Penulis: Zaynulia Afifa (2331033)

Sumber: www.newscientist.com
Teknologi Virtual Reality (VR) selama ini dikenal sebagai media yang memungkinkan pengguna masuk ke dalam dunia digital melalui tampilan visual tiga dimensi serta dukungan audio yang imersif. Namun perkembangan teknologi terbaru menghadirkan konsep yang lebih maju, yaitu Sensory VR. Berbeda dari VR konvensional yang hanya mengandalkan penglihatan dan suara, Sensory VR dirancang untuk merangsang lebih banyak indera manusia seperti sentuhan, tekanan, suhu, bahkan aroma. Dengan pendekatan multisensorik ini, pengalaman berada di dunia virtual dapat terasa jauh lebih realistis dan mendalam.
Secara konsep, Sensory VR merupakan evolusi dari teknologi realitas virtual yang menggabungkan berbagai perangkat tambahan seperti sarung tangan haptic (haptic gloves), rompi dengan umpan balik getaran, treadmill omnidirectional, serta sistem penghasil aroma digital. Integrasi perangkat tersebut membuat pengguna tidak hanya melihat lingkungan virtual, tetapi juga dapat merasakan interaksi fisik dengan objek di dalamnya. Misalnya ketika pengguna menyentuh sebuah objek virtual, perangkat haptic dapat memberikan sensasi tekanan atau tekstur tertentu sehingga pengalaman digital terasa lebih nyata.
Dalam perspektif Teknologi Informasi (TI), Sensory VR tidak hanya berkaitan dengan perangkat keras, tetapi juga sangat bergantung pada sistem komputasi yang kompleks. Teknologi ini memerlukan pemrosesan grafis real-time, algoritma simulasi fisika, sistem jaringan berlatensi rendah, serta integrasi kecerdasan buatan untuk memastikan semua rangsangan sensorik dapat tersinkronisasi dengan baik. Sistem komputer harus mampu memproses data visual, audio, dan umpan balik sensorik secara simultan agar pengalaman virtual tetap stabil dan responsif.
Konsep ini bekerja berdasarkan prinsip bahwa persepsi manusia terhadap dunia terbentuk dari integrasi berbagai indera. Otak manusia secara alami menggabungkan informasi visual, suara, sentuhan, serta sinyal sensorik lainnya untuk membentuk pengalaman realitas. Sensory VR mencoba meniru mekanisme tersebut melalui sinkronisasi multisensorik berbasis sistem komputasi. Ketika rangsangan visual, audio, dan haptic diproses serta disampaikan secara presisi oleh sistem TI, otak dapat menafsirkan pengalaman tersebut sebagai sesuatu yang nyata.
Dalam bidang Teknologi Informasi dan komputasi, Sensory VR juga membuka peluang baru dalam pengembangan sistem simulasi. Pengembang perangkat lunak harus merancang engine grafis, sistem pemodelan 3D, serta algoritma interaksi pengguna yang mampu memproses lingkungan virtual secara kompleks. Selain itu, teknologi seperti cloud computing dan edge computing juga dapat digunakan untuk memproses data VR dalam skala besar sehingga pengalaman virtual dapat diakses oleh banyak pengguna secara bersamaan.
Dalam dunia pendidikan berbasis teknologi, Sensory VR berpotensi mengubah metode pembelajaran digital. Mahasiswa di bidang kedokteran dapat melakukan simulasi operasi dengan merasakan resistensi jaringan tubuh secara virtual. Dalam bidang teknik atau teknologi informasi, mahasiswa dapat melakukan simulasi perbaikan sistem jaringan, pengujian perangkat keras, atau simulasi lingkungan industri tanpa harus berada di lokasi sebenarnya. Hal ini membuat proses pembelajaran menjadi lebih interaktif, aman, dan berbasis pengalaman langsung.
