935 Serangan DDoS di Atas 1 Tbps dalam Enam Bulan, Ini Kenapa Skill Jaringan Komputer Jadi Kunci bagi Mahasiswa TI

Penulis: Haeruddin, S.Kom., M.MSI | Editor: Gilang Ananda, S.Kom.,M.M

(Sumber: temika.co.id)

Bayangkan sebuah layanan digital sedang berada pada jam tersibuk. Pengguna mengakses aplikasi, transaksi berjalan, data bergerak antarserver, lalu dalam hitungan detik trafik melonjak begitu besar hingga layanan melambat atau bahkan tidak dapat diakses.

Situasi seperti ini bukan lagi skenario ekstrem. Dalam laporan DDoS Threat Report H1 2026, Cloudflare mencatat 935 serangan DDoS pada lapisan jaringan yang masing-masing melampaui 1 Tbps. Sebanyak 805 serangan di antaranya terjadi pada kuartal II saja, meningkat lebih dari enam kali lipat dibanding kuartal sebelumnya. Indonesia sendiri tetap berada di posisi ketiga sebagai sumber trafik DDoS pada Q1 dan Q2 2026, catatan yang menunjukkan asal trafik serangan yang teramati, bukan otomatis berarti pelakunya berada di Indonesia.

Pada saat yang sama, ketergantungan masyarakat terhadap jaringan terus membesar. APJII melaporkan bahwa pada 2026 penetrasi internet Indonesia telah mencapai 81,72 persen atau sekitar 235 juta pengguna. Artinya, semakin banyak aktivitas belajar, bisnis, komunikasi, layanan publik, cloud, hingga perangkat Internet of Things (IoT) yang bergantung pada jaringan yang harus tetap cepat, aman, dan tersedia.

Masalahnya, jaringan sering baru terasa penting ketika sudah gagal. Cisco dalam Cybersecurity Readiness Index 2025 menemukan hanya 4 persen organisasi global berada pada tingkat Mature dalam kesiapan keamanan siber. Bahkan 71 persen responden memperkirakan insiden siber dapat mengganggu bisnis mereka dalam 12–24 bulan.

Bagi calon mahasiswa Teknologi Informasi, pesannya sederhana: memahami jaringan bukan sekadar belajar menghubungkan komputer. Ini adalah kemampuan memahami bagaimana layanan digital tetap hidup ketika menghadapi lonjakan trafik, kesalahan konfigurasi, serangan, dan kegagalan perangkat.

Jaringan Modern Bukan Sekadar Kabel dan Wi-Fi

Di balik satu klik pada aplikasi terdapat rangkaian proses: perangkat memperoleh alamat IP, mencari layanan melalui DNS, memilih jalur melalui router, melewati switch, firewall, server, dan mungkin infrastruktur cloud sebelum respons kembali ke pengguna. Kesalahan kecil pada satu titik dapat berdampak luas.

Gambaran skalanya terlihat dari data Cloudflare Radar. Pada Juli 2026, Indonesia tercatat memiliki sekitar 3.400 Autonomous Systems (AS) dan sekitar 26.000 prefix jaringan yang diumumkan ke Internet. Ini menunjukkan bahwa Internet bukan satu jaringan besar yang bekerja sendiri, melainkan kumpulan ribuan jaringan yang saling terhubung dan bertukar informasi routing.

Karena itu, calon profesional TI perlu memahami IP addressing, subnetting, switching, VLAN, routing, DNS, DHCP, IPv6, wireless networking, serta bagaimana setiap komponen saling memengaruhi. Ketika sebuah layanan tidak dapat diakses, kemampuan yang bernilai bukan hanya mengatakan, “internetnya down”, tetapi menemukan titik gangguan dan menjelaskan penyebabnya.

Ancaman Datang Cepat, Respons Manual Sering Terlambat

Cloudflare mencatat lebih dari 90 persen serangan network-layer DDoS yang ditanganinya pada semester pertama 2026 berakhir dalam waktu kurang dari 10 menit. Bahkan serangan yang sangat besar dapat berlangsung hanya puluhan detik. Dalam kondisi seperti itu, menunggu seseorang melihat notifikasi kemudian melakukan konfigurasi secara manual sering kali tidak cukup cepat.

Di sinilah jaringan bertemu dengan cybersecurity dan automation. Segmentasi jaringan membantu membatasi dampak gangguan. Access Control List dan firewall mengatur trafik yang boleh melewati jaringan. Monitoring membantu menemukan anomali. Sementara redundancy membantu mempertahankan ketersediaan layanan ketika salah satu jalur atau perangkat mengalami kegagalan.

Di lingkungan teknologi modern, prinsip yang sama berkembang ke cloud networking, data center, jaringan enterprise, dan hybrid infrastructure.

Bagi calon mahasiswa, ini mengubah cara melihat jaringan komputer: bukan sebagai pelajaran tentang perangkat semata, tetapi sebagai fondasi availability, performance, dan security untuk hampir semua layanan digital.

