Penulis: Ersyd Kamalia Adnan (2512057)
Abstrak
Bumi saat ini menghadapi suhu terpanas dalam sejarah dengan gelombang panas yang lebih intens Hal ini menuntut pemahaman dan pengelolaan efek rumah kaca sebagai langkah krusial untuk menjaga keseimbangan lingkungan dan keberlanjutan bumi. Salah satu solusi untuk mengurangi kenaikan suhu bumi adalah melalui penerapan eko-arsitektur dalam perancangan bangunan. Artikel ini membahas bagaimana dunia arsitektur perlu merespons dengan empati dan solusi nyata, seperti konsep kota hijau, properti hijau, bangunan hijau, sekolah atau kantor hijau, dan produk hijau, untuk mengatasi pemanasan global dan krisis ekonomi sehingga dapat membantu menyelamatkan bumi dengan meminimalkan dampak lingkungan, meningkatkan efisiensi energi dan air, meningkatkan kenyamanan dan kesehatan penghuni, serta mengharmoniskan bangunan dengan alam di sekitarnya.
Kata Kunci: Eko Arsitektur, Selamatkan Bumi, Hotel Oasia Singapore
PENDAHULUAN
Berdasarkan laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), Bumi saat ini mengalami suhu terpanas dalam sejarah dan gelombang panas yang lebih intens. Laporan itu disusun oleh 234 ilmuwan dari seluruh dunia setelah menganalisa lebih dari 14.000 studi iklim untuk memberikan gambaran yang paling jelas tentang kondisi planet saat ini.

Gambar 1. Persentase polusi yang dihasilkan oleh bangunan dan konstruksi
Gas-gas tertentu seperti karbon dioksida, metana, dan uap air di atmosfer bumi berperan menahan sebagian panas dari matahari yang dipantulkan kembali dari permukaan bumi. Pentingnya efek ini terletak pada fungsinya yang menjaga suhu bumi agar tetap hangat, sehingga mendukung kehidupan. Namun, apabila berlebihan fenomena ini memicu kenaikan suhu global, atau yang kita kenal sebagai pemanasan global, mulai dari perubahan iklim yang ekstrem, naiknya permukaan laut, hingga gangguan pada ekosistem secara keseluruhan. Ini membuat penulis berpikir bahwa memahami dan mengelola efek rumah kaca bukan lagi opsional, melainkan krusial untuk menjaga keseimbangan lingkungan dan memastikan keberlanjutan bumi kita. Mungkin ini adalah tantangan besar yang perlu kita hadapi bersama.
Salah satu cara mengurangi kenaikkan suhu bumi dengan menerapkan eko arsitektur dalam perancangan bangunan. Eko arsitektur merupakan pendekatan desain bangunan yang memiliki sifat ramah lingkungan serta memaksimalkan potensi alam. Rumah yang tidak ramah lingkungan dapat menyumbangkan emisi rumah kaca yang menjadi penyebab utama naiknya suhu bumi melalui penggunaan energi, limbah rumah tangga, material bangunan, dan masih banyak lagi.
Pada tulisan kali akan membahas lebih lanjut mengenai penerapan arsitektur ekologi pada suatu bangunan sebagai salah satu upaya membantu menyelamatkan bumi.
METODE PENELITIAN
Tulisan ini menggunakan metode literatur review, yaitu dengan mereview dan menganalisa berbagai macam jurnal dan artikel yang menyangkut topik bahasan. Penelusuran jurnal ini menggunakan akses internet dan situs web seperti google scholar.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Suhu bumi saat ini jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan kondisi 100 tahun silam, hal ini terjadi karena aktivitas manusia yang terus-menerus mengeluarkan gas-gas rumah kaca, seperti karbon dioksida ke atmosfer dalam volume yang sangat besar.

