Jamur: Pahlawan Baru dalam Energi Terbarukan

Penulis: Khoirul Anwar, S.Si.,M.Si | Editor: Gilang Ananda, S.Kom.,M.M

10 Amazing Bioluminescent Organisms

(Sumber: www.thoughtco.com)

Ketika kita membayangkan sumber energi masa depan, biasanya pikiran kita langsung tertuju pada panel surya, turbin angin, atau mobil listrik. Tapi ada satu makhluk hidup yang diam-diam mulai mencuri perhatian para ilmuwan dunia.

Jamur. Ya, organisme kecil yang tumbuh di kayu lapuk atau tanah lembap itu ternyata punya kemampuan luar biasa: menghasilkan listrik, mengurai sampah plastik, dan membersihkan tanah tercemar. Semua ini dilakukan tanpa mesin, tanpa bahan bakar, hanya dengan kekuatan biologi.

Bagaimana Jamur Menghasilkan Listrik?

Beberapa jamur mampu melepaskan elektron saat mereka memecah bahan organik atau berinteraksi dengan bakteri di sekitarnya. Elektron‑elektron ini bisa ditangkap oleh alat sederhana bernama Microbial Fuel Cell (MFC), lalu diubah menjadi arus listrik.

Penelitian terbaru dari Segundo et al (2025) menunjukkan bahwa jamur Aspergillus ochraceopetaliformis mampu menghasilkan listrik hingga 0,921 volt dan 4,441 miliampere, bahkan cukup untuk menyalakan lampu LED ketika beberapa sel listrik jamur disusun seri (Gambar 1). Selain itu hasil penelitian Perez Garcia et al (2025) menunjukkan bahwa pigmen jamur F. uniseptata dapat digunakan sebagai komponen bioelektrokimia dalam MFC dan mampu menghasilkan listrik melalui transfer elektron biologis.

The diagram illustrates a microbial fuel cell process involving various pigments, chemicals, and chambers, including a cathodic and anodic chamber, with a focus on the roles of Bacillus subtills and microbial components.

AI-generated content may be incorrect.

Gambar 1. Pigmen yang dihasilkan oleh jamur Forliomyces uniseptata (isolat GBS) menunjukkan sifat redoks yang kuat dan reversible, sehingga berpotensi digunakan sebagai mediator elektron dalam sistem Microbial Fuel Cell (MFC). Pigmen ini diuji bersama Bacillus subtilis dan menghasilkan kerapatan daya maksimum sebesar 37 μW/cm², menegaskan perannya dalam meningkatkan transfer elektron pada bioelektroda. (Sumber: Pérez-García et al., 2025)

Bayangkan: jamur yang biasanya tumbuh di batang kayu bisa menjadi baterai hidup.

Jamur yang Mengurai Plastik Sambil Menghasilkan Energi

Lebih hebat lagi, jamur tersebut tidak hanya menghasilkan listrik, tetapi ia juga mengurai plastik polyethylene, salah satu jenis plastik yang paling sulit terurai. Dalam penelitian yang sama, para ilmuwan menemukan bahwa permukaan plastik berubah bentuk, beratnya berkurang, dan struktur kimianya rusak setelah jamur bekerja.

Artinya, jamur bisa membantu dua masalah besar sekaligus:

  1. krisis energi,
  2. krisis sampah plastik.

The image illustrates a microbial fuel cell setup where Aspergillus fungus is used to degrade plastic waste, generating bioelectricity through a series of connected microbial fuel cells.

AI-generated content may be incorrect.

Gambar 2. Diagram alur proses bioelektrisitas dari limbah plastik menggunakan jamur A. ochraceopetaliformis dalam MFC. Plastik didegradasi, elektron dihasilkan melalui metabolisme jamur, dan beberapa MFC yang diseri mampu menyalakan LED dengan total tegangan 2,78 V. (Sumber: Segundo et al., 2025)

Jamur untuk Membersihkan Lingkungan dan Menghasilkan Energi

Penelitian lain dari Hao et al (2025) menunjukkan bahwa jamur Myrothecium verrucaria dapat meningkatkan produksi listrik dalam MFC tanah sambil membantu membersihkan tanah yang tercemar herbisida.