Di Prodi Teknologi Informasi UIB, Jaringan Dibangun dari Dasar hingga Enterprise

Kebutuhan tersebut menjadi salah satu alasan kompetensi jaringan memiliki posisi penting dalam pembelajaran Program Studi Teknologi Informasi Universitas Internasional Batam.

Pada kurikulum Prodi TI UIB, mahasiswa mulai mempelajari Jaringan dan Komunikasi Data beserta laboratoriumnya pada semester II. Pembelajaran kemudian berkembang ke Jaringan Terapan dan Administrasi Sistem pada semester III. Memasuki semester IV, mahasiswa bertemu dengan Jaringan Enterprise, Keamanan Jaringan, Teknologi Server dan Pusat Data, serta Lab Keamanan dan Jaringan Enterprise. Kurikulum juga mencakup Jaringan Nirkabel, Komputasi Awan, Cloud Security, dan Cloud Operation.

Artinya, mahasiswa tidak berhenti pada teori topologi atau hafalan protokol. Mereka diarahkan untuk memahami bagaimana jaringan dirancang, dikonfigurasi, diamankan, diuji, dan diintegrasikan dengan server maupun layanan cloud.

Arah tersebut sejalan dengan profil lulusan Prodi TI UIB yang secara konkret mencantumkan Network Engineer dan Cloud Engineer sebagai bagian dari profil lulusan program studi.

Untuk calon mahasiswa yang tertarik pada infrastruktur, cybersecurity, cloud, atau sistem terhubung, jalurnya menjadi lebih jelas: mulai dari memahami bagaimana sebuah paket data bergerak, kemudian meningkat ke bagaimana jaringan skala organisasi dibuat tetap aman dan tersedia.

Setelah Lulus, Masalahnya Bukan Lagi Sekadar “Bisa Internetan atau Tidak”

Seorang lulusan dengan fondasi jaringan yang kuat dapat mengambil peran yang jauh lebih konkret.

Sebagai Network Engineer, ia dapat merancang segmentasi jaringan, routing, konektivitas antarperangkat, dan redundancy. Sebagai Network Security Engineer atau bagian dari tim Security Operations, ia dapat menganalisis trafik mencurigakan dan menerapkan kontrol keamanan.

Sebagai Cloud Engineer, ia dapat bekerja dengan virtual network, subnet, gateway, load balancing, keamanan cloud, dan konektivitas hybrid. Sementara dalam peran Infrastructure Engineer atau Network Operations Center (NOC) Engineer, ia dapat memonitor performa jaringan, membaca pola gangguan, dan melakukan troubleshooting berdasarkan data.

Kemampuan tersebut penting karena dunia digital tidak hanya membutuhkan aplikasi yang bagus. Sebuah aplikasi juga harus dapat diakses, aman, memiliki performa yang baik, dan tetap berjalan ketika trafik meningkat atau sebagian infrastrukturnya gagal.

Jika angka 935 serangan DDoS di atas 1 Tbps dalam enam bulan tadi terdengar seperti masalah yang hanya dihadapi perusahaan teknologi besar, justru di situlah calon mahasiswa TI perlu mulai melihat tantangannya lebih awal.

Jaringan adalah lapisan yang membuat hampir semua teknologi lain dapat bekerja.

Cari tahu lebih lanjut tentang Program Studi Teknologi Informasi  Universitas Internasional Batam dan pilih peminatanmu: Cloud Engineering, Smart Systems, atau Cyber Intelligence, konsultasikan peminatan yang sesuai dengan minatmu bersama tim akademik kami. Segera daftarkan dirimu di Pendaftran Program Sarjana Teknologi Informasi.

Referensi

Cloudflare. (2026). Cloudflare DDoS Threat Report H1 2026: 1 Tbps attacks soar as DNS floods and geopolitical tensions drive a new wave.
https://blog.cloudflare.com/ddos-threat-report-2026-h1/

Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII). (2026). Tiga Dekade APJII Dorong Konektivitas Inklusif hingga Wilayah 3T.
https://apjii.or.id/berita/d/tiga-dekade-apjii-dorong-konektivitas-inklusif-hingga-wilayah-3t

Cisco. (2025). 2025 Cisco Cybersecurity Readiness Index.
https://newsroom.cisco.com/c/r/newsroom/en/us/a/y2025/m05/cybersecurity-readiness-index-2025.html

Cloudflare Radar. (2026). Routing Information in Indonesia.
https://radar.cloudflare.com/routing/id

Universitas Internasional Batam. (2026). Kurikulum Teknologi Informasi.
https://www.uib.ac.id/ti/kurikulum-ti/

Universitas Internasional Batam. (2026). Program Studi Teknologi Informasi.
https://www.uib.ac.id/ti/

Baloi-Sei Ladi, Jl. Gajah Mada, Tiban Indah, Kec. Sekupang, Kota Batam, Kepulauan Riau 29426
(0778) 7437111
Temukan kami

Telusuri