Gambar 2. Diagram kenaikan suhu tahun 2023
Isu ini seharusnya mendapat respons yang serius dari dunia arsitektur, di mana kita perlu menunjukkan empati, responsivitas, dan solusi nyata untuk masalah lingkungan. Krisis dunia yang begitu besar ini harus bisa membangkitkan kesadaran kita, sehingga kita bisa mengambil langkah-langkah konkret setelah benar-benar memahami akar permasalahannya. Ada beberapa ide pembangunan yang efisien energi dan ramah lingkungan, yang fokus pada struktur bangunan yang terjangkau, sederhana, dan punya dampak besar, seperti konsep kota hijau, properti hijau, bangunan hijau, sekolah atau kantor hijau, bahkan produk hijau. Semua ini terus dikembangkan untuk membantu mengatasi pemanasan global serta krisis ekonomi yang melanda dunia.
Arsitektur Hijau melahirkan berbagai konsep desain, seperti menghemat energi (Conserving Energy), memanfaatkan iklim dan sumber energi alami (Working with Climate), menghormati lokasi tapak (Respect for Site), mempertimbangkan kebutuhan pengguna (Respect for User), membatasi penggunaan sumber daya baru (Limiting New Resources), serta pendekatan holistik secara keseluruhan.
Dengan latar belakang krisis sumber energi tak terbarukan yang semakin menipis, plus dampak negatif dari konsumsi energi tersebut terhadap lingkungan, rasanya masuk akal kalau perancangan bangunan harus lebih menekankan konservasi dan efisiensi energi. Ini bukan cuma soal mengurangi penggunaan, tapi juga membuat rancangan yang benar-benar hemat energi, bahkan sampai pada tingkat bangunan nol energi, yaitu yang bisa memenuhi kebutuhan energinya sendiri tanpa bergantung pada sumber luar. Mungkin ini adalah cara kita untuk berkontribusi kecil dalam menjaga bumi ini.
Konsep eco-architecture ini adalah pendekatan yang menempatkan kelestarian alam dan lingkungan sebagai prioritas utama untuk mencapai kehidupan yang lebih berkelanjutan. Tujuannya adalah meningkatkan efisiensi sumber daya alam dan energi dalam semua aspek yang terkait dengan arsitektur, sambil mencapai tujuan ekonomi, budaya, dan sosial. Rumah, sebagai kebutuhan dasar manusia, saling terkait dengan lingkungan, dan ini disebut sebagai arsitektur ekologi atau eko-
Ada beberapa prinsip yang diterapkan pada bangunan, seperti:
- Merespons iklim setempat.
- Mengelola air, tanah, dan udara.
- Melengkapi bangunan dengan sistem yang hemat energi.
- Menggunakan material ramah lingkungan.
- Menekan dampak negatif terhadap alam sebisa mungkin.
- Membangun bangunan yang bisa memperbaiki penyerapan gas buang.
- Memanfaatkan teknologi
Dari ketujuh prinsip tersebut, dapat disimpulkan bahwa ada persamaan dalam kriteria penggunaan material bangunan yang ekologis, seperti material berdaya tahan tinggi, kemampuan daur ulang atau penggunaan kembali, serta sifat terbarukan selain itu, material yang berdampak rendah terhadap lingkungan juga penting.
Prinsip-prinsip utama eko arsitektur
- Aspek re-newability, di mana bahan-bahan yang dipilih berasal dari sumber daya terbarukan dan diambil dari daerah terdekat.
- Efisiensi energi menjadi fokus, dengan memprioritaskan produk yang tidak membutuhkan konsumsi energi tinggi.
- Kualitas dan daya tahan produk
- Prinsip recycle dan re-use diterapkan untuk memastikan pemanfaatan berkelanjutan pada akhir siklus penggunaan produk.
- Low-impact material Contoh bangunan yang menggunakan rancangan eko arsitektur adalah Hotel Oasia Singapura.
Contoh bangunan yang menerapkan desain ekologi adalah Hotel Oasia Singapur.

