Harmonisasi Lingkungan dan Sosial: Studi Kasus Desain Arsitektur Ekologi pada Bangunan Copenhill

Penulis: Lalla Ismaaisyah Wanira Putri (2512041)

Abstrak

Hidup di era Antroposen, yang berarti dampaknya terhadap Bumi begitu besar sehingga kita saat ini hidup di tempat yang disebut “Hutan Beton” tanpa alam atau keanekaragaman hayati apa pun yang pada akhirnya akan merugikan planet ini dan kita sendiri. Salah satu solusi ialah memikirkan kembali dan mengubah cara kita membangun kota dalam bentuk pembangunan berkelanjutan yang mencakup pembangunan kompleks perumahan atau monumen berkelanjutan yang mampu bekerja sama dengan alam dan bukan melawannya.

Kata Kunci: Bangunan Copenhill, Arsitektur Ekologi, Krisis Iklim, Arsitektur Hijau

PENDAHULUAN

Perkembangan urbanisasi dan industrialisasi yang pesat telah menimbulkan berbagai permasalahan lingkungan, termasuk peningkatan emisi gas rumah kaca, polusi udara, dan degradasi ruang hijau di kota-kota besar. Salah satu tantangan utama dalam konteks pembangunan perkotaan adalah bagaimana mengintegrasikan kebutuhan fungsional bangunan dengan prinsip berkelanjutan lingkungan. Arsitektur ekologi muncul sebagai solusi inovatif untuk menjawab permasalahan tersebut. Pendekatan ini menekankan desain bangunan yang ramah lingkungan, efisiensi energi, pengolahan limbah, serta menciptakan hubungan harmonis antara manusia dan lingkungannya. Copenhill di Kopenhagen, Denmark, menjadi salah satu contoh nyata penerapan arsitektur ekologi. Kebutuhan untuk memahami secara mendalam bagaimana prinsip arsitektur ekologi dapat diterapkan dalam desain bangunan multifungsi dapat menjadi panduan bagi arsitek, perencana kota, dan pengambil kebijakan dalam merancang bangunan yang tidak hanya efisien secara teknis, tetapi juga berdampak positif terhadap lingkungan dan kualitas hidup masyarakat.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif yang bertujuan memahami penerapan prinsip dan fungsi arsitektur ekologi pada bangunan Copenhill secara mendalam. Metode ini dipilih karena fokus penelitian terletak pada analisis konsep, strategi desain, dan dampak ekologi yang dihasilkan. Proses analisis dilakukan dengan meninjau konsep, strategi dan teknologi yang digunakan, kemudian membandingkannya dengan prinsip-prinsip arsitektur ekologi.

HASIL DAN PEMBAHASAN

CopenHill Energy Plant and Urban Recreation Center / BIG | ArchDaily

(Gambar 1. Copenhill Building)

Bangunan Copenhill, atau yang dikenal juga sebagai Amager Bakke yang dirancang oleh Bjarke Ingels Group (BIG), merupakan contoh nyata dalam bidang pengelolaan limbah dan produksi energi, sekaligus menjadi landmark arsitektur di lanskap kota Kopenhagen. Bangunan ini menggantikan pabrik Amagerforbraending yang berusia 50 tahun dan merupakan inisiatif lingkungan terbesar di Denmark. Mengintegrasikan prinsip-prinsip arsitektur ekologi dalam desainnya, menghasilkan berbagai manfaat lingkungan, sosial, dan teknis yang signifikan.

Copenhill mengimplementasikan teknologi canggih dalam pengolahan limbah menjadi energi (waste to energy), memungkinkan konversi 440.000 ton limbah per tahun menjadi listrik dan pemanas distrik untuk 150.000 rumah tangga. Infrastruktur pembangkit listrik, mulai dari lubang ventilasi hingga saluran masuk udara, membantu menciptakan topografi pegunungan yang beragam. Dengan efisiensi energi mencapai 28% dan penggunaan teknologi selective catalytic reduction (SCR) dan sistem penyaringan canggih untuk mengurangi emisi nitrogen oksida (NO) dan partikulat. Efisiensi energi tinggi dari proses pembakaran limbah membuat emisi karbon relatif rendah dibandingkan dengan metode konvensional. Atap Copenhill yang berlapis hijau tidak hanya berfungsi sebagai area rekreasi, tetapi juga sebagai filter alami untuk polutan udara dan pengelolaan limpasan air hujan. Dengan adanya vegetasi, bangunan ini meningkatkan keanekaragaman hayati lokal dan menyediakan habitat bagi flora perkotaan. Selain mengolah limbah, bangunan ini juga memanfaatkan panas yang dihasilkan untuk pemanas distrik, meminimalkan energi terbuang.

