Penulis: Ricky Taypratama (2512035)
ABSTRAK
Desain Arsitektur ekologi kini sudah menjadi sebuah desain yang sangat umum untuk kita jumpai. Banyaknya desain arsitektur ekologis yang memiliki satu tujuan besar yang sama, yaitu “mengurangi pemanasan global”. Melihat banyaknya negara-negara yang berkembang untuk membangun bangunan yang memiliki unsur ekologi yang bertujuan hanya untuk memberikan sebuah keuntungan kepada makhluk hidup. Penelitian ini bertujuan untuk membuka pengetahuan kepada masyarakat bahwa arsitektur ekologis juga memiliki dampak yang menguntungkan pada lingkungan yang ada di sekitarnya (terutama bagi alam). Arsitektur ekologis adalah sebuah ilmu pengetahuan yang mempelajari hubungan timbal balik (simbiosis mutualisme) antara manusia dan lingkungannya dalam merancang suatu bangunan dengan memperhatikan aspek alam sekitar. Pada penelitian ini akan digunakan metode kualitatif deskriptif yang melakukan penyelidikan secara rinci kepada objek yang akan diteliti. Objek yang akan diteliti pada penelitian kali ini adalah bangunan yang terletak di Singapura, yaitu bangunan CapitaSpring. Mengingat bahwa Singapura juga merupakan salah satu dari negara yang ada di dunia yang mengedepankan prinsip arsitektur berkelanjutan yang memperhatikan material yang berunsur ramah lingkungan serta memperhatikan desain ekologi. Dapat disimpulkan bahwa bangunan tersebut sudah memiliki pendekatan ekologi sebagai identitasnya. Dengan unsur bangunan yang terdapat unsur desain arsitektur ekologinya yang terletak pada fasad dan interior dari bangunan tersebut.
Kata Kunci: Arsitektur Ekologi, Simbiosis Mutualisme, Desain Berkelanjutan, Arsitektur Biofilik.
PENDAHULUAN
Dalam kehidupan sehari-hari manusia pada zaman ini tentunya kita tidak dapat kita hindari dampak dari teknologi yang sudah berkembang sangat pesat seiring berjalannya waktu. Berkembangnya teknologi pada zaman ini memiliki dampak positive dengan keberlansungan hidup manusia seperti memberikan sebuah akses ilmu pengetahuan yang lebih luas, bertambah nya peluang kerja, dan memberikan comfort pada tempat tinggal manusia. Teknologi yang memberikan sebuah kenyamanan pada kehidupan sehari-hari manusia ketika berada di dalam rumah mereka adalah teknologi yang berperan untuk mendinginkan suhu badan (AC) dan teknologi yang memberikan mereka sebuah hiburan sekaligus sebuah akses kepada informasi yang lebih luas seperti gadget (HP), komputer, dan televisi. Di samping dampak positif teknologi kepada manusia, teknologi memiliki dampak negatif yang tidak kalah berdampak pada kehidupan sehari-hari manusia dan pada lingkungan tempat mereka hidup juga. Dampak negatif dari teknologi ini adalah pemanasan global, kesenjangan sosial yang semakin besar, dan banyak lagi. Tentunya dampak tersebut tidak dapat kita hiraukan dikarenakan dampak tersebut merupakan sebuah tantangan pada manusia untuk memberikan sebuah Solusi melalui ide-ide yang akan mereka kembangkan dan melalui kerja sama mereka yang dapat memberikan Solusi dari dampak negative teknologi tersebut. Salah satu Solusi dari penanganan pemanasan global dengan menggunakan cara manusia itu sendiri adalah dengan mengembangkan Desain Arsitektur Ekologi yang efisien energi dan murah material.
