Penulis: Prananingrum Kinasih, S.GZ., M.Gz. dan Kaila Najira Putri (2432051)

Foto oleh Mikhail Nilov: images.pexels.com
Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, banyak aktivitas kini bisa dilakukan dengan mudah tanpa harus banyak bergerak. Mulai dari belajar, bekerja, hingga hiburan, semuanya bisa dilakukan sambil duduk berlama-lama. Tanpa disadari, kebiasaan ini membentuk gaya hidup sedentari, yaitu pola hidup dengan aktivitas fisik yang sangat minim.
Gaya hidup sedentari banyak terjadi pada berbagai kelompok usia. Anak-anak dan remaja sering menghabiskan waktu di depan layar untuk menonton, bermain games, atau menggunakan perangkat digital. Sementara itu, orang dewasa, khususnya pekerja kantoran, cenderung duduk dalam waktu lama karena tuntutan pekerjaan dan rutinitas harian.
Kebiasaan duduk terlalu lama tanpa diselingi aktivitas fisik dapat berdampak pada kesehatan. Kurangnya gerakan membuat tubuh membakar lebih sedikit energi, sehingga meningkatkan risiko penumpukan lemak dan obesitas. Selain itu, gaya hidup sedentari juga dapat mengganggu pengaturan gula darah, yang dalam jangka panjang berisiko menyebabkan diabetes melitus tipe 2. Risiko penyakit jantung pun dapat meningkat akibat berkurangnya aktivitas fisik.

Foto oleh Andrea Piacquadio: pexels.com
Tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, gaya hidup sedentari juga memengaruhi kesehatan mental. Kurangnya aktivitas fisik dapat menyebabkan perubahan suasana hati, menurunnya motivasi, dan membuat tubuh lebih mudah merasa lelah. Dalam jangka panjang, kondisi ini juga dapat menurunkan kebugaran tubuh, menyebabkan nyeri punggung dan leher, serta memengaruhi postur tubuh.
Untuk mengurangi dampak gaya hidup sedentari, perubahan kecil dalam keseharian bisa memberikan manfaat besar. Mengambil jeda sejenak untuk berdiri atau berjalan, memilih menggunakan tangga, serta meluangkan waktu untuk berolahraga ringan secara rutin merupakan langkah sederhana yang dapat dilakukan. Dengan membiasakan tubuh untuk lebih aktif, kesehatan fisik dan mental dapat terjaga dengan lebih baik. Gaya hidup sedentari memang sulit dihindari di era modern. Namun, dengan kesadaran untuk bergerak lebih banyak setiap hari, risiko gangguan kesehatan dapat diminimalkan dan kualitas hidup pun dapat ditingkatkan.
Editor: Ambarwulan, S.T.
Referensi
Nafi’ah Niswatun, & Hadi Nurlaella Ella. (2022). Perilaku Sedentari dan Determinannya: Literature Review. Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI), 5(12), 1498–1505.
Park, J., Moon, J., Kim, H., Kong, M., & Oh, Y. (2020). Estilo de vida sedentario: descripción general deevidencia actualizada de riesgos potenciales de salud. Korean Journal of Family Medicine, 41(6), 365–373. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC7700832/pdf/kjfm-20-0165.pdf


