Bahu Jalan yang “Kandas” menjadi Problematika Kerusakan Jalan di Kota Batam

Penulis: Siska Dwi Wulan Ndari (2511043)

1. Pendahuluan

Kota Batam merupakan kawasan strategis nasional yang berkembang pesat sebagai pusat industri, perdagangan, dan investasi. Infrastruktur jalan menjadi elemen vital dalam menunjang mobilitas barang dan manusia. Namun dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat kerap mengeluhkan kondisi jalan yang cepat rusak meskipun baru saja diperbaiki. Kerusakan umumnya berupa retak tepi dan lubang kecil yang muncul di sisi badan jalan, terutama pada titik yang sering tergenang air saat hujan. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan: apakah penyebab utama kerusakan tersebut hanya karena kualitas aspal, atau terdapat faktor lain yang lebih mendasar?

C:\Users\ASUS\Downloads\WhatsApp Image 2026-03-10 at 11.21.35.jpeg

2. Pembahasan

2.1 Curah Hujan Tinggi dan Tekanan terhadap Struktur Jalan

Sebagai wilayah tropis, Batam memiliki curah hujan tahunan berkisar 2.000 – 3.000 mm per tahun menurut data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. Intensitas ini tergolong menengah hingga tinggi. Dalam ilmu teknik perkerasan jalan, air merupakan salah satu faktor utama penyebab kegagalan struktur. Air yang menggenang akan meresap ke dalam lapisan pondasi (base dan subbase), menurunkan daya dukung tanah, dan mempercepat proses retak serta terbentuknya lubang (potholes). Artinya, kota dengan curah hujan tinggi membutuhkan sistem drainase dan desain bahu jalan yang optimal.

2.2 Fungsi Bahu Jalan dalam Sistem Drainase

Secara teknis, bahu jalan berfungsi sebagai:

    1. Penopang tepi perkerasan
    2. Jalur pengaliran air menuju saluran drainase
    3. Pelindung struktur bawah dari infiltrasi langsung

Apabila bahu jalan tidak tersedia atau beralih fungsi menjadi area parkir dan perluasan bangunan, maka air akan tertahan di tepi aspal. Kerusakan tepi (edge cracking) pun tidak terhindarkan. Masalah ini menjadi krusial ketika drainase juga tidak berfungsi maksimal akibat sedimentasi atau penyempitan saluran.

2.3 Alih Fungsi Ruang untuk Jalan

Di sejumlah lokasi, ruang milik jalan (Rumija) mengalami penyempitan akibat pembangunan yang tidak terkendali. Bahu jalan yang seharusnya menjadi area resapan dan aliran air berubah menjadi permukaan beton permanen. Kondisi ini menghilangkan fungsi hidrologis alami dan mempercepat terjadinya genangan. Tanpa penegakan aturan tata ruang yang konsisten, perbaikan jalan hanya akan menjadi solusi sementara.

2.4 Dampak Sosial dan Ekonomi

Kerusakan jalan berdampak langsung pada:

  1. Meningkatnya risiko kecelakaan lalu lintas
  2. Bertambahnya biaya perawatan kendaraan
  3. Kemacetan akibat pengendara menghindari lubang
  4. Terganggunya distribusi logistik

Sebagai kota industri dan perdagangan, kualitas infrastruktur jalan berpengaruh terhadap efisiensi ekonomi secara keseluruhan.

3. Penutup

Kerusakan jalan di Batam tidak dapat dipandang sebagai persoalan teknis semata. Faktor curah hujan tinggi, sistem drainase yang belum optimal, serta alih fungsi bahu jalan menjadi penyebab yang saling berkaitan. Solusi yang diperlukan bukan hanya tambal sulam, melainkan pendekatan komprehensif berupa audit drainase, revitalisasi bahu jalan sesuai standar teknis, serta penegakan aturan tata ruang secara konsisten. Modernitas sebuah kota tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonominya, tetapi juga dari ketahanan infrastruktur dasarnya. Jika Batam ingin memiliki jalan yang lebih awet dan aman, maka perhatian harus diberikan tidak hanya pada aspalnya, tetapi juga pada elemen pendukung di sekitarnya seperti bahu jalan dll.

Editor: Hadijah Aulia Putri (2411075)

Baloi-Sei Ladi, Jl. Gajah Mada, Tiban Indah, Kec. Sekupang, Kota Batam, Kepulauan Riau 29426
(0778) 7437111
Temukan kami

Telusuri