Arsitektur Ekologi adalah suatu desain arsitektur yang menekankan konsep arsitektur hijau. Menurut Heinz Frick (1997) arsitektur ekologis adalah suatu konsep desain arsitektur yang memperhatikan keselarasan antara manusia dengan lingkungannya. Arsitektur Ekologi menekankan sebuah desain arsitektural terkait model bangunan yang memperhatikan lingkungan alam dan lingkungan buatan yang harmonis. Tujuan dari Arsitektur Ekologi itu sendiri adalah menggunakan sebuah sumber daya alam/energi alam seefisien mungkin untuk meningkatkan keproduktivitas masyarakat dan juga untuk mengurangi limbah, polusi, dan degradasi lingkungan. Prinsip-Prinsip dari Arsitektur Ekologi itu sendiri menekankan sebuah desain yang beradaptasi dengan lingkungan, pemanfaatan sumber daya energi dan sumber daya alam dengan efisien, kemudian menekankan keseimbangan antara sistem bangunan dengan lingkungan alam sekitar. Dari penjelasan di atas dapat kita simpulkan bahwa arsitektur merupakan sebuah ilmu pengetahuan yang sangat berpotensi untuk mengurangi dampak negatif dari penggunaan teknologi dalam kehidupan sehari-hari manusia.
TINJAUAN PUSTAKA
Pengertian Arsitektur Simbiosis
Simbiosis dalam Bahasa Yunani Adalah sym yang artinya dengan dan biosis yang artinya Adalah kehidupan. Arsitektur simbiosis merupakan suatu konsep yang lahir dan berkembang seiring dengan perkembangan zaman, yang menuntut adanya suatu kemudahan dalam menjalankan suatu aktivitas dari seseorang dan pada sisi yang lainnya menuntut kreativitas dari seorang perancang dalam mewujudkan keinginan dari para masyarakat dengan cara menciptakan suatu desain arsitektural yang mengombinasikan beberapa pin yang terkait dengan konsep simbiosis. Arsitektur Simbiosis mencari suatu nilai antara budaya yang berbeda, faktor yang saling berlawanan, dan dituntut untuk mengelolanya dengan menciptakan suatu hal yang baru. Menggunakan material dan usaha lain agar masalah tersebut justru akan menjadi hal yang positif bagi rancangan yang akan dibuat.
Pengertian Arsitektur Simbiosis mutualisme
Arsitektur Simbiosis Mutualisme merupakan suatu perwujudan dari Arsitektur Simbiosis supaya dapat terjadi suatu hubungan timbal balik antara bangunan dengan alam atau lingkungan yang ada di sekitarnya. Arsitektur Simbiosis Mutualisme menekankan seorang perancang untuk mengekspresikan kreativitasnya untuk membentuk suatu hal yang dapat mengatasi dampak dari global warming dan memberikan dampak positif dari kreativitasnya tersebut kepada masyarakat dan alam/lingkungan di sekitarnya.
Pengertian Arsitektur Ekologis
Arsitektur ekologis adalah arsitektur yang memelihara dan melengkapi unsur alam di lingkungan perkotaan, baik itu tembok hijau dalam satu bangunan atau mengaplikasikan ruang hijau sebagai kota yang direncanakan. Arsitektur ekologis adalah suatu jenis penghijauan perkotaan, tentang menciptakan ruang hijau yang menerapkan simbiosis antara lingkungan perkotaan dan alam. Pada saat kota-kota di seluruh dunia menjadi lebih besar,maka arsitektur ekologi akan berkembang dengan cara menerapkan simbiosis itu dengan cara yang baru, kreatif, dan memenuhi standar dari estetika. Ini juga semakin populer saat kita menjadi lebih sadar akan perubahan iklim, dan mencari cara untuk memerangi pengaruhnya. Konsep penekanan arsitektur ekologis ini juga didasari oleh banyaknya isu global warming.
Prinsip-Prinsip Arsitektur Ekologis
Prinsip dasar teori Arsitektur Ekologi lebih fokus pada hubungan timbal balik yang menguntungkan antara elemen alam, bangunan dan manusia. Hal ini tentunya melibatkan adanya pengolahan lingkungan, pengolahan bangunan, dan keterlibatan manusia dalam pembangunan yang harmonis. Berdasarkan teori pendekatan Arsitektur Ekologi menurut Heinz Frick, prinsip-prinsip ekologi yang dapat diterapkan pada bangunan yaitu:
- “Desain yang Beradaptasi dengan Lingkungan” yang artinya keadaan eksisting tapak dan elemen-elemen yang ada di dalamnya dapat menjadi salah satu bahan untuk mendesain bangunan. Dengan menerapkan aplikasi ini, maka akan tercipta desain yang responsif dan senantiasa dapat beradaptasi dengan lingkungannya, mulai dari bentuk bangunan, fasad dan penempatan bangunan, serta pengolahan site secara ekologis.