Gambar 3. Oasis Hotel di Singapura (Sumber: oasiahotel.com)
Oasia Hotel, yang dirancang oleh WOHA Architects, adalah contoh menarik dari bangunan hijau vertikal yang berdiri tepat di tengah-tengah pusat bisnis Singapura, atau yang biasa disebut CBD. Terletak di alamat 100 Peck Seah Street, hotel ini sebenarnya berfungsi sebagai model awal untuk mengoptimalkan lahan di lingkungan perkotaan tropis, di mana ruang terbatas tapi kebutuhan tinggi.
Sistem penggunaan energi di bangunan hotel ini lebih banyak bergantung pada energi pasif yang langsung dari jaringan listrik nasional, tanpa melibatkan sumber alternatif kayak panel surya atau yang serupa. Tapi, mereka punya strategi khusus untuk menghemat energi. Misalnya, mereka memanfaatkan cahaya matahari dengan maksimal sebagai pengganti lampu buatan, bersamaan dengan tetap bisa mengatur berapa banyak cahaya yang masuk. Dengan Caranya memakai panel aluminium yang punya rongga di sisinya, plus tanaman rambat yang bantu bikin ruangan lebih sejuk dan nyaman.
Bangunan ini juga memperhatikan kesehatan penggunanya dengan memanfaatkan sirkulasi alami dan juga merespon terhadap polutan dan kebisingan dengan vegetasi-vegetasi di sekitar bangunan.

Gambar 4. Vegetasi pada bangunan Oasia Hotel
Bangunan ini memanfaatkan bahan-bahan konstruksi modern yang mempunyai kualitas tinggi, dan kebanyakan didatangkan dari luar negeri melalui impor, bahan yang dipilih merupakan jenis yang berkelanjutan, artinya tahan lama dan bisa didaur ulang kapan saja dibutuhkan. Bahan-bahan ini sebenarnya dirancang untuk jangka waktu panjang, apabila dirawat secara rutin sehingga bisa awet bertahun-tahun. Kebanyakan bahan berasal dari sumber alami, tapi kemudian diolah ulang di pabrik-pabrik baru sebelum akhirnya didistribusikan. Bahan-bahan ini juga bisa di-recycle lagi untuk dipakai ulang.

Gambar 5. Material keramik pada Oasia Hotel
SIMPULAN
Suatu bangunan dapat memberikan dampak pada bumi, sehingga dalam membangunnya dibutuhkan perancangan yang baik agar tidak menimbulkan dampak yang lebih buruk pada bumi, seperti menerapkan desain eko arsitektur yaitu, menggunakan material yang ramah lingkungan dan dapat didaur ulang seperti yang sudah diterapkan oleh Oasia Hotel.
Dengan menerapakan desain eko arsitektur dalam perancangan bangunan dapat membantu menyelamatkan bumi, penulis berharap orang-orang harus lebih kritis dalam membangun suatu bangunan, jadi tidak hanya melihat dari faktor ke-estetikan saja.
Dan dengan adanya artikel ini diharapkan dapat menjadi landasan sehingga dapat dikembangkan topik bagi penulis-penulis yang akan datang.
Editor: Ambarwulan, S.T.
DAFTAR PUSTAKA
(n.d.).Hotel Oasia Singapura. oasiahotel.com. Oasia Hotel, singapura.
Febriani Irma, M., Gusmira, E., dan Teknologi, S., Sultan Thaha Saifuddin Jambi Alamat, U., & Sei Duren Muaro Jambi, simp. (n.d.). JSSIT: Jurnal Sains dan Sains Terapan TINGGINYA KENAIKAN SUHU AKIBAT PENINGKATAN EMISI GAS RUMAH KACA DI INDONESIA HIGH TEMPERATURE RISE DUE TO INCREASED GREENHOUSE GAS EMISSIONS IN INDONESIA.
Haykal, M., & Lissimia, F. (2021). Implementasi Konsep Eko-Arsitektur pada Bangunan Oasia Hotel Singapore. Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia, 10(2), 100–109. https://doi.org/10.32315/jlbi.v10i02.63
Rizco Herlambang, A., Puspitasari, P., & Rosnarti, D. (n.d.). TROPICAL ECO-ARCHITECTURE SEBAGAI PENDEKATAN PERANCANGAN DIGITAL WORKING SPACE TROPICAL ECO-ARCHITECTURE AS THE APPROACH OF DIGITAL WORKING SPACE DESIGN.
Sobhkhiz, S., Zhou, Y. C., Lin, J. R., & El-Diraby, T. E. (2021). Framing and evaluating the best practices of ifc-based automated rule checking: A case study. Buildings, 11(10). https://doi.org/10.3390/buildings11100456