Jamur ini bekerja sama dengan bakteri tanah untuk:

  • mempercepat degradasi polutan,
  • meningkatkan aktivitas mikroba baik,
  • dan memperkuat aliran elektron menuju elektroda.

Dengan kata lain, jamur bisa menjadi bagian dari teknologi bioenergi, pemulihan lingkungan, dan pertanian berkelanjutan.

Jamur Bercahaya: Energi Masa Depan?

Image to edit

Gambar 3. Bioluminescent pada jamur (https://ar.inspiredpencil.com/pictures-2023/bioluminescent-mushrooms)

Beberapa jamur di alam dapat bercahaya dalam gelap (bioluminescent). Cahaya itu muncul dari reaksi kimia yang melibatkan transfer electron mirip dengan proses pembentukan listrik.

Para ilmuwan kini bertanya:

Jika jamur bisa menghasilkan cahaya dari elektron, apakah mereka juga bisa menghasilkan listrik lebih besar?

Jawabannya: sangat mungkin. Fenomena bioluminesensi membuka peluang riset baru untuk menciptakan bio-baterai jamur bercahaya atau sensor lingkungan berbasis cahaya + listrik.

Kenapa Ini Penting untuk Indonesia?

Indonesia punya keanekaragaman jamur yang sangat tinggi, ekosistem hutan tropis, limbah organik melimpah, kebutuhan energi terbarukan yang terus meningkat. Jamur bisa menjadi sumber energi lokal yang murah, ramah lingkungan, mudah dibudidayakan, dan relevan untuk daerah terpencil.

Bayangkan desa-desa di Indonesia menggunakan bio-baterai jamur untuk sensor pertanian, lampu kecil, atau sistem monitoring lingkungan.

Ingin Jadi Bagian dari Masa Depan Energi? Mulai dari Biologi.

Jika kamu siswa SMA yang penasaran dengan energi terbarukan, teknologi masa depan, lingkungan, atau sains yang keren dan berbeda, maka Biologi adalah pintu masuk terbaik. Dan jika kamu ingin belajar biologi yang modern, aplikatif, dan dekat dengan riset nyata seperti bioenergi jamur, maka Ayo kuliah di Program Studi Biologi Universitas Internasional Batam (UIB). Di UIB kamu akan belajar bioteknologi, mikrobiologi, ekologi, riset energi terbarukan, dan inovasi berbasis sains yang relevan dengan masa depan Indonesia. Kamu tidak hanya belajar teori, tetapi kamu juga akan melakukan eksperimen nyata, termasuk riset frontier seperti biolistrik jamur.

Jika kamu ingin menjadi bagian dari generasi ilmuwan muda yang membangun masa depan energi Indonesia, UIB adalah tempatmu bertumbuh. Pendaftaran lebih lanjut kunjungi pendaftaran.uib.ac.id

Referensi

Segundo, R.-F., Cruz-Noriega, M. D. L., Soto-Deza, N., Otiniano, N. M., Luis, C.-C., & Alviz-Meza, A. (2025). Fungifuels: Polyethylene Decomposition and Electricity Generation with Aspergillus ochraceopetaliformis in Microbial Fuel Cell Systems. Fermentation11(9), 527. https://doi.org/10.3390/fermentation11090527

Pérez-García, J.A., Reyes-Vidal, Y., Hernández-Palomares, A. et al.2025.  Bioelectrochemical application of an F. uniseptata pigment in a microbial fuel cell for electricity generation. Int Microbiol 28, 2327–2341. https://doi.org/10.1007/s10123-025-00694-z

Da-Cheng Hao, Fan Wang, Chengxun Li, Yaoxuan Wang, Jiayi Xue, Pei-Gen Xiao. 2025. Fungal bioaugmentation enhanced herbicide removal via soil microbial fuel cell: Taking Myrothecium verrucaria and haloxyfop-P as an example, Science of The Total Environment, Volume 958, 178012, https://doi.org/10.1016/j.scitotenv.2024.178012.2

Baloi-Sei Ladi, Jl. Gajah Mada, Tiban Indah, Kec. Sekupang, Kota Batam, Kepulauan Riau 29426
(0778) 7437111
Temukan kami

Telusuri