Hukum Archimedes: Benarkah Menjadi Acuan Pasang dan Surut?

Penulis: Zidane Al Fajri (2511003)

Fenomena pasang surut air laut sering kali dianggap sebagai sebuah misteri alam yang hanya berkaitan dengan tarikan gravitasi bulan. Namun, jika kita melihat lebih dalam pada mekanisme pergerakan massa air secara masif, kita akan menemukan jejak prinsip fisika dasar yang ditemukan oleh ilmuwan Yunani kuno, Archimedes.

Meskipun Hukum Archimedes bukan “penyebab” utama terjadinya pasang surut, prinsip ini merupakan hukum yang mengatur bagaimana benda-benda di laut bereaksi terhadap perubahan volume dan ketinggian air tersebut.

1. Memahami Fondasi: Apa itu Hukum Archimedes?

Sebelum menghubungkannya dengan samudera, kita perlu mengingat kembali bunyi hukum ini:

“Sebuah benda yang tercelup sebagian atau seluruhnya ke dalam zat cair akan mengalami gaya ke atas yang besarnya sama dengan berat zat cair yang dipindahkan oleh benda tersebut.”

Secara matematis, gaya apung Fa dirumuskan sebagai:

Di mana:

  • ρ : Massa jenis zat cair
  • ɡ : Percepatan gravitasi
  • Vbf : Volume benda yang tercelup

2. Hubungan Antara Archimedes dan Dinamika Laut

Pasang surut sebenarnya adalah hasil dari gaya pasang surut (tidal forces) yang disebabkan oleh interaksi gravitasi antara Bumi, Bulan, dan Matahari. Lantas, di mana peran Archimedes?

A. Keseimbangan Hidrostatik

Saat air laut pasang, volume air di suatu area meningkat. Hukum Archimedes memastikan bahwa distribusi tekanan di dalam air tetap terjaga. Kapal-kapal besar dapat tetap terapung dengan stabil meskipun ketinggian permukaan air berubah drastis karena gaya apung (Fa) menyesuaikan diri secara otomatis terhadap perubahan volume air yang dipindahkan.

B. Perubahan Massa Jenis (Salinitas dan Suhu)

Hukum Archimedes sangat bergantung pada massa jenis (rho). Fenomena pasang surut sering kali membawa massa air dengan suhu atau kadar garam (salinitas) yang berbeda ke area pesisir.

  • Saat Pasang: Air laut yang lebih padat (asin) masuk ke muara sungai.
  • Efek: Benda yang terapung akan sedikit lebih “terangkat” karena massa jenis air laut yang lebih besar memberikan gaya apung yang lebih kuat dibandingkan air tawar.

3. Implementasi dalam Teknologi Kelautan

Para insinyur menggunakan Hukum Archimedes sebagai acuan utama dalam merancang infrastruktur yang terdampak pasang surut:

  1. Dermaga Apung (Floating Docks): Dermaga ini dirancang untuk naik dan turun mengikuti tinggi muka air laut. Tanpa perhitungan gaya apung Archimedes yang presisi, dermaga bisa tenggelam saat beban maksimal atau justru tidak stabil saat air surut.
  2. Pembangkit Listrik Tenaga Pasang Surut: Turbin dan pelampung penggerak menggunakan prinsip Archimedes untuk memastikan perangkat tetap berada pada kedalaman operasional yang optimal agar energi kinetik air dapat diserap secara maksimal.
  3. Kapal Selam dan Navigasi: Perubahan kedalaman akibat pasang surut mengharuskan kapal besar melakukan perhitungan draft (bagian kapal yang terendam) berdasarkan Hukum Archimedes agar tidak kandas saat air surut.

Kesimpulan

Secara teknis, Gravitasi adalah penggerak pasang surut, namun Hukum Archimedes adalah aturan main bagi segala sesuatu yang berada di atas air tersebut. Tanpa pemahaman tentang gaya apung ini, kita tidak akan bisa memprediksi bagaimana kapal, infrastruktur pelabuhan, dan ekosistem pesisir berinteraksi dengan naik-turunnya permukaan laut yang dinamis.

Editor: Hadijah Aulia Putri (2411075)

Baloi-Sei Ladi, Jl. Gajah Mada, Tiban Indah, Kec. Sekupang, Kota Batam, Kepulauan Riau 29426
(0778) 7437111
Temukan kami

Telusuri