CopenHill: Keberlanjutan Hedonistik – urbanNext

(Gambar 2. Figure Ski Slopes in the Copenhill Building)

Dari sisi teknis, Copenhill mengadopsi desain modular dengan fasad aluminium yang memungkinkan penetrasi cahaya alami ke dalam bangunan, mengurangi kebutuhan pencahayaan buatan dan meningkatkan efisiensi energi. Secara ekonomi, meskipun biaya investasi awal cukup tinggi, efisiensi energi dan pengurangan biaya operasional jangka panjang memberikan manfaat ekonomi yang signifikan.

CopenHill: The Story of BIG's Iconic Waste-to-Energy Plant

(Gambar 3. Copenhill rooftop)

Penerapan prinsip arsitektur ekologi pada Copenhill tidak hanya berfokus pada aspek lingkungan dan teknis, tetapi juga memberi dampak sosial yang signifikan bagi masyarakat. Bangunan ini dirancang sebagai ruang publik multifungsi, di mana masyarakat dapat berinteraksi, beraktivitas, dan mendapatkan pengalaman rekreasi yang unik di tengah kota. Atap miring Copenhill difungsikan sebagai jalur pendakian, lintasan ski buatan, dan dinding panjat. Menciptakan aktivitas fisik yang menarik bagi berbagai kelompok usia. Dengan menghadirkan fasilitas ini, bangunan mengubah persepsi masyarakat tentang fasilitas industri menjadi ruang yang mendorong gaya hidup sehat dan aktif. Melalui desain yang transparan, di mana proses pengolahan limbah dan produksi secara visual, masyarakat dapat menyadari hubungan langsung antara perilaku konsumsi, pengelolaan limbah, dan keberlanjutan energi. Hal ini berperan sebagai edukasi lingkungan nonformal.

Dengan menyediakan ruang yang dapat diakses publik secara gratis atau terbuka, Copenhill menciptakan interaksi sosial lintas usia dan latar belakang, memperkuat rasa komunitas dan keterlibatan warga dalam ruang perkotaan. Dan juga Copenhill menarik wisatawan dari berbagai negara karena desainnya yang unik dan futuristik. Hal ini memberikan nilai ekonomi tambahan bagi komunitas lokal, sekaligus memperkuat identitas Kopenhagen sebagai pionir arsitektur berkelanjutan.

CopenHill: Hedonistic Sustainability – urbanNext

(Gambar 4. Copenhill Building)

SIMPULAN

Copenhill menjadi tonggak penting dalam penerapan arsitektur ekologi di era urban modern. Juga merupakan ekspresi arsitektur yang gamblang dari sesuatu yang tak kasat mata, namun merupakan pembangkit listrik tenaga sampah terbersih di dunia. Terbukti juga dari beragamnya penghargaan yang dicapai oleh bangunan tersebut. Antara lainnya ialah Energy Globe National Award, 2022. World Architecture Festival Best Energy & Infrastructure Category Winner, 2021. IOC, IPC, and IAKS Award International Architecture Prize, 2021. Dan masih banyak lagi

Selama satu generasi arsitek, proyek ini tetap menjadi sebuah kemungkinan, hidup di ranah gagasan, seiring dimulainya pembangunan dan kebangkitannya, profesi ini pun berubah, kita menjadi lebih peka terhadap krisis iklim dan hubungan antar bangunaan dan dampak lingkungan. Copenhill telah menjadi lebih dari sekadar kumpulan bagian-bagiannya, dan lebih dari sekadar kumpulan hal-hal superlatif, Copenhill melambangkan keinginan untuk menata kembali lingkungan binaan bagi generasi mendatang.

Editor: Ambarwulan, S.T.

 

DAFTAR PUSTAKA

Eric Baldwin. 2019. https://www.archdaily.com/925966/copenhill-the-story-of-bigs-iconic-waste-to-energy-plant

Zaxarovcom. 2024. https://www.thisispaper.com/mag/copenhill-energy-plant-big

Bjarke Ingels Group (BIG). 2019. https://big.dk/projects/copenhill-2391

Baloi-Sei Ladi, Jl. Gajah Mada, Tiban Indah, Kec. Sekupang, Kota Batam, Kepulauan Riau 29426
(0778) 7437111
Temukan kami

Telusuri