Mengapa Salmon Berwarna Oranye? Mengungkap Sains di Balik Perjalanan Hidup Paling Tangguh

Penulis: Witri Winanda, S.Si., M.Si.

Perjalanan Ribuan Kilometer

Salmon merupakan sebutan untuk sejumlah spesies ikan yang tergolong dalam famili Salmonidae. Ikan ini ditemukan hidup di perairan Samudra Atlantik maupun Pasifik. Salmon dikenal sebagai ikan anadromus, yakni hewan yang hidup di dua ekosistem mereka menetas di sungai (ekosistem air tawar), kemudian bermigrasi ke laut lalu tumbuh dewasa disana. Siklus hidup ikan salmon bermula di ekosistem air tawar, bertelur dan menetas biasanya di bulan November. Kemudian tumbuh dan berkembang menjadi “smolt” yang kemudian bergerak ke muara sungai menuju lautan. Petualangan salmon di lautan berkisar 4-7 tahun. Selanjutnya kembali lagi ke habitat awal untuk bereproduksi. Siklus hidup unik ini menuntut salmon menempuh perjalanan sangat jauh, menghadapi arus kuat dan berbagai hambatan alami. Perilaku “pulang kampung” atau homing behavior terbukti dipandu oleh tiga hal utama; memori aroma kimiawi sungai, orientasi magnetik bumi, dan suhu serta arus. Sesampai di hulu sungai salmon betina akan membuat sarang lalu melepaskan telur yang siap dibuahi. Selesai pembuahan salmon jantan dan betina akan tinggal beberapa hari di sekitar sarang hingga akhirnya mati kehabisan energi.

Pink salmon caught in N.L. likely from Russian stocking program | CBC News Salmon Anatomy Diagram Uri Hamman Scientific Illustration

Gambar 1. Anatomi ikan salmon

Dari Mana Warna Oranye Salmon Berasal?

Salmon sebenarnya tidak terlahir dengan daging berwarna jingga. Warna khas tersebut berasal dari akumulasi karotenoid terutama astaxanthin yang diperoleh dari makanan seperti zooplankton, dan alga. Pigmen ini ditransfer melalui rantai makanan dan terakumulasi dalam otot, sehingga menghasilkan warna merah muda hingga oranye pekat. Astaxanthin tidak hanya menjadi pewarna, tetapi juga bekerja sebagai antioksidan kuat yang membantu salmon menghadapi stres oksidatif saat migrasi jauh. Pigmen ini juga terbukti meningkatkan kualitas telur dan keberhasilan reproduksi. Pada salmon yang dibudidayakan, astaxanthin umumnya ditambahkan ke dalam pakan karena ketersediaannya di lingkungan budidaya jauh lebih sedikit dibandingkan di habitat alaminya.

Pacific salmon depend on a healthy, connected stream system | The Seattle  Times

Gambar 2. Siklus hidup salmon

Evolusi Salmon; Adaptasi Menakjubkan Hidup di Dua Lingkungan

Salmon merupakan kelompok ikan yang menampilkan adaptasi evolusioner luar biasa untuk dapat hidup di dua jenis perairan, yaitu laut dan air tawar. Salah satu bentuk adaptasinya adalah kemampuan osmoregulasi, yakni kemampuan tubuh untuk menyeimbangkan kadar garam saat berpindah habitat. Jejak evolusi salmon juga terlihat dari proses spesiasi pada genus Oncorhynchus dan Salmo yang terbentuk akibat perubahan iklim masa lampau, periode glasiasi, serta isolasi antar-sungai. Diversifikasi ini menghasilkan perilaku, warna, ukuran tubuh, dan strategi migrasi yang berbeda antarspesies. Migrasi ke laut secara evolusioner memberikan keuntungan besar bagi salmon karena menyediakan sumber makanan yang melimpah, memungkinkan mereka tumbuh lebih besar dan memperoleh cadangan energi yang cukup untuk proses reproduksi.

Genetika Salmon: Kunci Kemampuan “Ingat Pulang”

Salah satu aspek paling menakjubkan dari salmon adalah kemampuan mereka pulang ke sungai kelahiran dengan akurasi tinggi. Mekanisme ini dipengaruhi oleh olfactory imprinting, yaitu proses ketika salmon muda merekam aroma kimia sungai dan menyimpannya dalam memori jangka panjang. Studi pada Salmo salar menunjukkan bahwa sejumlah besar gen reseptor penciuman terekspresi di epitel olfaktori, memungkinkan salmon melakukan “imprinting” bau sungai asal pada masa juvenil. Selain mengandalkan sistem olfaktori, penelitian genetika dan perilaku menunjukkan bahwa salmon juga menggunakan medan magnet bumi sebagai komponen navigasi tambahan. Secara keseluruhan, integrasi antara ekspresi gen penciuman, regulasi hormon, dan respons terhadap medan magnet menjadi dasar molekuler yang memungkinkan salmon kembali ke sungai kelahirannya meskipun telah menghabiskan waktu bertahun-tahun di laut.

Salmon sebagai Pemasok Nutrisi untuk Ekosistem Sungai & Hutan

Peran salmon tidak berhenti pada siklus hidupnya saja. Setelah bertelur, salmon dewasa mati dan tubuh mereka menjadi sumber nutrisi penting seperti nitrogen dan fosfor yang memperkaya ekosistem sungai. Riset menunjukkan bahwa pepohonan di sepanjang sungai yang menjadi jalur migrasi salmon memiliki isotop nitrogen laut (dari tubuh salmon) dalam jaringan mereka, yang berarti salmon secara langsung menyuburkan hutan. Selain itu, tubuh salmon menyediakan nutrisi bagi berbagai hewan seperti beruang, burung pemangsa, dan organisme air. Karena itu, salmon disebut sebagai engineer ekosistem penghubung antara laut dan daratan.

Perjalanan salmon dari sungai-laut kembali ke sungai kelahiran dengan navigasi biologis mengajarkan bahwa ketangguhan lahir dari kemampuan beradaptasi. Evolusi membentuk mereka menjadi pejuang ekologis. Melalui perjalanan hidupnya yang kompleks, salmon mengajarkan kita bahwa setiap spesies memainkan peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Di balik kisah ilmiah itu, kita diingatkan bahwa setiap langkah sulit yang kita ambil hari ini dapat menjadi sumber kehidupan dan manfaat bagi banyak hal di sekitar kita. Seperti kisah salmon, kita pun dapat menemukan kekuatan untuk bertahan, bergerak maju, dan memberi dampak yang berarti.

Editor: Ambarwulan, S.T.

Daftar Pustaka

  1. Helfield, J. M., & Naiman, R. J. (2001). Effects of salmon-derived nitrogen on riparian forest growth and implications for stream productivity. Ecology, 82(9), 2403–2409.
  2. Schindler, D. E., et al. (2003). Pacific salmon and the ecology of coastal ecosystems. BioScience, 53(6), 561–568.
  3. Gende, S. M., Quinn, T. P., Willson, M. F., Heintz, R., & Scott, T. M. (2002). Pacific salmon in aquatic and terrestrial ecosystems. BioScience, 52(10), 917–928.
  4. Torrissen, O. J., Christiansen, R., Struksnæs, G., & Estermann, R. (1995). Astaxanthin deposition in the flesh of Atlantic salmon (Salmo salar L.) in relation to dietary astaxanthin concentration and feeding period. Aquaculture Nutrition, 1(2), 77–84.

Baloi-Sei Ladi, Jl. Gajah Mada, Tiban Indah, Kec. Sekupang, Kota Batam, Kepulauan Riau 29426
(0778) 7437111
Temukan kami

Telusuri