Penulis: Wardatul Aini, S. Si., M. Si.

(Gambar dibuat melalui canva.com)
Belakangan ini, istilah hantavirus kembali ramai diperbincangkan di berbagai media dan media sosial. Munculnya pemberitaan mengenai infeksi virus yang ditularkan oleh tikus membuat banyak orang bertanya-tanya: apakah hantavirus merupakan virus baru seperti COVID-19?
Sebenarnya, hantavirus bukanlah virus baru. Virus ini telah lama dikenal dan dipelajari dalam dunia medis. Dalam artikel “Hantavirus Infection” yang diterbitkan oleh jurnal Disease of the Month, dijelaskan bahwa penyakit yang diduga berkaitan dengan hantavirus bahkan telah dilaporkan sejak berabad-abad lalu. Namun, virus penyebabnya baru berhasil diidentifikasi pada tahun 1978, yaitu Hantaan virus. Hingga saat ini, lebih dari 20 spesies hantavirus telah diketahui tersebar di berbagai belahan dunia. Selain itu, World Health Organization (WHO) juga menjelaskan bahwa hantavirus merupakan kelompok virus yang dibawa oleh hewan pengerat, terutama tikus, dan telah ditemukan di berbagai negara sejak lama.
Apa Itu Hantavirus?
Hantavirus adalah kelompok virus yang ditularkan terutama melalui hewan pengerat, terutama tikus. Virus ini dapat menyebabkan dua jenis penyakit utama pada manusia, yaitu Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang menyerang ginjal, dan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang paru-paru.

Gambar 1. Struktur Hantavirus (Source: Muranyi et al., 2005)

Gambar 2. Struktur Hantavirus (Source: Afzal et al., 2023)
Mengapa Hantavirus Kembali Menjadi Perhatian?
Meskipun bukan virus baru, hantavirus kembali mendapat perhatian karena kasus infeksinya masih ditemukan di berbagai negara. Selain itu, beberapa jenis hantavirus dapat menyebabkan penyakit serius dengan tingkat kematian yang cukup tinggi, terutama pada kasus yang menyerang paru-paru.
Virus ini menyebar melalui urin, air liur, atau kotoran tikus yang terinfeksi. Penularan dapat terjadi ketika seseorang menghirup debu yang telah terkontaminasi virus, terutama saat membersihkan gudang, loteng, atau ruangan yang lama tidak digunakan
Apa Gejalanya?
Gejala awal hantavirus sering menyerupai flu biasa, seperti:
- demam,
- sakit kepala,
- nyeri otot,
- mual,
- dan tubuh terasa lemas.
Namun, pada kondisi berat, infeksi dapat berkembang menjadi gangguan paru-paru dan ginjal yang serius. Pada sindrom paru (HPS), penderita dapat mengalami sesak napas berat akibat penumpukan cairan di paru-paru.
Apakah Hantavirus Menular Antar Manusia?
Sebagian besar hantavirus tidak mudah menular antar manusia. Penularan utamanya berasal dari kontak dengan hewan pengerat yang terinfeksi. Namun, beberapa penelitian melaporkan bahwa jenis tertentu, seperti Andes virus di Amerika Selatan, diduga dapat menular antar manusia meskipun kasusnya relatif jarang.
Bagaimana Cara Mencegahnya?
Pencegahan hantavirus dapat dilakukan dengan:
- menjaga kebersihan lingkungan,
- mengendalikan populasi tikus,
- menggunakan masker saat membersihkan area berdebu,
- serta menghindari kontak langsung dengan tikus atau kotorannya.
Hingga saat ini belum ada terapi spesifik yang benar-benar efektif untuk semua infeksi hantavirus, sehingga pencegahan menjadi langkah yang paling penting.
Editor: Ambarwulan, S.T.
Referensi
Afzal, S., Ali, L., Batool, A., Afzal, M., Kanwal, N., Hassan, M., Safdar, M., Ahmad, A. dan Yang, J. (2023) Hantavirus: an overview and advancements in therapeutic approaches for infection. Front. Microbiol, 14:1233433. Doi: 10.3389/fmicb.2023.1233433
Muranyi, W., Bahr, B., Zeier, M., dan van der Woude, F. J. (2005). Hantavirus Infection. J Am Soc Nephrol,16: 3669–3679, 2005. Doi: 10.1681/ASN.2005050561.
Bi, Z., Formenty, P. B. H., Roth, C. E. (2008). Hantavirus Infection: a review and global update. J Infect Developing Countries, 2(1):3-23. Doi: 10.3855/jidc.317.