- “Pemanfaatan Sumber Daya Energi dan Sumber Daya Alam dengan Efisien” yang artinya Dengan melakukan subsitusi sumber energi yang tidak dapat diperbarui yaitu dengan meminimalisir penggunaan alat pendingin, dan memaksimalkan penggunaan energi alternatif seperti solar panel. Penggunaan bahan bangunan yang dapat dibudidayakan dan hemat energi yaitu dengan memilih bahan bangunan menurut penggunaan energi, menghemat sumber daya yang tidak dapat diperbarui, dan menggunakan kembali bahan bangunan sisa yang layak pakai. Pemanfaatan sumber daya alam yang ada pun dapat diterapkan melalui penggunaan prinsip pada pemilihan material bangunan, pengolahan energi bangunan dan dukungan alam serta efisiensi dan konservasi energi pada lingkungan.
- “Keseimbangan antara Sistem Bangunan dengan Lingkungan Alam Sekitar” yang artinya untuk mewujudkan desain arsitektur yang ekologis, dibutuhkan adanya suatu sistem dalam bangunan yang ramah terhadap lingkungan selama siklus hidup bangunan. Hal ini dilakukan dengan pembentukan siklus atau penyebaran yang utuh antara penyediaan dan pembuangan hasil metabolisme bangunan, mulai dari proses pembangunan, pemakaian, serta perawatan bangunan.
METODE PENELITIAN
Pada penelitian kali ini penulis akan memakai metode kualitatif deskriptif. Deskriptif kualitatif Adalah istilah yang digunakan dalam penelitian kualitatif untuk suatu kajian yang bersifat deskriptif. Jenis penelitian ini umumnya dipakai dalam fenomenologi sosial. Arsitektur ekologi juga mencakup dimensi waktu, alam, sosial budaya, ruang dan teknologi bangunan. Struktur ekologisnya juga sangat rumit, berisi bagian dari arsitektur biologis (Manusia dan Kesehatan) dan Biologi. Oleh karena itu, Arsitektur Ekologis itu bersifat holistic sehingga dapat mengambil dari beragam situs. Pada tahapan hasil dan pembahasan akan melakukan tinjauan arsitektur ekologis pada bangunan CapitaSpring yang akan dijelaskan melalui prinsip arsitektur ekologis
PEMBAHASAN
CapitaSpring, Singapura
Capita Spring Singapura adalah oasis pencakar langit setinggi 280 meter yang melanjutkan urbanisme vertikal perintis kota dengan beragam lingkungan restoran, ruang kantor, hunian berlayanan Citadines, dan taman langit dari lantai dasar hingga lantai 51. Gedung ini berfungsi sebagai memenuhi kebutuhan bisnis di pusat finansial Singapura, sebagai sarana tempat tinggal (apartemen), memberikan tempat olahraga dan menyediakan tempat hijau untuk bersantai dan menyegarkan, dan sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas udara di tengah-tengah kota.

Gambar 1. Sumber: Luxury Properties
1. Desain yang Beradaptasi dengan Lingkungan
Konsep desain bangunan CapitaSpring dirancang oleh Carlo Ratti Associati yang bertujuan untuk mengikuti standar bangunan dengan kondisi bumi saat ini yaitu dengan mencegah nya pemanasan global (Global Warning) dan mencegah lebih banyaknya polusi yang ada disingapura saat itu, Hingga Pembangunan Gedung ini memiliki fasad yang mengandung unsur biofilik untuk menjadikan bangunan ini sebagai paru-paru kota. Oleh karena itu, bangunan ini memiliki space yang terbuka diatas, ditengah, dan dibawah bangunan tersebut sehingga dampak dari Gedung tersebut kepada kota akan terasa signifikan.

Gambar 2. CapitaSpring / BIG Sumber: ArchDaily 2025
2. Pemanfaatan Sumber Daya Energi dan Sumber Daya Alam dengan Efisien
Pemanfaatan sumber daya energi sekaligus alam dalam bangunan ini terlihat dengan adanya vegetasi yang ada pada bangunan CapitaSpring yang berfungsi sebagai Penyejuk dan Pendingin bangunan sebagai pilihan alternatif dari AC (Air Conditioner), sebagai cara untuk meminimalisir penggunaan AC (Air Conditioner) dalam sebuah bangunan, dan sebagai sarana untuk memberikan tempat tinggal yang layak dan penuh keasrian dikota.

