkungan fisik, maka data yang disalahgunakan dapat mencemari kepercayaan publik. Oleh karena itu, regulasi seperti perlindungan data pribadi menjadi sangat penting dalam menjaga keseimbangan antara inovasi dan hak individu.

Di masa depan, nilai data diperkirakan akan semakin meningkat seiring berkembangnya Internet of Things (IoT), smart city, kendaraan otonom, serta teknologi berbasis AI. Data akan menjadi fondasi bagi berbagai sistem pintar yang membantu manusia dalam kehidupan sehari-hari. Namun, pengelolaan data yang bijak dan bertanggung jawab tetap menjadi kunci utama agar “emas digital” ini tidak menimbulkan dampak negatif.

Secara keseluruhan, data disebut sebagai “The New Oil” karena perannya yang sangat strategis dalam menggerakkan ekonomi dan inovasi modern. Seperti minyak di masa lalu, data menjadi sumber daya yang menentukan kekuatan dan daya saing suatu organisasi atau negara. Namun berbeda dengan minyak, nilai data tidak hanya terletak pada kepemilikannya, melainkan pada kemampuan untuk mengolah, melindungi, dan memanfaatkannya secara etis dan cerdas.

🔍 Tertarik mendalami teknologi informasi? Cek Program Studi Teknologi Informasi  Universitas Internasional Batam dan pilih peminatanmu: Cloud Engineering, Smart Systems, atau Cyber Intelligence. Segera daftarkan dirimu di Pendaftaran Program Sarjana Teknologi Informasi.

Editor: Ambarwulan, S.T.

Referensi

  • The Economist. (2017). The World’s Most Valuable Resource is No Longer Oil, But Data.
  • Mayer-Schönberger, V., & Cukier, K. (2013). Big Data: A Revolution That Will Transform How We Live, Work, and Think.
  • Brynjolfsson, E., & McAfee, A. (2014). The Second Machine Age.
  • Davenport, T. H., & Harris, J. G. (2017). Competing on Analytics.
  • World Economic Forum. (2020). Data as a New Economic Asset.
  • OECD. (2019). Enhancing Access to and Sharing of Data.
  • McKinsey Global Institute. (2016). The Age of Analytics.
  • NIST. (2020). Data Governance and Risk Management Guidelines.
  • Laudon, K. C., & Laudon, J. P. (2022). Management Information Systems.

Baloi-Sei Ladi, Jl. Gajah Mada, Tiban Indah, Kec. Sekupang, Kota Batam, Kepulauan Riau 29426
(0778) 7437111
Temukan kami

Telusuri