Dosen Pendidikan Bahasa Inggris UIB Berkolaborasi dengan Camarines Sur Polytechnic Colleges Filipina Kaji Tantangan Kurikulum Merdeka

Dosen Program Studi Manajemen Universitas Internasional Batam (UIB) mengkaji penerapan Student-Centered Learning (SCL) dalam pembelajaran bahasa Inggris di sekolah menengah di Batam. Penelitian ini membahas tantangan yang muncul ketika pendekatan pembelajaran berpusat pada siswa diterapkan dalam kerangka Kurikulum Merdeka. Hasilnya menunjukkan bahwa rancangan pembelajaran yang sesuai dengan prinsip SCL belum tentu membuat siswa aktif berbicara di kelas.

Penelitian berjudul “Enacting Student-Centered Learning under Kurikulum Merdeka: Interactional Challenges in a Secondary EFL Classroom” ditulis oleh Hilarius Raditya Priambada Purba, Duke Paopathon Pardede, Filmor J. Murillo, Leil Badrah Zaki, dan Desty Febria. Para penulis berasal dari Universitas Internasional Batam, serta Camarines Sur Polytechnic Colleges, Filipina.

Artikel tersebut terbit pada September 2026 dalam JOLLS: Journal of Language and Literature Studies, Volume 6, Nomor 3, halaman 1186–1200. Publikasi ini menyoroti pentingnya memahami pengalaman siswa saat menjalani pembelajaran yang menuntut partisipasi aktif dan komunikasi dalam bahasa Inggris.

Penelitian UIB Ungkap Tantangan Student-Centered Learning

Penelitian ini berangkat dari kesenjangan antara rancangan pembelajaran dan praktik di kelas. Kurikulum Merdeka mendorong siswa untuk lebih aktif, mandiri, dan terlibat dalam kegiatan kolaboratif. Namun, pelaksanaan pembelajaran tersebut masih menghadapi kendala, terutama ketika siswa diminta menyampaikan pendapat secara spontan dalam bahasa Inggris.

Untuk memahami persoalan itu, peneliti terlebih dahulu memetakan penerapan SCL di sebelas sekolah menengah di Batam. Selanjutnya, mereka memilih satu kelas di sekolah menengah atas negeri sebagai studi kasus mendalam. Kelas tersebut menunjukkan kontras yang jelas antara rancangan pembelajaran yang sesuai dengan prinsip SCL dan rendahnya partisipasi lisan siswa.

Penelitian berlangsung selama enam minggu pada semester genap tahun akademik 2025/2026. Tim mengumpulkan data melalui observasi kelas tanpa ikut terlibat dalam pembelajaran, catatan lapangan, serta wawancara semi-terstruktur. Wawancara melibatkan satu guru bahasa Inggris dan enam siswa dengan tingkat motivasi tinggi, sedang, dan rendah.

Kecemasan Berbahasa Memengaruhi Partisipasi Siswa

Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru telah merancang kegiatan yang mendorong diskusi dan kerja kelompok. Rencana pembelajaran bahkan memperoleh penilaian “Very Good”. Meskipun begitu, sejumlah tugas terbuka justru diikuti oleh keheningan panjang ketika siswa harus berbicara.

Salah satu penyebab utamanya ialah kecemasan saat menggunakan bahasa asing. Keterbatasan kosakata, kekhawatiran melakukan kesalahan, serta rasa takut dinilai oleh teman membuat siswa memilih diam. Dalam situasi tersebut, sebagian siswa menyerahkan kesempatan berbicara kepada teman yang lebih percaya diri.

Temuan ini memperlihatkan bahwa keheningan siswa tidak selalu berarti mereka tidak ingin belajar. Dalam kasus yang diteliti, diam menjadi cara untuk menghindari rasa malu dan tekanan saat berbicara di depan orang lain.

Ketika diskusi tidak berjalan, guru kemudian memberikan bantuan melalui bahasa Indonesia, pertanyaan yang lebih terarah, dan instruksi yang lebih sederhana. Strategi tersebut membantu pembelajaran tetap berlangsung. Namun, ketergantungan yang terus berulang pada arahan guru juga berpotensi menghambat perkembangan kemandirian siswa.

Rekomendasi untuk Pembelajaran yang Lebih Efektif

Berdasarkan temuan tersebut, peneliti menekankan pentingnya dukungan bertahap dalam penerapan SCL. Guru dapat memperkenalkan kosakata penting sebelum diskusi, memberikan kesempatan latihan berbicara dalam kelompok kecil, serta membangun suasana kelas yang aman bagi siswa untuk mencoba. Pembagian peran dalam kelompok juga perlu dirancang agar setiap siswa memperoleh kesempatan berpartisipasi.

Selain itu, sekolah dapat mendukung guru melalui pengembangan profesional dan waktu persiapan pembelajaran. Pendekatan ini membantu guru menyesuaikan aktivitas dengan kemampuan serta kesiapan siswa. Dengan dukungan yang tepat, pembelajaran berpusat pada siswa dapat berjalan tanpa mengabaikan kebutuhan siswa yang masih merasa cemas saat berbicara.

Meski memberikan gambaran penting, penelitian ini memiliki batasan. Studi mendalam hanya dilakukan pada satu kelas selama enam minggu. Karena itu, hasilnya tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa pola yang sama terjadi di seluruh sekolah menengah Indonesia. Peneliti merekomendasikan penelitian lanjutan dengan cakupan sekolah yang lebih luas dan pengamatan dalam jangka waktu lebih panjang.

Melalui publikasi ini, para peneliti UIB berkontribusi pada diskusi akademik mengenai pelaksanaan Kurikulum Merdeka, khususnya dalam pembelajaran bahasa Inggris. Kajian tersebut mengingatkan bahwa keberhasilan pembelajaran tidak cukup dinilai dari rancangan kegiatan. Pengalaman siswa, kesiapan berbahasa, dan dukungan emosional juga perlu diperhatikan agar partisipasi aktif dapat tumbuh secara bertahap.

Ketua LPPM UIB, Dr. Hari Sutra Disemadi, bersama sivitas akademika UIB terus mendorong pengembangan penelitian yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan ilmu pengetahuan. Publikasi ini menjadi salah satu kontribusi akademik dalam memperluas pemahaman mengenai tantangan pembelajaran serta pentingnya pendekatan pendidikan yang memperhatikan kebutuhan siswa.

UIB berkomitmen untuk mendukung budaya penelitian dan publikasi ilmiah yang memberikan manfaat bagi dunia pendidikan dan masyarakat. Melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM UIB), UIB terus mendorong sivitas akademika menghasilkan karya ilmiah yang relevan, berkualitas, dan dapat menjadi referensi bagi pengembangan praktik pendidikan.

Penulis: Amelia Asadi,S.M  || Editor: Gilang Ananda, S.Kom.,,M.M

Baloi-Sei Ladi, Jl. Gajah Mada, Tiban Indah, Kec. Sekupang, Kota Batam, Kepulauan Riau 29426
(0778) 7437111
Temukan kami

Telusuri