Gambar 3. CapitaSpring / BIG Sumber: ArchDaily 2025
3. Keseimbangan antara Sistem Bangunan dengan Lingkungan Alam Sekitar
Pada saat Pembangunan Gedung CapitaSpring, Gedung ini menerapkan prinsip Design for Manufacturing and Assembly (DfMA) dan Prefabricated Prefinished Volumetric Construction (PPVC), yang merupakan standar konstruksi hijau mutakhir di Singapura. Yang Dimana prinsip ini memberikan beragam bermanfaat pada saat konstruksi seperti Mempercepat Waktu Konstruksi, Meningkatkan Kualitas dan Presisi, Mengurangi Limbah, dan Meningkatkan Keselamatan. CapitaSpring juga sudah memakai sistem Building Management System (BMS) yang Dimana system ini Adalah system untuk mengontrol semua system elektrik pada Gedung seperti Pemanas, Ventilasi, dan AC. perawatannya juga sudah memakai perawatan yang ramah lingkungan dan meminimalisir penggunaan dan energi.

Gambar 4. CapitaSpring / BIG Sumber: ArchDaily 2025
4. Kesimpulan
Kesimpulan yang didapat dari pembahasan sebalumnya Adalah bahwa Arsitektur Ekologis sudah semakin berkembang dan sudah banyak adanya penelitian dan rancangan dari arsitektur ekologis contoh nyatanya Adalah Gedung CapitaSpring yang telah menerapkan prinsip-prinsip Arsitektur Ekologis. Sebagai bangunan yang berdesain ekologis, Gedung ini memiliki ketinggian sekitar 280 m, dan memiliki lantai sebanyak 51. Fasad dari gedung inilah yang menjadikannya sebagai desain arsitektur ekologis yang Dimana fasad-fasad nya menerapkan system ramah lingkungan seperti Green Oasis, dan sky garden, sehingga tujuan utama dari arsitektur ekologis yaitu untuk mengurangi pemanasan global (Global Warning) telah tertuju.
Editor: Ambarwulan, S.T.
DAFTAR PUSTAKA
(Santika and Trisno 2022)Amma. 2017. “Penerapan Arsitektur Ekologi Dalam Perancangan Pusat Penelitian Agrikultur Di Kabupaten Sragen.” Arsitektura 15(2): 489–97.
ArchDaily. 2023. “CapitaSpring / BIG + Carlo Ratti Associati.” ArchDaily. https://www.archdaily.com/989946/capitaspring-big-plus-carlo-ratti-associati.
Ruhansih, Dea Siti. 2017. “EFEKTIVITAS STRATEGI BIMBINGAN TEISTIK UNTUK PENGEMBANGAN RELIGIUSITAS REMAJA (Penelitian Kuasi Eksperimen Terhadap Peserta Didik Kelas X SMA Nugraha Bandung Tahun Ajaran 2014/2015).” QUANTA: Jurnal Kajian Bimbingan dan Konseling dalam Pendidikan 1(1): 1–10. doi:10.22460/q.v1i1p1-10.497.
Santika, Editha, and Rudy Trisno. 2022. “Penerapan Ekologi, Simbiosis, Dan Biofilik Pada Ruang Pemulihan Depresi Pascapandemi.” Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) 3(2): 1423. doi:10.24912/stupa.v3i2.12461.
Setiawan, Agung, and Anggana Fitri Satwikasari. 2021. “Tinjauan Arsitektur Ekologis Pada Pusat Otomotif (Audi Centre, Singapura).” Journal of Architectural Design and Development 2(1): 44. doi:10.37253/jad.v2i1.4343.
Sukawi. 2008. “Ekologi Arsitektur : Menuju Perancangan Arsitektur Hemat Energi Dan Bekerlanjutan.” Simposium Nasional RAPI VII(1998).
(Amma 2017; Ruhansih 2017; Setiawan and Satwikasari 2021; Sukawi 2008)(ArchDaily 2023)


