Mahasiswa UIB Refleksikan Indonesia Emas 2045 melalui Kewarganegaraan

Penulis: Fatimah Az Zahra Firstarida Aghata (2512029) | Editor : Gilang Ananda, S.Kom.,M.M

Batam, 19 Agustus 2026 – Mahasiswa Universitas Internasional Batam (UIB) mengikuti pertemuan ke-14 Mata Kuliah Kewarganegaraan pada Selasa, 18 Agustus 2026. Pertemuan ini sekaligus menjadi sesi terakhir perkuliahan Kewarganegaraan pada semester ini.

Berbeda dari pertemuan sebelumnya, sesi kali ini dikemas dalam bentuk diskusi kelas melalui Microsoft Teams. Mengangkat tema “Studi Kasus Kewarganegaraan”, kegiatan berlangsung pukul 18.00–19.20 WIB dan dipandu oleh dosen pengampu, Dedi Jaya, S.H., M.H.

Dalam sesi tersebut, mahasiswa tidak hanya menerima materi. Sebaliknya, mereka diajak melihat berbagai persoalan bangsa secara kritis melalui tayangan kompilasi berita.

(Dokumentasi Pemutaran Video Berita dalam Sesi Diskusi Pertemuan 14 via Microsoft Teams)

Isu Sosial Menjadi Bahan Refleksi Mahasiswa

Pada awal diskusi, dosen menayangkan kompilasi video berita berdurasi sekitar sepuluh menit. Tayangan tersebut mengangkat sejumlah persoalan sosial dan hukum yang terjadi di Indonesia.

Beberapa isu yang dibahas meliputi kekerasan seksual terhadap anak, konflik antarkelompok, serta dugaan korupsi. Selain itu, mahasiswa mencermati persoalan penegakan hukum dan keadilan di tengah masyarakat.

Setelah menyaksikan tayangan tersebut, mahasiswa mendapat dua pertanyaan utama. Pertama, bagaimana mahasiswa memandang berbagai persoalan tersebut setelah mempelajari Pancasila dan Kewarganegaraan? Kedua, apakah mahasiswa siap menjadi sarjana di tengah berbagai tantangan bangsa?

Pertanyaan tersebut kemudian dikaitkan dengan semangat Kemerdekaan Indonesia 1945 dan cita-cita Indonesia Emas 2045.

Memahami Pancasila melalui Persoalan Nyata

Diskusi menunjukkan bahwa nilai-nilai Pancasila memiliki hubungan erat dengan kehidupan sehari-hari. Nilai tersebut tidak cukup hanya dipahami sebagai teori.

Sebagai contoh, kekerasan seksual terhadap anak bertentangan dengan nilai kemanusiaan dalam Sila Kedua. Tindakan tersebut tidak menghargai harkat dan martabat manusia, terutama kelompok yang rentan.

Sementara itu, konflik antarkelompok menunjukkan pentingnya menjaga nilai persatuan dalam Sila Ketiga. Perbedaan seharusnya tidak menjadi alasan untuk melakukan kekerasan.

Persoalan korupsi juga menjadi perhatian dalam diskusi. Praktik tersebut bertentangan dengan nilai keadilan sosial dalam Sila Kelima. Dana yang seharusnya digunakan untuk kepentingan masyarakat tidak boleh disalahgunakan demi kepentingan pribadi.

Melalui pembahasan tersebut, mahasiswa dapat melihat bahwa Pancasila tetap relevan untuk memahami berbagai persoalan bangsa.

(Cuplikan Berita Lainnya yang Ditayangkan dalam Sesi Diskusi)

Menjadi Sarjana yang Berintegritas

Diskusi kemudian mengarah pada kesiapan mahasiswa menjadi sarjana. Kesiapan tersebut tidak hanya ditentukan oleh kelulusan atau gelar akademik.

Sebaliknya, mahasiswa perlu membangun karakter sejak berada di lingkungan kampus. Sikap jujur, peduli terhadap lingkungan, dan berani menyampaikan kebenaran menjadi bagian penting dari proses tersebut.

Generasi 1945 menunjukkan keberanian dalam menghadapi penjajahan. Oleh karena itu, generasi saat ini juga perlu memiliki keberanian menghadapi persoalan pada zamannya.

Mahasiswa dapat memulainya dari lingkungan terdekat. Misalnya, mereka dapat menolak tindakan tidak jujur, peduli terhadap persoalan sosial, serta menghargai hak orang lain.

Dengan demikian, gelar sarjana bukan hanya pencapaian akademik. Gelar tersebut juga membawa tanggung jawab moral kepada masyarakat.

(Dokumentasi Suasana Diskusi Pertemuan 14 via Microsoft Teams)

Kewarganegaraan dan Perjalanan Menuju Indonesia Emas 2045

Pertemuan ke-14 menutup rangkaian Mata Kuliah Kewarganegaraan pada semester ini. Namun, nilai yang diperoleh mahasiswa diharapkan terus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui diskusi reflektif, mahasiswa belajar untuk lebih peka terhadap persoalan bangsa. Mereka juga didorong untuk tidak hanya menjadi penonton ketika menghadapi ketidakadilan.

Selain memiliki kompetensi akademik, lulusan perguruan tinggi perlu mempunyai integritas dan kepedulian sosial. Karakter tersebut menjadi bagian penting dalam mempersiapkan generasi menuju Indonesia Emas 2045.

Pembelajaran Kewarganegaraan di UIB juga mendorong mahasiswa memahami perannya sebagai warga negara. Dengan bekal ilmu, karakter, dan tanggung jawab, mahasiswa diharapkan mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.

(Dokumentasi Partisipasi Mahasiswa dalam Sesi Diskusi Pertemuan 14)

Siapkan Masa Depan Bersama UIB

Ingin kuliah di lingkungan yang tidak hanya mengembangkan kemampuan akademik, tetapi juga membangun karakter, kepemimpinan, dan kepedulian sosial?

Jadilah bagian dari Universitas Internasional Batam dan persiapkan langkahmu untuk memberikan dampak bagi Indonesia. Daftar sekarang melalui pendaftaran.uib.ac.id dan mulai perjalananmu bersama UIB!

Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Universitas Internasional Batam

Baloi-Sei Ladi, Jl. Gajah Mada, Tiban Indah, Kec. Sekupang, Kota Batam, Kepulauan Riau 29426
(0778) 7437111
Temukan kami

Telusuri