Dalam industri hiburan digital dan pengembangan game, Sensory VR juga membawa perubahan besar. Pengalaman bermain game dapat menjadi jauh lebih imersif ketika pemain tidak hanya melihat dunia virtual, tetapi juga merasakan getaran, tekanan, atau perubahan suhu yang disimulasikan oleh perangkat. Dalam pengembangan game modern, teknologi ini membutuhkan engine grafis canggih, sistem rendering real-time, serta integrasi perangkat sensorik agar pengalaman virtual terasa konsisten.
Selain itu, Sensory VR juga memiliki potensi besar dalam pengembangan metaverse dan lingkungan kerja virtual. Dalam konteks teknologi informasi, platform kolaborasi berbasis VR memungkinkan pengguna bekerja, berinteraksi, atau melakukan pertemuan dalam ruang virtual yang terasa nyata. Dengan tambahan rangsangan sensorik, interaksi digital dapat terasa lebih natural dibandingkan komunikasi melalui layar biasa.
Meskipun memiliki potensi besar, Sensory VR masih menghadapi berbagai tantangan teknologi. Perangkat keras multisensorik cenderung mahal dan belum sepenuhnya praktis untuk penggunaan luas. Selain itu, sinkronisasi antara berbagai rangsangan sensorik memerlukan sistem komputasi yang sangat presisi agar tidak menimbulkan disorientasi atau motion sickness pada pengguna. Tantangan lain juga berkaitan dengan keamanan data, privasi pengguna, serta integrasi sistem jaringan berkecepatan tinggi.
Secara keseluruhan, Sensory VR merupakan perkembangan penting dalam dunia teknologi informasi yang berupaya membawa pengalaman digital ke tingkat yang lebih realistis. Dengan menggabungkan teknologi virtual reality, sistem sensorik, kecerdasan buatan, dan komputasi real-time, Sensory VR berpotensi mengubah cara manusia belajar, bekerja, berinteraksi, serta menikmati hiburan digital. Walaupun teknologi ini masih dalam tahap pengembangan dan belum sepenuhnya matang, arah inovasinya menunjukkan bahwa masa depan realitas virtual tidak hanya akan terlihat nyata, tetapi juga dapat dirasakan secara langsung oleh pengguna.
🔍 Tertarik mendalami Teknologi Informasi? Cek Program Studi Teknologi Informasi Universitas Internasional Batam dan pilih peminatanmu: Cloud Engineering, Smart Systems, atau Cyber Intelligence. Segera daftarkan dirimu di Pendaftaran Program Sarjana Teknologi Informasi.
Editor: Ambarwulan, S.T.
Referensi
- Burdea, G., & Coiffet, P. (2003). Virtual Reality Technology (2nd ed.). Wiley.
- Sherman, W. R., & Craig, A. B. (2018). Understanding Virtual Reality: Interface, Application, and Design (2nd ed.). Morgan Kaufmann.
- Jerald, J. (2015). The VR Book: Human-Centered Design for Virtual Reality. Morgan & Claypool.
- Slater, M., & Sanchez-Vives, M. V. (2016). Enhancing Our Lives with Immersive Virtual Reality. Frontiers in Robotics and AI.
- Steinicke, F., Visell, Y., Campos, J., & Lécuyer, A. (2013). Human Walking in Virtual Environments. Springer.
- LaValle, S. M. (2017). Virtual Reality. Cambridge University Press.
- Riva, G., Wiederhold, B. K., & Mantovani, F. (2019). Neuroscience of Virtual Reality: From Virtual Exposure to Embodied Medicine. Cyberpsychology, Behavior, and Social Networking.
- Dinh, H. Q., et al. (1999). Evaluating the Importance of Multi-Sensory Input on Memory and the Sense of Presence in Virtual Environments. IEEE Virtual Reality Conference.
- Lécuyer, A. (2017). Simulating Haptic Feedback Using Vision: A Survey of Research and Applications. ACM Computing Surveys.


